http://www.berpolitik.com/news.pl?n_id=6623&c_id=21&g_id=290

Senin, Jul 30, 2007 13:30
Gempuran Berikutnya Untuk Adang-Dani: Tidak Beretika
 - berpolitik.com


  * (berpolitik.com):* Kampanye Pilkada Jakarta mulai sengit. Akan tambah
seru jika kedua kandidat mulai memperdebatkan rencana lawan dalam membangun
Jakarta lima tahun ke depan.

SETELAH dibombardir dengan isu ingin menegakkan Syariat Islam, pasangan
Adang-Dani tampaknya bakal dihujani dengan tudingan tak beretika.
Pembingkaian ke arah itu mulai terlihat dari sejumlah rilis yang
dikumandngkan pihak Fauzi-Bowo dua hari terakhir ini.

Pembingkaian tak beretika ini sepertinya hendak mengaitkan memori publik
dengan kejadian sebelumnya dimana ada anggota PKS yang ditengarai telah
membawa lari Daftar Calon Tetap Pilkada Jakarta. Jembatan penghubung yang
dipakainya adalah adanya seorang pelaku yang tertangkap tangan tengah
menurunkan spanduk bergambar Fauzi-Prijanto. Pelaku ini ditengarai merupakan
orang suruhan salah satu tim sukses Adang-Dani.

Selain itu, tim sukses Fauzi-Prijanto juga menyoal adanya serbuan oleh massa
kampanye Adang-Dani ke markas besar mereka di bilangan Diponegoro, Jakarta
Pusat. Mereka menyatakan, tindakan massa pendukung Adang-Dani sebagai
sesuatu yang melecehkan dan tidak memberikan pembelajaran politik ke warga.

Tim Adang-Dani jelas tak terima dengan tudingan ini. Mereka kabarnya bakal
menuntut tim kampanye Fauzi-Prijanto dengan tuduhan telah mencemarkan nama
baik. Ini terkait dengan pengakuan pelaku pencopot spanduk Fauzi-Prijanto
dihadapkan Panwasda. Menurut pelaku, dirinya dipaksa tim Fauzi-Prijanto
untuk mengakui bahwa pencopotan itu dilakukan atas suruhan tim Adang-Dani.
Padahal, menurut dia, pencopotan itu sejatinya merupakan inisiatif dirinya
sendiri karena motif ekonomi (dijual).

Tim Adang-Dani juga menyampaikan bantahan bahwa pihaknya telah menyerang
kantor pemenangan Fauzi-Prijanto. Kata mereka, massa yang tampak bergerombol
di depan kantor Fauzi-Prijanto sebenarnya tengah terjebak kemacetan lalu
lintas. Arak-arakan massa itu tengah dalam perjalanan menuju lokasi
kampanye.

*Meredam Spanduk Adang-Dani?*
Apa sasaran dari pembingkaian ini? Jika menilik rangkaiannya, pembingkaian
kampanye Adang-Dani sebagai pasangan tak beretika sepertinya untuk meredam
gempuran spanduk-spanduk relawan oranye yang isinya memang langsung menohok
ke Fauzi Bowo dan partai pendukungnya.

Spanduk-spanduk yang berbunyi antara lain *"Banyak partai=banyak
kepentingan=banyak tagihan=..oh seram"*, *"Hasrat kuasa nan membawa,
birokrat pun dibawa-bawa"*, *"John Travolta makan kue cucur, Jakarta Makin
ancur. Ahlinya Kemane?", "*,*Makan Kerang di Sumur Batu, Lu Curang gaya Orde
baru"* rupanya telah membuat merah kuping Fauzi dan para pendukungnya.

Untuk menangkalnya, ada pemberitaan yang menyebutkan warga Jakarta merasa
isi-isi spanduk itu sebagai sesuatu yang ngawur, mendeskriditkan pihak lain
dan mengundang potensi konflik."Ini sudah *black campaign*," seru Arbi Sanit
sebagaimana dikutip Warta Kota (30/7). Namun dalam sebuah blog
(*Andin*<http://alveta.blogspot.com/>),
slogan-slogan dalam spanduk relawan oranye dinilai lebih asyik ketimbang
spanduk-spanduknya Fauzi-Bowo yang dibilanngya "jadul".

