RETROSPEKSI IWAN TIRTA 
"Tandhing Gendhing"
(A Battle of Wits)

Sebuah retrospeksi terhadap batik klasik yang dipersembahkan melalui Opera 
Klasik Jawa.

Solo - Jum'at 3 Agustus 2007, Teater Kecil ISI Surakarta 19.30 WIB
Surabaya - Rabu 8 Agustus 2007, Taman Budaya Cak Durasim Surabaya 19.30 WIB
Yogyakarta - Sabtu 11 Agustus 2007, Benteng Vredeburg 19.30 WIB
Jakarta - Selasa, Rabu 21 & 22 Agustus 2007, Graha Bhakti Budaya TIM 20.00 WIB
Cirebon - Sabtu 25 Agustus 2007, Hotel Prima Cirebon 19.30 WIB
Pekalongan - 5 September 2007, Gd. Rumah ex Residen Pekalongan 19.00 WIB


Dipersembahkan oleh GELAR
didukung oleh Culture & Nation Campaign Series Ikatan Keluarga Besar (IKB) 
Returnee AFS dan Indonesia Cross-Cultural Center (IC3)

Setelah di bulan Desember 2006 lalu sukses menggelar hasil karya dan koleksi 
kain klasiknya pada publik terbatas di The Dharmawangsa, sang maestro batik 
Iwan Tirta, kini berencana untuk memamerkan koleksi batik klasiknya kepada 
publik yang lebih luas melalui serangkaian tour ke beberapa kota yaitu Solo, 
Surabaya, Yogyakarta, Jakarta, Cirebon dan Pekalongan di bulan Agustus 
mendatang. Kain batik yang akan dipamerkan adalah batik klasik yang masih akan 
dipergelarkan melalui medium seni pertunjukan klasik Jawa.

Mengapa Opera Jawa? :
SEBUAH DIALOG KE MASA LAMPAU
Tidak sebagaimana biasanya sebuah peragaan adibusana yang menggunakan para 
model yang berjalan di atas catwalk, koleksi batik klasik Iwan Tirta 
diperagakan oleh para penari klasik tradisional Jawa melalui sebuah opera 
klasik tradisi yang juga merupakan mahakarya dari para maestro seni pertunjukan 
klasik tradisional Jawa warisan masa lampau.

Alasan utama untuk menggelar peragaan adibusana melalui format opera - seni 
pertunjukan klasik yang menggabungkan seni tari, akting dan olah vokal ini, tak 
lain adalah karena ekspresi keanggunan, keagungan dan keindahan akan muncul 
jika batik diletakkan dalam satu kesatuan estetika yang terbingkai dalam 
konteks kebudayaan yang melahirkannya. Yang mana, ekspresi tersebut boleh jadi 
tidak akan 'muncul' jika dipamerkan dalam bentuk peragaan busana biasa yang 
terlepas dari akar tradisinya.

Pergelaran ini merupakan perwujudan dedikasi untuk senantiasa mengeksplorasi 
hubungan antara tradisi dan inovasi dalam mengembangkan kekayaan seni budaya 
Indonesia. Retrospeksi batik klasik Iwan Tirta ini, tak ubahnya sebuah dialog 
para maestro seni rupa dan seni pertunjukan lintas masa.

PERPADUAN BATIK, KERIS, DAN WAYANG 
Opera klasik Jawa yang akan mengambil cuplikan dari kisah pewayangan epik 
Mahabharata ini tak lepas dari sentuhan para pekerja seni klasik tradisional 
yang handal di bidangnya masing-masing : koreografer, komposer, dan musisi. 
Juga didukung profesional dalam dunia desain dan seni pertunjukan mulai dari 
produser, stage manager, stage & lighting designer, graphic designer, 
fotografer, dan masih banyak lagi. Mereka memiliki kesamaan hasrat untuk dapat 
mengeksplorasi kekayaan tradisi - yang kini kian langka dipergelarkan - melalui 
karya-karya Iwan Tirta yang terinspirasi dari warisan tradisi. Dalam tradisi 
Jawa, satu bentuk seni terkait dengan bentuk seni lainnya. Batik, wayang, 
keris. Ketiganya tak terpisahkan, dan merupakan sebuah totalitas antara seni 
rupa dan seni pertunjukan

Format opera (dalam bahasa Jawa biasa disebut dengan langendriyan) seperti ini, 
menuntut kemampuan teknik yang sangat tinggi meliputi tari, olah vokal dan 
kemampuan akting. Dialog akan dilantunkan dalam bentuk tembang (lagu) sehingga 
tentunya juga menuntut teknik vokal yang prima dari para penari. Di sisi lain, 
pemilihan penari dilakukan melalui proses audisi yang ketat. Selain memiliki 
kemampuan teknis yang prima, mereka pun harus memiliki postur tubuh yang cocok 
untuk memperagakan adibusana dan kain batik klasik Iwan Tirta. Ditarikan oleh 7 
orang penari laki-laki dan 2 orang penari perempuan, koreografi ini akan 
diiringi oleh orkestrasi gamelan dengan komposisi musik yang diolah dari 
repertoire klasik tradisional Jawa. Koreografi dan sekaligus 
penyutradaraanTanding Gendhing ini digarap oleh Wasi Bantolo, koreografer muda 
berbakat yang selama dua tahun terakhir mengajar sebagai visiting Professor di 
University of Michigan dan University of Wisconsin, Amerika Serikat. Untuk 
penataan musik, digarap oleh komposer karawitan senior, Blacius Subono. 

