"TINDAKAN" ADALAH "CERMIN" KUALITAS (=intelektualitas, integritas,
kredibilitas, humanitas) PRIBADI SESEORANG.



On 8/2/07, maki online <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>    Catatan:
> Pembakaran buku dan pemberangusan media adalah kejahatan besar dan
> pelakunya wajib dihukum seberat-beratnya, tak peduli siapa pun dia.
>
>
> Perhatian: pesan yang diteruskan sudah dilampirkan.
>
>
> Salam Anti Kejahatan!
>
>
> MAKI
> Masyarakat Anti Kejahatan Indonesia
>
>
> e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
> blog: http://maki-online.blogspot.com
>
> milis: http://www.yahoogroups.com/group/maki-online
>
> ------------------------------
> Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
> Answers<http://sg.rd.yahoo.com/mail/id/footer/def/*http://id.answers.yahoo.com/>
>
> 
>
>
> ---------- Forwarded message ----------
> From: Andreas Harsono <[EMAIL PROTECTED]>
> To: andreas harsono <[EMAIL PROTECTED]>, "
> [EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>
> Date: Thu, 02 Aug 2007 09:14:19 +0700
> Subject: [pantau-komunitas] FW: Nur Mahmudi Membakar Buku, Hugo Chaves
> Membagi Sejuta Buku
>
> ------ Forwarded Message
> *From: *nurani soyomukti <[EMAIL PROTECTED]>
> *Date: *Thu, 2 Aug 2007 01:15:43 +0700
> *To: *<[EMAIL PROTECTED]>
> *Subject: *NURMAHMUDI ISMAIL MEMBAKAR BUKU; HUGO CHAVEZ BAGI-BAGIKAN
> SEJUTA BUKU!--> LAWAN PEMBAKARAN BUKU <-- sebarkan ke kawan-kawan!
>
> *LAWAN PEMBAKARAN BUKU!
> LAWAN FASISME!
> TEGAKKAN DEMOKRASI!!! *
>
> *
> Nurmahmudi Ismail Membakar Buku, Hugo Chavez Membagi Sejuta Buku!
>
> **Oleh:
> Nurani Soyomukti,
> **Penulis Buku "REVOLUSI BOLIVARIAN: HUGO CHAVEZ DAN POLITIK RADIKAL";
> berkhidmat di JARINGAN KEBUDAYAAN RAKYAT (JAKER); pendiri  Yayasan Komunitas
> Teman Katakata (KOTEKA) Jakarta *
>
>
>
> Sungguh menyedihkan membaca berita tentang seorang Walikota, pimpinan
> masyarakat perkotaan, berada di depan mempelopori penghancuran terhadap
> peradaban buku. Adalah Nurmahmudi Ismaila, walikota depok, berada di paling
> depan aksi pembakaran buku-buku sejarah. Secara simbolis pemusnahan buku
> dengan cara dibakar tersebut dilakukan Nuramahmudi bersama Kepala Kejaksaan
> Negeri Depok Bambang Bachtiar dan Kepala Dinas Pendidikan Depok Asep
> Roswanda (*Koran Tempo*, 21/7.2007).
> Yang ada dalam pikiran saya saat baca berita itu: Oh, kenapa masih ada
> saja pemimpin rakyat yang memundurkan kebudayaan dan peradaban bangsa,
> berada di depan untuk menghambat dan menghancurkan budaya ilmiah dan
> kebebasan berimajinasi dan berekspresi rakyatnya. Saya bertanya, adakah
> pemimpin-pemimpin di negeri terdahulu juga melakukan hal yang sama?
> Presiden-presiden Indonesia saja banyak yang menghargai buku, karya ilmiah,
> dan karya kesusatraan—kecuali presiden Fasis Soaeharto!
> Karena saya telah melakukan penelitian tentang pribadi pemimpin besar
> bernama Hugo Chavez, presiden Venezuela, yang juga saya publikasikan dalam
> buku saya "Revolusi Bolivarian: Hugao Chavez dan Politik Radikal", maka saya
> mulai tertarik menyelidiki hubungan Chavez dengan Buku.
