Saya suka komentarnya Bapak. Menambah wawasan dan pencerahan bagi saya ...yang 
masih belajar tentang toleransi dalam islam....:)

Terima kasih...
irma


  ----- Original Message ----- 
  From: Al-Mahmud Abbas 
  To: [email protected] 
  Sent: Monday, July 30, 2007 6:37 PM
  Subject: Re: [mediacare] Re: Faktor Islam




  Amin..amin..amin.. faham yang sering kali menghalalkan untuk merasa bener 
sendiri itulah bumerangnya. Fanatisme itu bukan untuk dipaksakan kepada orang 
lain atupun sekedar untuk melindungi kelompok (tanpa peduli oknum yang 
dilindungi/dibela itu benar atau salah), harus tetap disadari bahwa dalam alam 
sosial ada kebenaran universal, nilai-nilai umum yang tidak secara frontal 
bertentangan dengan nilai Islam. Hidup berdampingan secara damai dengan umat 
agama lain juga harus ditekankan sehabis-habisnya tanpa harus takut kehilangan 
umat hanya dengan berkurangnya jamaah. Memahami bahwa keberagamaan setiap orang 
adalah hak orang itu sendiri dan Allah SWT yang menentukan. Tidak ada yang 
pernah mengIslamkan orang lain kecuali karena ridho Allah SWT, kalau pemahaman 
dan penerapan Islam itu simpatik dan menarik tidak usah capek2 kesal hati 
dengan berpindahnya seseorang kepada agama lain. Justru dengan jumlah yang 
sedikit dan tetap memberikan kontribusi kebajikan untuk peradaban sosial itulah 
yang lebih bermutu, dari pada jumlahnya banyak tapi korupsi juga meraja lela 
tanpa merasa berdosa atau menyesali kenapa ajaran Islam tidak bisa membuat 
pribadi-pribadi yang tidak gampang terseret napsu ? 
  Beragama bukan bertujuan untuk menang-menangan jumlah umat, tidak ada gunanya 
mayoritas beragama Islam seperti Indonesia tetapi peran/kontribusinya untuk 
memperbaiki satu hal = SOAL KORUPSI =pun tidak bisa. Yang penting bukan 
militansinya untuk berani melabrak tempat-tempat maksiat atau panti-panti 
pijat, tetapi mendalami filsafat agama dan mengisi batin umatnya agar tidak 
terseret ke dalamnya. Begitupun dengan KORUPSI dan lain-lain penyakit sosial, 
akarnya adalah pemahaman keberagamaan yang amat sangat dangkal. Agama hanya 
dipahami sebatas soal surga dan neraka, soal halal dan haram, soal mnafaat dan 
mudharat, soal hitam dan putih, sementara persoalan sosial tidak sesederhana 
itu. Pengembangan pemahaman ajaran untuk lebih relevan dengan realitas 
kehidupan sangat kurang atau mungkin tidak populer/tidak laku, kelompok2 
mederat seperti Utan Kayu-nya bang Ulil justru diusir dan dicaci maki, yang 
lebih laku dan gampang diikuti adalah yang semacam MMI, FPI, dll.. yang 
aktivitasnya sangat tidak intelek. 
  Kenapa ??? Gampang dilakukan, hanya perlu modal nekat, ngikut saja apapun 
yang diperintahkan 'ketuanya', dan (konon) oleh ketuanya dijanjikan PAHALA yang 
amat besar kelah di akhirat. Bahkan bisa menyelamatkan berapa puluh familinya 
kalau mati syahid. 
  Pemahaman yang dalam dan menguatkan bathin banyak dijauhi, karena terlalu 
sulit dipahami, buang-buang waktu, terlalu lama untuk melihat 
hasil/perubahannya dan PAHALAnya tidak jelas.

  Oleh sebab itu, tidak heran kalau seperti yang dikatakan bung Marthajan "no 
common enemy, let's fight each other". Kapan bisa terbebas dari faham seperti 
itu ? Wallahu'alam bisawab, melihat bahwa pemahaman yang kacau balau sudah 
demikian merambah ke segenap pikiran orang dengan isi kepala yang berbeda dan 
kompleksnya permasalahan yang demikian sulit untuk memilah/mengurai 
kekusutannya, maka saya hanya bisa bilang MUSTAHIL kecuali seluruh umat Islam 
sedunia sepakat menghargai umat beragama lain dimanapun mereka berada tanpa 
pernah melakukan kalkulasi matematis bahwa umatnya "dikurangi" (atau lebih 
'keren'nya DIMURTADKAN) oleh umat beragama lain. Dengan demikian biasa 
menghargai pemahaman orang lain dan biasa tidak mudah tersinggung, tidak mudah 
gusar, tidak gampang mengancam orang lain, tidak mudah membuat 'judgement' 
apalagi menghalalkan darang orang lain yang belum tentu salah. 

