Kolom IBRAHIM ISA
Jum'at, 03 Agustus 2007

<http://groups.yahoo.com/group/concernedmitra-group/messages;_ylc=X3oDMTJnYXVuNW5hBF9TAzk3MzU5NzE1BGdycElkAzIwNDYxMjUxBGdycHNwSWQDMTcwNTA2MDM3NQRzZWMDZG1zZwRzbGsDYXRwYwRzdGltZQMxMTg1Nzg0Nzkx?xm=1&m=p&tidx=1>

-------------------------------------------------------------------------------
-------------------------------------
IMBAUAN Syafe'i Ma'arif: 
Sekitar 'Faktor Islam'. 

Sebuah artikel di Mingguan Gatra pekan lalu, oleh  Ahmad Syafe'i
Ma'arif, mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, patut dibaca,
dipelajari dan dibicarakan di kalangan umat Islam. Pemerhati
perkembangan dan pengaruh Islam di Indonesia, pasti kenal tokoh-tokoh
cendekiawan Islam, seperti Cak Nur, Gus Dur, Azyumardi Azra 
dan sejumlah kaum muda cendekiawan Islam lainnya.  Mereka-mereka itu
dikenal sebagai tokoh-tokoh Islam Indonesia yang berpandangan luas,
akomodatif serta rasional, didasarkan atas kenyataan sejarah, bahwa di
dunia ini, termasuk negeri kita, yang hidup adalah insan-insan  yang
multi-religi  multi-kepercayaan, dan multi keyakinan.Dan bahwa ummat
Islam adalah sebagian dari padanya, bagian yang bukan mayoritas.

Tokoh ilmuwan Islam A. Syafe'i Ma'arif, adalah salah seorang dari
tokoh Islam yang seperti itu. Para tokoh Islam moderat tsb, jelas
pandangan mereka itu, tidak sama dalam semua hal. Namun, satu kesamaan
mereka, ialah, bahwa agama, kepercyaan dan keyakinan politik, 
seyogianya diabdikan pada pemberlakuan demokrasi, sekularisme,
multi-kulturalisme dan pluralisme. Semua itu demi keharmonisan hidup
di kalangan seluruh  ummat Illahi di planit yang fana ini.

*   *   *

Dengan artikelnya, berjudul 'FAKTOR ISLAM', Ma'arif, di satu fihak
berusaha menganalisis: Mengapa di dunia Islam dewasa ini, tak terasa
dan tak tampak adanya solidaritas (imaniah) yang tanpa pamrih. Halmana
a.l. menjadi penyebab berlangsungnya terus situasi konflik, termasuk
konflik kekerasan di kalangan umat Islam sendiri, bahwa sejumlah
(kecil) negara dan ummat Islam kaya raya serta hidup mewah, sedangkan
sejumlah (besar), bagian mayoritas ummat seagama, terpaksa
memperpanjang hidupnya dalam penderitaan, kemiskinan dan keterbelakangan. 

Yang menonjol dialami ummat, justru adalah konflik-konflik antara
sesama Muslim, seperti yang pernah terjadi di Libanon, kini terjadi di
Irak, Afghanistan dan Palestina.

Di lain fihak, tulisan Ma'arif adalah suatu  I M B A U A N , supaya
umat Islam, sedunia, khususnya yang ada di negeri sendiri,  agar
benar-benar mengkhayati ajaran Al Qur'an. Dengan nada setengah
mengeluh, setengah mengkritik,  tapi lebih banyak mengimbau, Ma'arif
mengingatkan  pembacanya pada 'Cita-cita Al-Quran' tentang
persaudaraan imaniah. Yang menurut Ma'arif, ajaran Al-Qur'an itu sudah
'kita campakkan begitu saja ke dalam limbo sejarah.' 

*    *    *

Mayoritas penduduk Indonesia, nyatanya, adalah pemeluk Islam. Tetapi
juga bisa dilihat bahwa mayoritas kaum Muslim Indonesia tak suka,
bahkan menentang kekerasan, menentang tindakan-tindakan teror  yang
dilakukan atas nama melaksanakan ajaran Al Qur'an, menentang
penyalahgunaan agama untuk kepentingan politik segolongan tertentu. 

Juga bisa disaksikan bahwa mayoritas kaum Muslim Indonesia
berpandangan sekular, pluralis dan multikultural. Suatu pandangan yang
memilih hidup berdampingan secara harmonis dan gotong-royong  di
kalangan rakyat, pemeluk pelbagai keyakinan agama dan kepercayaan.
Yang memisahkan, yang tidak mencampur adukkan urusan kenegaraan dengan
ajaran agama. Suatu pandangan yang sesuai dengan falsafah negara
Republik Indonesia, yaitu Bhinneka Tunggal Eka, Kesatuan dalam
Keragaman, atau Berbeda-beda tapi Satu.  

