Refleksi: Makin marak pembatan hutan, mungkin mau dipercepat proses untuk dijadikan gurun pasir.
http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=302285&kat_id=23 Kamis, 02 Agustus 2007 20:47:00 Pembabatan Hutan TNKS di Kabupaten Lebong Makin Marak Bengkulu-RoL-- Pembabatan hutan di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) wilayah Kabupaten Lebong, Bengkulu, sejak enam bulan terakhir masih marak sehingga salah satu "paru-paru dunia" itu terancam gundul, terutama pada areal Daerah Aliran Sungai (DAS) Ketahun setempat. Maraknya pembukaan hutan itu akibat kurang seriusnya pihak terakit dalam hal penjagaan kawasan hutan konservasi tersebut, kata Bupati Lebong Drs Dalhadi Umar B.Sc kepada Antara, Kamis. Menurut dia, gundulnya kawasan hutan TNKS itu bisa dilihat secara kasat mata oleh masyarakat Lebong dan sekitarnya, hal itu akan berdampak buruk bagi kehidupan warga Lebong, terutama adanya ancaman banjir, kekeringan dan bencana alam lainnya. Pembuka kawasan hutan konservasi itu sebagian besar warga pendatang dan makin marak setelah harga kopi di pasaran melambung tinggi yakni mencapai di atas Rp13 ribu per kilogram sejak awal tahun lalu. Kawasan hutan itu setelah dibuka selain ditanami dengan jenis kopi, juga ditanami kayu manis dan tananam tahunan lainnya. Ia menilai, kekurangseriusan pihak terkait terlihat dari penempatan petugas di lapangan yang sampai saat ini hanya ada dua orang, sedangkan kawasan TNKS yang harus diawasi mencapai 111 ribu hektare lebih. Pemkab Lebong sudah berupaya maksimal ikut dalam mengamankan kawasan TNKS itu, terutama mencegah agar tidak dibabat. Jika dilihat dari batasan tugas dan wewenang, Pemkab Lebong dan instansi terkait setempat hanya bertanggungjawab mengamankan kawasan hutan lindung, cagar alam dan hutan wisata, sedangkan hutan TNKS sepenuhnya tanggungjawab personil Balai TNKS. Belum adanya koordinasi antara Pemkab Lebong dan TNKS menyebabkan upaya pengemanan hutan belum maksimal. "Kami tidak penah besarnya dana pemeliharaan hutan TNKS itu, padahal berada di wilayah Lebong," katanya. Kawasan hutan TNKS yang sebagian sudah gundul itu berada pada DAS hutan pengaman bendungan Danau Tes yang airnya menjadi penggerak Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Tes yang diresmikan Presiden Soeharto belasan tahun silam. Apabila debit air Danau Tes itu turun, tidak hanya berdampak pada kebutuhan pembangkit listrik PLTA tersebut, tapi juga berpengaruh terhadap air jaringan irigasi areal persawahan masyarakat Lebong. Dikhawatirkan, apabila hutan TNKS itu gundul juga akan berdampak pada kelangsungan pembentukan Kabupaten Konservasi yang selama ini tengah digarap dan diproses payung hukumnya. Warga Lebong sangat mendukung program pembentukan hutan Konservasi itu, dengan bukti tidak lagi merusak kawasan hutan sekitar itu, seperti hutan lindung, hutan cagar alam dan hutan taman wisata. antara mim