  Wassalam.




   
  On 7/30/07, marthajan04 <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
    Kalau menurut saya, ajaran "Persaudaraan sesama islam" inilah yang 
    salah. Persaudaraan seharusnya bukan antar satu umat saja tapi 
    persaudaraan antar umat manusia seluruhnya. Yang benar dibela 
    walaupun bukan sesama umat dan yang salah disadarkan bukannya dibela 
    walaupun sesama islam.

    Tanpa sadar, "persaudaraan sesama islam" mengajarkan "permusuhan 
    diluar umat islam".
    Lama2 kebiasaan bermusuhan ini akan menjadi bumerang, bila tidak ada 
    lagi musuh luar, akan mencari musuh didalam yang bukan segolongan. 
    Makanya, ketika musuh non islam sudah tidak bisa lagi dimusuhi, maka 
    jiwa bermusuhannya ini tidak akan puas nganggur. "gatal" istilah 
    kerennya. dicarilah musuh dalam kelompok.
    islam shiah musuhan sama sunni. 
    muhamadiyah musuhan sama ahmadiyah.
    Suatu saat kalau ini sudah bosan, atau salah satu sudah kalah/lenyap, 
    maka yang survivepun akan berantem lagi didalam. 

    Jadi, ajaran "Persaudaraan dalam islam" itu adalah biang kerok 
    permusuhan dalam islam sendiri. Bukan persaudaraan yang didapat malah 
    kehancuran.

