Sungguh menyedihkan membaca kabar ini, apalagi pelakunya adalah orang
berpendidikan tinggi, agamis, sekaligus pejabat paling berpengaruh di kota
Depok, Jabar. Pembakaran buku, apapun isinya, adalah termasuk kejahatan!
Ini bisa dijadikan pertanda bahwa PKS identik dengan fasisme, seperti halnya
induknya di Timur Tengah sana. Indonesia ingin dimesin waktukan ke abad 7?
Intinya: Jangan bawa-bawa agama dalam dunia politik kalau tak ingin negeri
ini terkoyak-koyak
Andreas Harsono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
------ Forwarded Message
From: mukti dimas <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Wed, 1 Aug 2007 11:12:59 -0700 (PDT)
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: LAWAN PEMBAKARAN BUKU!!! <--- Sebarkan ke Kawan-Kawan!
LAWAN PEMBAKARAN BUKU!
LAWAN FASISME!
TEGAKKAN DEMOKRASI!!!
Pembakaran Buku dan Politik Iliterasi Oleh: Nurani
Soyomukti, Penulis Buku “REVOLUSI BOLIVARIAN: HUGO CHAVEZ DAN POLITIK
RADIKAL”; berkhidmat di JARINGAN KEBUDAYAAN RAKYAT (JAKER); pendiri Yayasan
Komunitas Teman Katakata (KOTEKA) Jakarta
Belakangan ini panggung budaya kita diwarnai dengan adanya razia buku-buku
sejarah yang dianggap “menyesatkan”. Beberapa waktu lalu, Kejaksaan Negeri Kota
Depok memusnahkan 1.247 buku sejarah kurikulum 2004. Bahkan secara simbolis
pemusnahan buku dengan cara dibakar tersebut dilakukan oleh Kepala Kejaksaan
Negeri Depok Bambang Bachtiar, Walikota Depok Nurmahmudi Ismail, dan Kepala
Dinas Pendidikan Depok Asep Roswanda (Koran Tempo, 21/7.2007).
Berawal pada tanggal 9 Maret 2007, saat Jaksa Agung Muda bidang Intelijen,
Muchktar Arifin dalam konferensi pers mengumumkan bahwa Kejaksaan Agung dengan
SK 19/A/JA/03/2007 tertanggal 5 Maret 2007 telah melarang 13 judul buku
pelajaran sejarah tingkat SMP dan SMA yang diterbitkan oleh 10 penerbit.
Sebagian buku yang dilarang itu merupakan buku pelajaran kelas I SMP. Alasan
pelarangan adalah tidak memuat pemberontakan Madiun dan 1965 dalam buku-buku
itu serta tidak mencantumkan kata PKI dalam penulisan G30S.
Tindakan merazia dan men-sweeping buku yang dianggap melanggar hukum tersebut
terjadi secara meluas di berbagai daerah. Yang perlu dicatat, kejadian semacam
ini bukan pertama kalinya dalam sejarah bangsa kita. Pelarangan, pembakaran,
dan represi terhadap aktivitas menerbitkan buku atau terbitan lain selalu
terulang-ulang. Apalagi, pada saat masyarakat kita saat ini tengah dihegemoni
oleh budaya tonton (terutama didominasi acara sinetron, telenovela, dan gosip),
keberadaan buku sebagai bacaan yang mencerahkan masyarakat begitu tentan untuk
terancam. Pongahnya jaksa agung mengeluarkan larangan tersebut salah satunya
juga karena ketidakpedulian masyarakat terhadap dunia buku dan budaya
baca-tulis, karena budaya tonton bagai penjara yang memasung naluri kritis dan
kesadaran demokrasi.
Kemunduran Budaya Literer
Buku adalah sarana untuk melakukan pencerahan melalui aktivitas literasi. Dunia
literasi adalah dunia di mana semakin banyak orang yang mengenal baca-tulis,
dan lebih jauh lagi menggunakan kemampuan tersebut untuk memahami persoalan
(dan untuk memajukan) bangsanya. Ketika kebebasan literer dipasung, musnahlah
harapan untuk melihat bangsa yang cerdas, melek sejarah, dan menciptakan
masyarakat pembelajar yang merupakan syarat bagi kemajuan suatu peradaban
manusia. Negara yang besar adalah Negara yang menghargai sejarahnya. Negara
yang besar adalah yang masyarakatnya menyukai kebiasaan membaca dan menulis.
Kebiasaan budaya baca dan tulis ini disebut sebagai budaya literer.
Ketidakproduktifan masyarakat Indonesia memang berkaitan dengan sejarahnya.
Sebelum modernisasi masuk, budaya baca-tulis tidak terbangun karena rakyat
hanya menerima dan memberi informasi dan pengetahuan berdasarkan
dongeng-dongeng yang tersebar, yang melekat pada pemahaman yang membodohi
rakyat dan menguntungkan kaealang raja-raja (bangsawan). Melalui dongeng rakyat
harus menerima pemahaman bahwa raja adalah gusti (wakil Tuhan/Dewa), yang harus
dituruti perintahnya. Ini menunjukkan bahwa budaya oral (lisan) di mana budaya
baca-tulis tidak hidup, sebuah masyarakat bukan hanya tidak dapat maju, tetapi
juga diwarnai hubungan penindasan dan penipuan.