> Ternyata personality politic Chavez sungguh luar biasa, iaa adalah
> pengagum buku. Saya banyangkan, Nurmahmudi Ismail yang walikota saja secara
> jahat memusuhi kebebasan buku-buku mewarnai peradaban Indonesia, bagaimana
> kalau saja ia menjadi Presiden seperti Chavez, Gus Dura, Soekarno, Megawati,
> atau lain-lainnya?
> Karena kecintaan akan sastra itu, Chavez memperbanyak dicetaknya
> karya-karya sastrawan Amerika Latin, ia membagi-bagikan secara gratis satu
> juta  naskah buku sastra (novel) Don Quixote yang dirayakan ulang tahunnya
> yang ke-400 di seluruh dunia pada tahun 2005. Don Quixote de la Mancha
> (bahasa Sepanyol: Don Quijote) adalah sebuah novel karya  Miguel de
> Cervantes Saavedra yang dianggap secara meluas sebagai karya bahasa Spanyol
> yang terbaik di dunia  dan kini merupakan lambang karya kesusasteraan
> Spanyol. Diterbitkan pada tahun 1605, ia adalah salah satu novel paling awal
> dalam bahasa Eropa modern. Chavez membagikan sejuta naskah karya sastra
> tersebut  dalam rangka merayakan kemenangan program melek huruf yang
> keberhasilannya dipuji oleh UNICEF.
>
> *Buku dan Manusia Besar
> *Adakah keterkaitan antara  membaca sastra dengan karakter kepemimpinan
> seorang presiden? Mungkin pertanyaan ini tidak begitu penting karena hendak
> mengkhususkan pertanyaan tentang apa pengaruh sastra bagi manusia. Dan
> jawaban atas pertanyaan tersebut sebenarnya telah banyak dijawab oleh
> berbagai macam pengamat.
> Pertanyaan tersebut, bagi saya, cukup masih relevan bagi kita, terutama
> pada saat kehidupan kesusastraan dan peradaban literer di negeri ini mundur.
> Saya membayangkan bahwa kemunduran kebudayaan literer inilah yang menjadi
> salah satu penyebab kemunduran bangsa ini. Budaya membaca dan menulis di
> negeri ini masih minimal. Kebebasan membaca dan menulis juga  terpasung.
> Membaca dianggap sebagai tindakan yang asosial, pekerjaan pemalas, dan tiada
> guna. Hal ini berbeda dengan di negara-negara maju seperti Eropa dan Jepang
> di mana orang terbiasa melakukannya (membaca) di ruang tunggu, di dalam
> kereta api bawah tanah, yang penumpangnya tidak bertegur sapa karena
> membaca, tidak saling tersenyum. Bukan berarti mereka terasing atau
> individualis, tetapi tulisan memang menyerbu masuk dan menghantam lingkaran
> hubungan langsung satu-satu  secara familiar, ramah, hangat, dan
> membahagiakan.
> Menulis juga belum menemukan ruang kebebasannya. Tidak ada orang yang
> bebas menuliskan apa yang dianggapnya sebagai ungkapan, harus berhadapan
> dengan pembakaran buku, *sweeping*, juga pelarangan dari negara  dan
> sebagian kelompok sektarian yang memaksakan "kebenaran tunggal" atas nama
> pertahanan dan keamanan, moral, dan agama. Tidak ada wacana yang bebas
> berkontestasi diiringi dengan infantilitas pemaknaan budaya. Lontaran wacana
> dilawan dengan pedang dan aksi massa, dan itulah yang membuat kebebasan
> mendekam dalam ruang kepengecutan, ketakutan, dan sempitnya imajinasi
> masyarakat.