    mj 



    --- In [email protected], "Sunny" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
    >
    > http://www.gatra.com/artikel.php?id=106290
    > 
    > 
    > Faktor Islam 
    > 
    > Dalam sebuah kuliah di Universitas Chicago awal 1980-an, guru saya, 
    almarhum Fazlur Rahman, pernah mengeluhkan tentang betapa carut-
    marutnya dunia Islam. Sampai-sampai terlontar ucapan ini: "We live in 
    a different kind of Islam, not in a Qur'anic Islam (Kita hidup dalam 
    sebuah Islam yang lain, bukan Islam Qurani.)"
    > 
    > Pernyataan itu sering saya ulang di berbagai forum untuk 
    menunjukkan betapa jauhnya rentangan jarak antara cita-cita Al-Quran 
    tentang persaudaraan dan realitas umat yang berkeping-keping. Kita 
    ambil contoh tentang betapa sulit dan rumitnya umat Islam menggalang 
    semangat persaudaraan yang begitu tegas dan tajam diperintahkan Kitab 
    Suci. Tengoklah contoh yang masih hangat di Irak dan Afghanistan yang 
    tercabik-cabik oleh berbagai faksi dan golongan.
    > 
    > Tengoklah faksi Fatah dan faksi Hamas yang menembakkan peluru untuk 
    saling membunuh. Tengok pula negeri-negeri muslim di mana 
    persaudaraan inter-umat sering benar terkoyak. Umumnya faktor 
    politiklah yang menjadi pemicu utama mengapa umat ini masih saja 
    sempoyongan berjalan di muka bumi.
    > 
    > Kita tentu boleh dan sah saja membidik pihak lain sebagai kekuatan 
    yang mengadu domba kita sesama muslim. Tetapi hendaklah senantiasa 
    diingat bahwa pihak asing itu hanyalah mungkin mengacaukan barisan 
    kita yang memang sudah dalam keadaan kacau. Ketika umat sedang 
    diracuni oleh proses pembusukan yang parah dari dalam, ketika itu 
    pulalah musuh luar semakin bergairah melemahkan, jika bukan 
    menghancurkan kita, kemudian "merampok" kekayaan kita.
    > 
    > Kita sering benar tak berdaya. Apalagi beberapa negeri muslim 
    memang punya daya tarik besar bagi pihak asing berupa kekayaan bumi 
    yang dahsyat: minyak, batu bara, emas, dan perkayuan. Semuanya ini 
    sangat menggoda dunia, khususnya minyak yang hampir 70% berada di 
    bumi muslim.
    > 
    > Tetapi, mengapa sebagian besar negeri muslim tetap saja menderita 
    dan miskin, sementara sedikit yang lain makmur? Jawabannya sederhana: 
    rasa kesetiakawanan kita masih rapuh. Ada tetesan bantuan sekadarnya 
    di sana-sini untuk bangsa miskin, tetapi tidak untuk memberdayakan, 
    hanya sekadar tidak mati kelaparan.
    > 
    > Itulah sebabnya, mengapa kepiluan kita terasa amat dalam dan 
    menghunjam karena melihat kekayaan itu tidak semakin mendekatkan hati 
    sesama muslim untuk saling membantu, malah semakin menjauhkan. Tidak 
    jarang senjata minyak telah dijadikan alat oleh negeri-negeri muslim 
    yang kaya untuk menekan dan memaksa bangsa muslim lain untuk tunduk 
    ke bawah duli hegemoninya, demi politik kekuasaan.
    > 
    > Dalam perjalanan sejarah umat, faktor Islam sebagai perekat 
    persaudaraan sering benar diabaikan, sepertinya Islam tidak dapat 
    diandalkan lagi untuk mempertemukan kita. Yang lebih ironis lagi 
    adalah kenyataan, tidak jarang sebuah negeri muslim kaya minyak malah 
    menyerahkan pundi-pundinya untuk "diperas" pihak asing yang jelas 
    tidak rela melihat Islam muncul sebagai kekuatan yang turut 
    menentukan perjalanan peradaban global.
    > 
    > Anehnya, yang diperas merasa dilindungi. Kawasan Asia Barat yang 
    kaya itu sudah agak lama berada di bawah pengaruh kuat Amerika, 
    sementara retorika politik mereka mengatakan anti-dominasi asing. 
    Alangkah tidak seronoknya pertunjukan ini!
    > 
    > Dalam pada itu, perlu pula dicatat bahwa kesadaran untuk saling 
    membantu sesama umat Islam terasa lemah dari waktu ke waktu. Kita 
    memang hidup dalam sebuah Islam yang lain. Bukan Islam otentik, bukan 
    Islam yang diajarkan Nabi, kecuali dalam bentuk-bentuk ritual yang 
    sarat simbol serimonial, tetapi seringkali telah menjadi tunamakna. 
    Nyaris tidak terlihat korelasi signifikan antara simbol dan perilaku 
    kita sesama bangsa muslim. Cita-cita Al-Quran tentang persaudaraan 
    imaniah kita campakkan begitu saja ke dalam limbo sejarah.
    > 
    > Engkau Mahatahu, ya Allah, sampai berapa lama kondisi tidak menentu 
    ini akan berlangsung. Hamba-hamba-Mu yang baik tentu masih ada, 
    tetapi alangkah tidak berdayanya mereka. Mereka tak henti-hentinya 
    berdoa, tetapi masih berkenankah Engkau memberi jawaban? Engkau 
    melarang kami berputus asa, betapapun pahit dan getirnya perasaan 
    kami. Dan kami memang tidak akan berputus asa.
    > 
    > Firman Engkau dalam surat Yusuf ayat 110 yang maknanya 
    berbunyi: "Sehingga manakala para rasul tidak punya harapan lagi dan 
    mengira bahwa mereka telah didustakan, (barulah) datang pertolongan 
    Kami, lalu diselamatkan siapa yang Kami kehendaki; sedangkan siksaan 
    Kami tidak bisa ditolak oleh para pendosa" memberi isyarat kepada 
    kami untuk terus berbuat sambil menunggu datangnya pertolongan-Mu, 
    demi menginsafkan kami semua yang telah larut dalam dosa dan dusta.
    > 
    > Kami tidak akan berpaling sampai Islam datang menjadi faktor 
    penentu untuk mempertautkan kembali hati dan jiwa kami yang masih 
    berserakan, berantakan! Mohon jeritan ini Engkau dengarkan, ya Allah! 
    > 
    > Ahmad Syafi'i Ma'arif
    > Guru besar sejarah, pendiri Ma'arif Institute, Jakarta
    >







   

Kirim email ke