Eksistensi dan survival bangsa ini, serta keyakinan akan haridepan 
yang lebih baik,  bahwa, bisanya dipertahankan terus, dikembangkan dan
didorong maju peri kehidupan bangsa ini, demikian pula dibangunnya
kesadaran dan pengokohan identitasnya, semua itu, berkat suatu
pandangan mayoritas bangsa yang rela dan sedia berpijak pada, serta
bertolak dari prinsip-prinsip hidup bernegara  seperti yang diuraikan
oleh Bapak Nasion, Bung Karno dalam 'Lahirnya PANCASILA' (1 Juni 1945).

Tetapi juga adalah suatu realita yang tak bisa dibantah, bahwa  dalam
perjuangan bangsa ini untuk suatu 'nationhood' untuk tegaknya suatu
negara Indonesia yang demokratis dan adil,  yang sama derajat dengan
bangsa-bangsa dan negara-negara  lain, bahwa ISLAM  telah memainkan
dan akan terus memainkan peranan penting, fital serta positif. Faktor
Islam yang demikian itu adalah faktor Islam yang menenggang terhadap
kepecayaan dan keyakinan lainnya, yang bersatu dengan kekuatan politik
Nasional dan keuatan politik yang berpandangan Sosialis.

Sejarah bangsa ini mencatat bahwa dengan persatuan dan kesatuan
kemauan dan semangat, antara kaum Muslimin, Nasionalis dan kaum
Sosialis (Bung Karno merumuskan sebagai persatuan antara kaum
Nasionalis, Islamis dan  Marxis), nasion ini berhasil mengusir
kolonialisme dari bumi persada, menegakkan negara Republik Indonesia,
berhasil mengembalikan Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi, berhasil
pula mempertahankan kesatuan negara Republik Indonesia dari Sabang
sampai Merauke.

Tak dapat dipungkiri, kiranya, bahwa adalah berkat kesatuan kemauan
dari kalangan pembela Reformasi dan Demokratisasi, baik yang beraliran
Islamis, nasionalis maupun Sosialis, yang telah memungkinkan
ditumbangkannya rezim otoriter, anti demokratis dan korup, seperti
Orba yang dikepalai oleh Jenderal Suharto.

Demikian pula halnya, adalah kesatuan kemauan dari pelbagai aliran
agama dan keyakinan politik di Indonesia yang memungkinan
dilaksanakannya pemilihan umum demokratis pertama pasca Suharto. 
Begitu pula adalah kekuatan ini yang telah memungkinkan Abdurrahman
Wahid menjadi Presiden Republik Indonesia yang ke-4.

Apakah tuntutan-tuntutan Reformasi dan Demokrasi bisa memperoleh
kemajuan atau tidak, bisa juga dipastikan, --- hal tsb tergantung pada
ada dan kokohnya kesatuan kemauan dan 'political will' dari
kekuatan-kekuatan demokratis di dalam masyarakat,  baik yang beraliran
Islamis, nasionalis maupun sosialis.

Di bawah ini dipublikasikan kembali tulisan Syafe'i Maa'rif tsb.
berjudul FAKTOR ISLAM.

*   *   *

http://www.gatra.com/artikel.php?id=106290
AHMAD SYAFI'I MA'ARIF
<Guru besar sejarah, pendiri Ma'arif Institute, Jakarta> 
---------------------------------------------------------
FAKTOR ISLAM
Dalam sebuah kuliah di Universitas Chicago awal 1980-an, guru saya,
almarhum Fazlur Rahman, pernah mengeluhkan tentang betapa
carut-marutnya dunia Islam. Sampai-sampai terlontar ucapan ini: "We
live in a different kind of Islam, not in a Qur'anic Islam (Kita hidup
dalam sebuah Islam yang lain, bukan Islam Qurani.)"

Pernyataan itu sering saya ulang di berbagai forum untuk menunjukkan
betapa jauhnya rentangan jarak antara cita-cita Al-Quran tentang
persaudaraan dan realitas umat yang berkeping-keping. Kita ambil
contoh tentang betapa sulit dan rumitnya umat Islam menggalang
semangat persaudaraan yang begitu tegas dan tajam diperintahkan Kitab
Suci. Tengoklah contoh yang masih hangat di Irak dan Afghanistan yang
tercabik-cabik oleh berbagai faksi dan golongan.

Tengoklah faksi Fatah dan faksi Hamas yang menembakkan peluru untuk
saling membunuh. Tengok pula negeri-negeri muslim di mana persaudaraan
inter-umat sering benar terkoyak. Umumnya faktor politiklah yang
menjadi pemicu utama mengapa umat ini masih saja sempoyongan berjalan
di muka bumi.