>  Negeri ini juga tidak lagi beruntung karena pemimpin (presidennya) kurang
> menghargai imajinasi dan ekspresi literer rakyatnya. Bahkan kita juga miskin
> pemimpin yang menyukai karya sastra, peradaban buku, habitus baca-tulis, dan
> pembudayaan bangsa melalui budaya membaca dan menulis. Saya tidak tahu
> bagaimana pengaruh sastra terhadap presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY)
> dan atau wakilnya Jusuf Kalla  (JK).
> Tetapi mungkin kita masih (pernah) punya Gus Dur, seorang yang, menurut
> saya, sangat menyokong imajinasi manusia-manusia Indonesia dengan menghargai
> kebebasan berpikir, mendukung budaya baca-tulis. Bahkan dalam hal ini
> pribadi Gus Dur sangat menarik (unik) karena ia sendiri juga penikmat dan
> penulis sastra, pengarang buku, dan juga pandai mengulas karya sastra dan
> karya intelektual. Tak heran jika hal itu juga berpengaruh pada wataknya
> yang pluralis, mencintai kedaulatan bangsa, progresif, dan tidak hitam-putih
> dalam melihat persoalan.
> Kita, selain Gus Dur, juga pernah mempunyai Soekarno, presiden pertama
> Republik yang banyak membaca karya-karya pemikir dan sastrawan besar.
> Soekarno juga seorang perenung, pengarang dan pencipta, menulis dan melukis.
> Tak heran jika kemudian ia menjadi  tokoh besar yang dikenang oleh rakyat
> dan masyarakat dunia. Jatuhnya beliau juga sekaligus menandai matinya
> peradaban literer bangsa ini karena pemberangusan terhadap karya secara
> intensif  dikonsolidasikan melalui gerakan militeristik  yang memperalat
> negara di era Orde Baru.
>
> *Hugo Chavez, Buku, dan Sastra*
> Untungnya di luar negeri kita, hari-hari belakangan kita masih bisa
> menjumpai pemimpin yang kharisma dan terobosannya mirip Bung Karno di tahun
> 1960-an, seorang presiden yang membangun bangsanya dengan prinsip
> kedaulatan, dengan suara yang sama nyaringnya dengan presiden pertama
> Indnesia dalam hal anti penjajahan global, anti-imperialisme. Terpilih dua
> kali (pemilu 1998 dan 2006) dengan suara yang meningkat dan dukungan semakin
> kuat dari rakyatnya, Hugo Chavez presiden Venezuela memberikan demokrasi dan
> kesejahteraan berbasiskan pada demokrasi partisipatoris: bukan demokrasi
> komunis-diktator yang memasung kebebasan berekspresi, juga bukan demkrasi
> liberal-borjuis yang mengagung-agungkan kebebasan tetapi hanya kosong dengan
> formalitas dan proseduralitas demokrasi pemilu lima tahun sekali.
> Demokrasi partisipatoris (*participatory democracy*) telah membuat rakyat
> berpartisipasi aktif terlibat dalam pengambilan kebijakan, mengontrol dan
> bahkan mengeksekusi sendiri program-program kerakyatan. Chavez dan rakyatnya
> mengakses kesehatan dan pendiikan gratis. Chavez berhasil membebaskan
> Venezuela dari buta huruf di tahun 2005 lalu (data UNICEF) dan meluluskan
> 900.000 orang yang *drop out* sekolah dasar di tahun 2004. *Mission 
> Ribas*menyekolahkan orang-orang yang
> *drop out* SLTA, dan *Mission Sucre* memberi beasiswa untuk orang miskin
> masuk ke Perguruan Tinggi. Secara simultan juga membangun 200 Universitas
> Simon Bolivar di kota-kota. Selama 102 tahun rakyat tak pernah membayangkan
> program-program sosial ini dapat dinikmati dengan gratis (Soyomukti, 2007:
> 134).