Asumsi tentang masyarakat literer dan modernisasi dapat kita pahami dari studi
ilmu-ilmu sosial seperti dalam studi Daniel Learner yang mempelajari tradisi,
transisi, dan modernisasi di enam Negara Timur Tengah. Dalam bukunya The
Passing of Traditional Society: Modernizing The Middle East, Learner menerapkan
asumsi ketat bahwa perbedaan antara masyarakat tradisional, masyarakat
transisional, dan masyarakat modern ditandai oleh akses kepada tulisan atau
aksara (baik buku maupun koran) dan kepada media komunikasi massa lainnya
seperti radio.
Masyarakat modern Indonesia yang dicangkokkan oleh penjajah Belanda melalui
kolonialisme juga dengan sendirinya melahirkan masyarakat literer modern. Untuk
mempercepat eksploitasi kapitalisme, maka harus ada infrastruktur politik dan
budaya yang mendukungnya. Kapitalisme, berbeda dengan feodalisme kerajaan,
membutuhkan masyarakat yang mengenal tulisan dalam tujuannya untuk menciptakan
tenaga kerja yang modern seperti administrasi rasional yang membutuhkan
dokumentasi dan publikasi, pekerja-pekerjanya yang membutuhkan kerja-kerja
menulis (mulai juru ketik hingga akhirnya juga muncul penerbitan-penerbitan
koran dan buku-buku).
Tak diragukan, kemunduran budaya literer barangkali terjadi ketika Orde Baru
bercokol sebagai rejim yang takut pada kata-kata dan suara-suara dari
rakyatnya. Setiap suara kritis dibungkam dan dikambing hitamkan. Membawa buku
ditangkap, menulis ditangkap, dan menerbitkan koran dan majalah juga tidak aman.
Yang menjadi persoalan kemudian, apakah sejak ketuntuhan Orde Baru budaya
literer kita meningkat? Modernisasi pasca-Soeharto membawa lompatan kualitas
modernisasi di bawah payung sistem ekonomi kapitalisme yang bercorak
neoliberal. Basis kebudayaan dihiasi dengan liberalisme, kebebasan untuk
mengontestasikan ekspresi budaya yang salah satunya munculnya banyak penerbit
media cetak baru, salah satunya juga penerbitan buku. Tetapi meragukan apakah
menjamurnya penerbitan tersebut dapat berpengaruh pada cara masyarakat kita
bersikap memandang realitas. Jika banyak orang yang menulis buku, banyak
terbitan, bahkan banyak artis-artis yang menulis buku, ternyata dengan serta
merta budaya literer juga mempengaruhi cara berpikir masyarakat—sebagaimana
jaman pergerakan kekuatan baca-tulis sangat berguna dalam meningkatkan
kesadaran rakyat.
Budaya baca-tulispun masih belum dapat mengalahkan saingannya dalam ranah
budaya, yaitu budaya menonton (TV) yang juga sekaligus meningkatkan budaya oral
seperti semaraknya acara infoteinmen (gosip). Kebiasaan gosip peranh jaya pada
masa kegelapan jaman kerajaan di mana rakyat hanya menerima kabar dan
perkembangan social dari getok-tular mulut dan dongeng. Budaya oral ini lebih
banyak tidak objektifnya dan banyak manipulasinya. Selain itu budaya menonton
tidak memicu produktifitas dan kreatifitas (imajinasi) otak. Berbeda dengan
budaya baca-tulis yang membentuk kualitas pribadi, selain memasok dan
mentransfer pengetahuan dan ideologi.
Masyarakat yang didominasi budaya tonton pastilah hanya memperbanyak generasi
yang berpikir dan bertindak secara—apa yang disebut Herbert Marcuse
sebagai—“satu dimensi” (one-dimensional man). Mereka hanya bisa meniru dan
lahirlah masyarakat permisif dan konsumtif—tidak produktif dan kreatif. Pada
hal, untuk membangun bangsa ini kita butuh manusia yang berkarakter yang punya
gairah untuk memahami persoalan dan memiliki kemauan dan kemampuan untuk
mencipta.
Mau tak mau, masyarakat literer harus dirumuskan pembangunannya. Bagaimana
strateg-taktik untuk menciptakan masyarakat literer tentu saja membutuhkan
perhatian dari berbagai pihak. Pemerintah harus mendukungnya, lembaga-lembaga
pendidikan, penelitian, dan penerbitan memiliki peran yang strategis. Selain
itu juga komunitas-komunitas baca tulis yang kini semakin banyak bermunculan
juga menandai adanya harapan bahwa masyarakat literer masih dapat diharapkan
untuk mendukung pembangunan bangsa yang terseok-seok karena makna aksaranya
sendiri.***
Salam Anti Kejahatan!
MAKI
Masyarakat Anti Kejahatan Indonesia
e-mail: [EMAIL PROTECTED]
blog: http://maki-online.blogspot.com
milis: http://www.yahoogroups.com/group/maki-online
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
Answers