Perombakan Kabinet Indonesia Bersatu ke-2 sudah berlangsung sejak tiga bulan 
lalu. Namun, pengaruhnya terhadap perekonomian nasional belum begitu tampak. 
Dari berbagai fakta yang ada, perekonomian semakin sulit. Indikatornya cukup 
jelas, antara lain, investor yang mulai gerah untuk menanamkan modalnya di 
Indonesia bahkan cenderung untuk hengkang dari negeri ini dan  nilai rupiah 
yang semakin merosot. 
   
  Dalam konteks ini, salah satu pilar yaitu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) 
juga belum menunjukkan fungsi yang optimal sebagai salah satu pilar yang memicu 
perekonomian nasional. Tidak optimalnya fungsi tersebut tentunya perlu 
dicermati secara lebih mendalam, termasuk kinerja para pejabat dan pemimpin 
yang ada dalam Kementerian Negara BUMN serta para anggota direksi BUMN. 
   
  Sayangnya, dalam menangani masalah yang terkait dengan BUMN besar, monopoli, 
Meneg BUMN yang baru terkesan ragu-ragu  dan, kalaupun ada, lebih banyak 
menyoroti   BUMN yang kurang mendapatkan perhatian publik, serta cendrung tidak 
besar., Kasus yang paling terakhir, misalnya, rencana perombakan Dewan Direksi 
di BUMN yang bergerak disektor Perumahan , karena dianggap gagal memenuhi 
target laba Rp 23 miliar , yang tercapai hanya Rp 17 miliar. Keputusan tersebut 
tepat tentu saja patut didukung sepenuhnya rencana perombakan tersebut. Sebab 
menempatkan orang-orang tidak profesional pada posisi yang krusial Cuma akan 
menambah beban. 
   
  Hanya saja, dibandingkan dengan kasus lain yang lebih berat seperti salah 
satu BUMN besar yang pimpinannya terlibat dengan masalah hukum, Meneg BUMN 
terkesan belum melakukan tindakan. Padahal, kinerja pimpinan salah satu BUMN 
ini belum dapat untuk diacungi jempol. Kemudian berbaggai hal seperti misalnya, 
Investasi di sektor ketenagalistrikan bagaimana kelanjutanya ? , masih adanya 
pemadaman bergilir yang belum secara utuh teratasi di wilayah-wilayah luar Jawa 
dan Bali. Masyarakat Sumatera Utara dan Sulawesi bahkan sudah melakukan protes 
secara terbuka terhadap BUMN tersebut. Hanya saja, seakan-akan apa yang telah 
masyarakat suarakan seolah-olah dianggap tidak ada. Artinya, pemerintah belum 
membuka mata serta belum melakukan tindakan apapun, termasuk menegur para 
pemimpin BUMN tersebut.
   
  Lambannya Kementrian dalam menangani masalah kepemimpinan di BUMN, terutama 
yang  besar dan tentunya , tidak hanya satu atau dua BUMN,  patut mendapatkan 
pantauan publik: menyebabkan timbul pertanyaan di masyarakat, jangan-jangan ada 
sesuatu? . Padahal, Meneg BUMN berkomitmen untuk merombak kepemimpinan BUMN, 
termasuk para pejabat di lingkungan Kementrian BUMN sendiri. Kelambanan ini 
kembali menegaskan bahwa Independensi Meneg BUMN dalam mengambil keputusan 
perlu masyarakat tanyakan. kebijakan Meneg BUMN. Kalau itu yang sebenarnya 
terjadi, keinginan Meneg BUMN yang baru untuk ‘menjauhkan’ BUMN dari  berbagai 
kepentingan  akan menjadi jauh panggang dari api.  Artinya, retorika lebih 
unggul daripada implementasi yang sesungguhnya.
   
  Menjelang usia seratus hari  Meneg BUMN yang baru, kesigapan dalam membenahi 
dan menata ulang manajemen di lingkungan Kementerian BUMN dan BUMN itu sendiri. 
Masyarakat sangat menunggu serta merindukan peran salah satu pilar perekonomian 
ini berjalan sebagaimana mestinya, bahkan sudah pada tahap gawat-darurat. 
Seandainya tidak ada gebrakan yang signifikan, masyarakat jangan berharap Gajah 
Mati Meninggalkan Gading atau Harimau Mati Meninggalkan Belang. Yang ada cuma 
meninggalkan angin yang, mungkin, hanya membuat masyarakat masuk angin. 
   
  Salam, Menuju Perubahan Lebih Baik
  Yusuf Senopati Riyanto
  Magister Hukum UNPAD
  Ketua Umum Forum Indonesia Untuk Indonesia
   
   



       
---------------------------------
Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo! Travel. 

Kirim email ke