Kita harus syukuran nasional karena kita jelasjemelas adalah bangsa yang cinta
damai, walaupun sekali-kali bedil dan parang ngamuk makan ribuan korban.
Hakikatnya kita cinta damai banget. Lihat saja. Sekarang SBY dan Zaenal
diusulkan damai, SBY dan Amien udah berdamai, pemerintah juga damai-damai aja
sama Soeharto dan keluarganya,
sikap terhadap KKN terutama korupsi juga damai saja, diselingi aksi tebang
pilih buat tebar
pesona. Bangsa kita yang bertradisi luhur juga cepat damai sama semua mantan
penjajah,
begitu Orba mulai kuasa juga cepat banget dame sama para imperial dan
perusahaan gajah, selanjutnya Indonesia damai dan bahagia dengan Freeport,
newmont, Exxon dan sebagainya. RI sekarang juga damai dengan GAM (gerakan Aceh
Merdeka), sangat mungkin akan damai sama RMS (kalau saja cara kibarkan
benderanya lebih sopan, jangan dari dalam pakean dalam dong, tapi dikibar
santun oleh gadis-gadis Maluku manisee). Dengan Sinagpura yang banyak banget
duitnya juga Indonesia ingin damai terus, dame suplai pasir, latihan bersama
lempar roket, para konglomerat hitam dari kita disana hidup sangat damai adil
dan makmur menikmati jarahan yang sangat damai diperoleh dari bangsa kita. Ada
juga harapan akan damai dengan OPM karena kan Indonesia sudah begitu damai
dengan para sponsor mereka, seperti TKI dan TKW harus damai sama tuannya, yaitu
damai antara pembantu dan nyonyanya. Karena sifat sangat cinta damai itu tanpa
susah menyelesaikan seabrek masalah secara transparan, jujur dan adil,
ujung-ujungnya bangsa kita bisa sangat damai hidupnya, yaitu ketika akan damai
abadi setelah kehidupan yang penuh kedamaian. Kan setelah kehidupan didunia,
ada juga kehidupan di akhirat yang damai, pisful, tenang dikelilingi bidadari,
sejuk gak ada sakit, gak ada masalah .. Nirwana, tiada apapun, dameeeee ....
Salam damai, TCh
SUARA PEMBARUAN DAILY
---------------------------------
Yudhoyono-Zaenal Sebaiknya Berdamai SP/Charles Ulag Ketua MPR,
Hidayat Nur Wahid (kiri) menunjukkan dokumen yang diserahkan mantan Wakil Ketua
DPR, Zaenal Ma'arif di Gedung MPR/DPR Senayan, Jakarta, Senin (30/7).
[JAKARTA] Konflik antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan mantan Wakil
Ketua DPR, Zaenal Ma'arif sebaiknya diakhiri. Masih banyak persoalan bangsa
yang lebih fundamental untuk diselesaikan, daripada meneruskan konflik yang
tidak membangun kultur politik yang baik. "Zaenal Ma'arif dan Presiden
Yudhoyono sebaiknya berdamai," kata
pengamat politik, M Qodari, Selasa (31/7) pagi. Imbauan damai juga datang dari
berbagai pihak, seperti Ketua MPR Hidayat Nur Wahid dan Wakil Ketua MPR, AM
Fatwa. "Berdamai sajalah. Tetapi masalahnya, siapa yang harus minta maaf lebih
dulu. Ini kan aksi reaksi. Saya kira, kalau Zaenal minta maaf, lalu Yudhoyono
mencabut gugatan dan memberi maaf, selesai. Tapi apakah Zaenal mau tidak,"
tanyanya. Qodari mengatakan, masih banyak masalah bangsa dan negara yang
dihadapi pemerintah dan elite-elite politik saat ini, seperti persoalan
ekonomi, sosial dan politik lainnya. Konflik yang dilakoni Presiden dan Zaenal
sama sekali tidak membangun kultur politik yang sehat. Data VCD Sementara
itu, data yang diserahkan Zaenal Ma'arif kepada pimpinan MPR, DPR, DPD, dan
Mahkamah Konstitusi (MK), Senin (30/7), yang dia sebut sebagai bukti Susilo
Bambang Yudhoyono telah menikah sebelum masuk Akmil, hanya berupa VCD berisi
kesaksian dari kerabat Presiden. Pada keping VCD terdapat foto
dan tulisan "Pengakuan/Kesaksian Ibu Cica, Kerabat Bapak Lukman Hakim yang
adalah besan SBY". Namun tidak ada berkas-berkas yang secara tegas membuktikan
tudingan mantan Wakil Ketua DPR, yang di-recall partainya karena kasus poligami
itu. Didampingi Tim Pengacara Muslim (TPM), Mahendradatta, Zaenal mengatakan,
penyerahan data itu hanya untuk memperjelas masalah. "Saya serahkan agar
masalahnya jadi jelas, semoga tidak ada lagi bencana di negeri ini," katanya,
saat menyerahkan data pada Wakil Ketua DPD Laode Ida. Selain menyerahkan
data, Zaenal juga menggugat balik Presiden Yudhoyono, Selasa (31/7).
Mahendradatta mengatakan, Zaenal akan balas melaporkan Yudhoyono ke Polda Metro
Jaya, karena telah menuduh Zaenal melakukan fitnah dan pembunuhan karakter.
"Kalau klarifikasi saja dikatakan fitnah, maka tidak ada warga negara yang
meminta klarifikasi," kata Mahendradatta. Sementara Sekretaris Fraksi Partai
Demokrat (FPD) DPR, Sutan Bathoegana, mengatakan bahwa laporan
Presiden ke Polda Metro Jaya sudah tepat. [B-14]
---------------------------------
Last modified: 31/7/07
---------------------------------
Got a little couch potato?
Check out fun summer activities for kids.