Tapi bagi tim Fauzi-Prijanto, spanduk-spanduk tersebut dinilai provokatif,
bisa menimbulkan konflik dan mengundang masalah hukum. Tak heran jika
beberapa hari sebelumnya Sutiyoso juga menyerukan agar kedua belah pihak
tidak saling ejek karena hal itu bisa mengundang konflik horizontal.

Bagi Adang-Dani, desakan Sutiyoso ini tak ubahnya buah simalakama. Jika
dituruti, mereka dipastikan bakal kehilangan amunisi untuk menggempur
Fauzi-Bowo. Apalagi, spanduk-spanduk relawan oranye sepertinya memang
diarahkan kelompok pemilih muda yang lebih terbuka dalam berpikir dan
bersikap. Namun, jika tak dituruti, tudingan tak beretika dipastikan bakal
terus digulirkan.

*Berejek-ejeklah Soal Kebijakan Publik*
Di lain pihak, seruan agar tidak saling ejek yang dilontarkan Sutiyoso
sebenarnya tak relevan. Yang namanya kampanye politik, saling mengejek pihak
lawan bukanlah pantangan. Apalagi, kalau subtansi ejekan itu terkait dengan
posisi kebijakan dalam pembangunan Jakarta.

Dapat dibayangkan, serunya, jika Fauzi-Prijanto merespon kontrak politik
yang dibuat Adang Dani dengan JRMK dan UPC. Dalam kontrak politik itu,
Adang-Dani berjanji akan melakukan moratorium penggusuran kampung-kampung
miskin, setidaknya dalam 5 tahun ke depan (baca isi kontrak politik ini
selengkapnya: di
sini<http://www.berpolitik.com/news.pl?n_id=6622&c_id=4&g_id=5%3Cu>).


Fauzi-Prijanto bisa saja melabel Adang-Dani sebagai "pahlawan kesiangan",
"pelestari kemiskinan" atau pula "penjual kemiskinan" dan sekaligus
menunjukkan apa yang mereka akan lakukan sebagai ahlinya untuk menata
pemukiman kumuh tersebut. Sebaliknya, jika Fauzi tak juga merespon,
Adang-Dani bisa mulai mengkampanyekan Fauzi-Prijanto sebagai "si tukang
gusur", misalnya.

Dalam hal kontrak politik, Adang-Dani memang cukup agresif. Mereka juga
membuat kontrak politik dengan kalangan budayawan Betawi yang diwakili oleh
Aceng Mulyadi dari Bamus Betawai. Intinya, mereka berjanji akan membangun
Pusat Kebudayaan Betawi.

Kontrak politik ini bisa menjadi amunisi Dani Anwar untuk menunjukkan bahwa
dirinya yang lebih sungguh-sungguh memperjuangkan aspirasi warga Betawi yang
selama ini dianggap termarginalkan. Tapi, Fauzi-Prijanto juga bisa
menggunakan kontrak politik ini untuk menunjukkan bahwa mereka lebih punya
orientasi kebangsaan (sesuai isi spanduknya "Jakarta Untuk Semua") atau
membuat bantahan bahwa Fauzi selama menjabat sebagai birokrat tidak lalai
memperhatikan aspirasi warga Betawi.

Juga soal banjir. Ketimbang mempersoalkan isi spanduk yang berbunyi *"Jurangan
onta pasti tajir, Ngurus Jakarta kok Banjir"*, Fauzi Bowo semestinya bisa
menjelaskan mengapa pemda masih gagal mengatasi banjir di ibukota dan apa
yang akan dilakukannya untuk mencegah hal itu terulang lagi pada tahun-tahun
mendatang.

Sudah nasib *incumbent* bakal diserang kinerjanya, tapi menjadi takdir
penantang untuk menyerang *incumbent*. Namanya juga kampanye politik, bukan
kampanye-kampanyean seperti di jaman orde baru dulu.

*Bukan begitu, bang?*

Kirim email ke