Kita tentu boleh dan sah saja membidik pihak lain sebagai kekuatan
yang mengadu domba kita sesama muslim. Tetapi hendaklah senantiasa
diingat bahwa pihak asing itu hanyalah mungkin mengacaukan barisan
kita yang memang sudah dalam keadaan kacau. Ketika umat sedang
diracuni oleh proses pembusukan yang parah dari dalam, ketika itu
pulalah musuh luar semakin bergairah melemahkan, jika bukan
menghancurkan kita, kemudian "merampok" kekayaan kita.

Kita sering benar tak berdaya. Apalagi beberapa negeri muslim memang
punya daya tarik besar bagi pihak asing berupa kekayaan bumi yang
dahsyat: minyak, batu bara, emas, dan perkayuan. Semuanya ini sangat
menggoda dunia, khususnya minyak yang hampir 70% berada di bumi muslim.

Tetapi, mengapa sebagian besar negeri muslim tetap saja menderita dan
miskin, sementara sedikit yang lain makmur? Jawabannya sederhana: rasa
kesetiakawanan kita masih rapuh. Ada tetesan bantuan sekadarnya di
sana-sini untuk bangsa miskin, tetapi tidak untuk memberdayakan, hanya
sekadar tidak mati kelaparan.

Itulah sebabnya, mengapa kepiluan kita terasa amat dalam dan
menghunjam karena melihat kekayaan itu tidak semakin mendekatkan hati
sesama muslim untuk saling membantu, malah semakin menjauhkan. Tidak
jarang senjata minyak telah dijadikan alat oleh negeri-negeri muslim
yang kaya untuk menekan dan memaksa bangsa muslim lain untuk tunduk ke
bawah duli hegemoninya, demi politik kekuasaan.

Dalam perjalanan sejarah umat, faktor Islam sebagai perekat
persaudaraan sering benar diabaikan, sepertinya Islam tidak dapat
diandalkan lagi untuk mempertemukan kita. Yang lebih ironis lagi
adalah kenyataan, tidak jarang sebuah negeri muslim kaya minyak malah
menyerahkan pundi-pundinya untuk "diperas" pihak asing yang jelas
tidak rela melihat Islam muncul sebagai kekuatan yang turut menentukan
perjalanan peradaban global.Anehnya, yang diperas merasa dilindungi.
Kawasan Asia Barat yang kaya itu sudah agak lama berada di bawah
pengaruh kuat Amerika, sementara retorika politik mereka mengatakan
anti-dominasi asing. Alangkah tidak seronoknya pertunjukan ini!

Dalam pada itu, perlu pula dicatat bahwa kesadaran untuk saling
membantu sesama umat Islam terasa lemah dari waktu ke waktu. Kita
memang hidup dalam sebuah Islam yang lain. Bukan Islam otentik, bukan
Islam yang diajarkan Nabi, kecuali dalam bentuk-bentuk ritual yang
sarat simbol serimonial, tetapi seringkali telah menjadi tunamakna.
Nyaris tidak terlihat korelasi signifikan antara simbol dan perilaku
kita sesama bangsa muslim. Cita-cita Al-Quran tentang persaudaraan
imaniah kita campakkan begitu saja ke dalam limbo sejarah.

Engkau Mahatahu, ya Allah, sampai berapa lama kondisi tidak menentu
ini akan berlangsung. Hamba-hamba-Mu yang baik tentu masih ada, tetapi
alangkah tidak berdayanya mereka. Mereka tak henti-hentinya berdoa,
tetapi masih berkenankah Engkau memberi jawaban? Engkau melarang kami
berputus asa, betapapun pahit dan getirnya perasaan kami. Dan kami
memang tidak akan berputus asa.

Firman Engkau dalam surat Yusuf ayat 110 yang maknanya berbunyi:
"Sehingga manakala para rasul tidak punya harapan lagi dan mengira
bahwa mereka telah didustakan, (barulah) datang pertolongan Kami, lalu
diselamatkan siapa yang Kami kehendaki; sedangkan siksaan Kami tidak
bisa ditolak oleh para pendosa" memberi isyarat kepada kami untuk
terus berbuat sambil menunggu datangnya pertolongan-Mu, demi
menginsafkan kami semua yang telah larut dalam dosa dan dusta.

Kami tidak akan berpaling sampai Islam datang menjadi faktor penentu
untuk mempertautkan kembali hati dan jiwa kami yang masih berserakan,
berantakan! Mohon jeritan ini Engkau dengarkan, ya Allah!

Ahmad Syafi'i Ma'arif
Guru besar sejarah, pendiri Ma'arif Institute, Jakarta 
*    *    *


Kirim email ke