> Komunitas-komunitas baca-tulis dijumpai di berbagai tempat, karya
> Gabrielle Garcia Marquez, Pablo Neruda, Giconda Belli, Marti, dan para
> sastrawan Amerika Latin dapat diakses oleh rakyat. Untuk melawan media-media
> kaum oposisi (borjuis) yang menguasai 90% media, pendukung Chavez membangun
> dan memperluas media komunitas sehingga peradaban baca-tulis dan kesusatraan
> dapat meluas ke masyarakat banyak. Banyak yang keheranan, ketika semua media
> (TV, radio, surat kabar) terus saja menyerang Chavez, tokoh ini bukannya
> kekurangan legitimasi tetapi malah semakin didukung rakyat.
> Meskipun berlatarbelakang seorang tentara, humanisme dan jiwa kerakyatan
> Chavez bertolak belakang dengan para pemimpin lain yang berlatar belakang
> tentara (semacam Soharto atau Susilo di Indonesia). Sejarah telah membentuk
> Chavez, sang *Hugo* (Manusia Besar), menjadi manusia yang  cerdas,
> berkarakter kerakyatan, dan memiliki sensitivitas tinggi. Salah satu yang
> menonjol adalah karena Chavez membaca, menyukai buku-buku, dan keranjingan
> sastra.
> Ketika menerima pendidikan militer ia tak hanya membaca literatur
> Clausewitz, Bolivar, Paez, Napoleon, dan Anibal. Dia juga  mengunyah karya
> Mao dan darinya ia mengobsesikan sebuah peran kerakyaan. Ucapan Mao yang
> sering ia kutip adalah: "Rakyat bagi tentara adalah ibarat air bagi ikan".
> Dari situ, sesungguhnya Chavez sejak awal telah berkenalan dengan
> bacaan-bacaan yang kemudian hari menentukan pandangannya sebagai seorang
> tentara. Visi militer-sipil yang ada padanya akan mengarahkan dia untuk
> membangun hubungan kuat antara militer dengan rakyat miskin. Ada buku
> lainnya yang juga berpengaruh dalam hal itu. Di antaranya adalah buku yang
> ditulis oleh Claus Heller, berjudul  "Tentara Sebagai Agen Perubahan Sosial"
> (*El ejercito como agente de cambio social*). Tentu saja buku-buku
> lainnya.
> Selain buku-buku kemiliteran dan strategi-perang, ia juga membaca banyak
> hal dan Chavez adalah orang yang suka membaca—sebagaimana para
> pemimpin-pemimpin besar lainnya yang muncul di jagat ini. Buku "Venezuela:
> Sebuah Demokrasi yang Sakit" (*Venezuela: Una democracia enferma*) yang
> ditulis oleh seorang anggota Partai Aksi Demokratik (AD) juga mempengaruhi
> cara berpikirnya.  Buku itu mendefinisikan demokrasi dengan baik, sebagai
> sebuah sistem pemerintahan rakyat; siapakah rakyat, hak asasi, dan hak-hak
> rakyat.
> Kecintaan Chavez pada buku dan minatnya untuk mendidik rakyatnya dengan
> buku-buku dan karya sastra tidak berhenti hingga ia menjadi orang nomer satu
> di negeri yang kaya minyak itu. Setiap kali ia mengutip puisi-puisi Pablo
> Neruda (penyair asal Chili) dan dia tetap keranjingan dengan kata-kata
> indah. Dalam setiap pidato dan tulisannya kata-kata pilihan selalu
> dikutipnya. Tak mengherankan, karena obsesinya pada kebudayaan literer ini,
> ia menutup ijin sebuah stasiun TV swasta (RCTV). TV yang bukan hanya menjadi
> alat propaganda menyerang dirinya dan terlibat dalam kudeta April 2002 untuk
> menggagalkan program-program kerakyatan, tetapi juga TV yang dikenal paling
> banyak menayangkan telenovela (opera sabun)  dan dekadensi gaya hidup
> borjuis yang tidak mendidik rakyat, yang membuat rakyat hanya terilusi
> dengan gaya hidup yang tak bisa diraihnya, iming-iming konglomerat negeri
> itu, segelintir orang yang pernah (dan masih akan)  memusuhi dirinya.***
>
>
>

Kirim email ke