Keindahan kain batik klasik koleksi Iwan Tirta ini akan diperkuat dengan 
keindahan keris koleksi Haryono Haryoguritno dan Museum Pusaka. Dimana, setiap 
keris yang dipamerkan sebagai properti setiap penari disesuaikan dengan 
penokohan / karakter. Penampilan opera ini juga tidak terlepas dari peran Ibu 
KRAy. Maktal Dirdjodiningrat selaku pakar busana tradisional Jawa khususnya 
dari Keraton Surakarta. 

"TANDING GENDHING" 
Sebuah Interpretasi Terhadap Tema Anti -War 
Opera klasik Jawa bertajuk "Tanding Gendhing" ini merupakan rangkuman kisah 
hidup Wangsa Bharata dalam epik Mahabharata. Dengan mengetengahkan tokoh-tokoh 
sentral yaitu : Kresna, Sengkuni, Duryudana, Bima, Arjuna, Karna, Bisma, Kunthi 
dan Gendari, kisah yang mengambil setting masa pra Bharatayudha ini akan 
mengangkat konflik kehidupan yang ada di antara keluarga Pandawa dan Kurawa. 
Meski lakon ini berujung pada perang Bharatayudha, namun penggarapan 
naskah/skenario diinterpretasi ulang dengan semangat anti-war yang akan 
terekspresikan dalam dialog diplomasi antara tokoh Kresna sebagai negosiator 
dari pihak Pandawa, dan Sengkuni dari pihak Kurawa. "Tanding Gendhing" akan 
digarap dengan gaya bedhayan yang minimalis, namun sarat dengan simbol-simbol. 
Selain ke-sembilan penari tersebut memerankan karakter tokoh tertentu, dalam 
saat yang bersamaan sangat dimungkinkan dapat melebur dan beralih fungsi untuk 
memperkuat suasana maupun menarikan simbolisasi cerita.

Latar Belakang Konsep Garapan
Langendriyan adalah salah satu bentuk teater tari tradisional yang memiliki 
posisi penting pada masanya. Langendriyan diciptakan pada masa abad ke 18 di 
Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Raden Mas Haria Tandakusuma, 
menantu dari Mangkunegara IV (1853-1881) menciptakan versi Surakarta, sementara 
Raden Tumenggung Purwadiningrat dan Pangeran Mangkubumi menciptakan versi 
Yogyakarta (1876). Langendriyan diiringi dengan orkestra gamelan, dimana dialog 
para pemain menggunakan tembang. Langendriyan memiliki tingkat kesulitan yang 
tinggi, sehingga menuntut kemampuan yang prima dari seniman pendukungnya, mulai 
dari olah tari, vokal hingga kemampuan teater. Bentuk tarian pria berangkat 
dari bentuk Wireng (tarian perang), salah satu jenis tari yang lazim di 
Kasunanan Surakarta, yang mana hanya ditarikan oleh pria. Wireng memiliki jenis 
dan ragam yang bermacam-macam, namun secara garis besar dapat dikelompokkan 
menjadi dua macam, yaitu wireng beksan dugangan seperti tari Bandabaya, dan 
wireng beksan alusan seperti tari Dhadap Karno Tinanding. Wireng sudah mulai 
jarang ditarikan, dan kini dapat disebut sebagai salah satu bentuk tarian yang 
langka.


--------------------------------------------------------------------------------

Iwan Tirta pengarah artistik - Wasi Bantolo koreografi, sutradara & naskah - 
Blacius Subono penata musik - Iskandar K. Loedin penata cahaya & artistik 
panggung - Totom Kodrat penata suara - Haryono Haryoguritno penasehat artistik 
penataan keris - Elly D. Luthan penasehat artistik koreografi - KRAy. S. 
Dirdjodiningrat penasehat artistik penataan busana - Retno Hemawati, Sodikin 
ass. produser - Sandiantoro, Fafa Utami, Y. Vikocheno co produser - Bram & 
Kumoratih Kushardjanto produser

Wasi Bantolo, Samsuri, Jeanie Park, Indriani Gunawan, Ali Marsudi, Agus 
Prasetyo, Agung Kusumo, Bobby Ary Setiawan, Danang Cahyo Wijayanto penari

----------------------------------------------------------
Dipersembahkan oleh GELAR
didukung oleh CULTURE & NATION Campaign Series
Ikatan Keluarga Besar (IKB) AFS dan Indonesia Cross-Cultural Center (IC3)

Ticket Information :
SOLO Fafa (0812-2627611)
SURABAYA Imago Design & Creative House (031-5039747) 
YOGYAKARTA Majalah Gong (0274-547853) / Pipin (0812-2742458)
JAKARTA GELAR (021-7208270) / Pusaka Iwan Tirta (021-3143122) / GBB-TIM 
(021-3140554) / QB World Kemang (021-7180818) 
CIREBON Hotel Prima Cirebon (0231-205411)

Kirim email ke