Refleksi: Mengapa baru sekarang terkejut dengan permen dari Tiongkok? Apakah 
sebelumnya tidak terkejut dengan berita formalin  dipakai sebagai bahan 
pengawet bahan  makanan di Indonesia?

http://www.suarapembaruan.com/News/2007/07/31/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 
TAJUK RENCANA I

Generasi Penerus Terancam 

Kita tentu terkejut dan layak marah mengetahui adanya kandungan formalin di 
produk permen, manisan, dan obat-obatan impor dari Tiongkok. Formalin yang 
sejak lama kita kenal sebagai bahan pengawet mayat itu sangat berbahaya bagi 
kesehatan, antara lain bisa menyebabkan penyakit asma, kulit, mata, pencernaan, 
saraf, hati, ginjal, kanker, sampai organ reproduksi. 

Anak-anak sangat menyukai permen, dan beberapa merek permen impor itu sudah ada 
di negeri ini sejak 25 tahun lalu. Bisa dibayangkan, puluhan juta anak 
Indonesia telah "diracuni" permen berformalin. Anak-anak yang sekarang sudah 
remaja dan dewasa tentu berpotensi terkena dampak permen maut itu. Ini berarti 
jutaan orang Indonesia sangat ringkih dan rentan daya tahan tubuhnya. 

Timbul pertanyaan, mengapa sekian lama permen dan makanan berformalin itu bisa 
beredar dengan bebas di super market, warung, sampai penjaja jalanan hampir di 
seluruh Tanah Air. Bagaimana tanggung jawab pemerintah jika warga benar-benar 
teracuni permen sampah itu. Sudah selayaknya masyarakat menuntut pemerintah 
yang tidak bekerja serius melindungi rakyatnya. 

Jutaan anak Indonesia memang bernasib menyedihkan. Kemiskinan menyebabkan 
mereka kekurangan gizi. Tak adanya perhatian dan perlindungan menyebabkan 
anak-anak itu dengan mudah mengkonsumsi jajanan yang tidak bergizi bahkan 
berbahaya, termasuk makanan yang memakai zat pewarna tekstil dan formalin. 
Sungguh malang anak-anak kita, sudah kekurangan gizi, diracuni pula. 

Di Tiongkok, pejabat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang membuat 
kesalahan fatal langsung diadili dan dieksekusi mati. Di Indonesia, pejabat 
BPOM, Departemen Perdagangan, Departemen Kesehatan, Bea Cukai, dan pejabat yang 
bertanggung jawab terhadap masuk dan beredarnya barang berbahaya, bisa 
tenang-tenang dan bebas dari sanksi dan hukuman. 

Beginilah nasib negara kaya sumber daya alam yang kecanduan produk impor. 
Segala sesuatu diimpor. Barang murah meriah dari Tiongkok dibiarkan masuk tanpa 
kontrol. Barang-barang yang berbahaya pun dengan mudah sampai ke tangan 
anak-anak kita. Tak ada pengawasan, tak ada informasi. Inilah potret negeri 
yang birokrasinya amburadul dan tak peduli terhadap rakyat jelata. 

Kita seharusnya merasa miris, karena anak-anak kita yang lugu itu harus 
menanggung kecerobohan para pejabat yang kebanyakan hanya memikirkan diri 
sendiri, kantong sendiri, dan membutakan diri. Rokok, misalnya, sampai detik 
ini dibiarkan merajalela sampai ke sudut-sudut desa. Anak-anak dibiarkan 
diracuni tembakau yang jelas-jelas sangat berbahaya bagi kesehatan. 

Orang tua dari kalangan miskin tentu tak berdaya menghadapi serbuan permen dan 
manisan impor berformalin serta rokok yang promosinya sungguh luar biasa. Kita 
bisa melihat bagaimana anak-anak sekolah dasar pun mulai akrab dengan rokok. Di 
mana-mana, pelajar sekolah menengah pertama dan atas dengan bebas membeli dan 
mengisap rokok. Rokok dianggap seperti permen. 

Pemerintah seharusnya serius melindungi anak-anak dan remaja di seluruh Tanah 
Air. Negara jangan hanya menyibukkan diri dengan urusan politik semata-mata. 
Pemerintah juga jangan kebanyakan melakukan kegiatan-kegiatan yang muaranya 
hanya sekadar aksi tebar pesona demi menarik simpati konstituen. 

Di Jakarta dan di daerah banyak orang membuang waktu hanya untuk berpolitik, 
yang ujung-ujungnya hanya berebut jabatan dan duit. Sementara jutaan anak 
dibiarkan mengkonsumsi barang beracun yang merusak tubuh, saraf, dan jiwa. 
Sungguh masa depan yang makin suram. Kini saatnya kita melakukan hal konkret 
melindungi generasi penerus bangsa. 


Last modified: 31/7/07 

Kirim email ke