Sekolah gratis, Jakarta bebas banjir, tiada lagi kemacetan, tariff rumah sakit
yang terjangkau, ibukota aman dari para preman kriminalis, tingkat pengangguran
rendah, de el el… semuanya cuman bualan semata bila tidak ada yang namanya :
deadline waktu ! Apakah dalam 100 hari sang cagub yang terpilih nantinya berani
menanggung resiko diturunkan dari jabatannya bila janji2 tersebut tidak
terlaksana ?
Iklan dan spanduk kampanye hanya sindiran, saling ledek, dan sekedar
menjatuhkan citra kubu lawan dengan cara norak. Selama ini mereka kampanye
terpisah, sendiri-sendiri. Gimana kalau dibikin debat terbuka, biar kita bisa
menilai apa bedanya calon yang satu dengan yang lain ?
Kok, media massa masih “malu2” sich membuat berita investigasi soal aliran
dana kampanye pilkada ini ? Untuk sementara rakyat dibuai oleh mimpi gombal,
dikasih kaos, disodori duit, diajak goyang2 para artis, dan akhirnya
“dikerjain” lagi setelah tampuk kekuasaan diraih. Apa kejadian ironis ini musti
terulang terus ?
NB : ternyata sebagai tuan rumah final Piala Asia 2007 nggak malu-maluin,
stadionnya saya lihat lumayan penuh meski beberapa diantaranya hasil
“sumbangan” duit supporter Arab, yg meski demikian akhirnya banayakan ngedukung
Irak J
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
Answers