Buletin Elektronik www.Prakarsa-Rakyat.org 
           
                  SADAR 

                  Simpul Untuk Keadilan dan Demokrasi
                  Edisi: 55 Tahun III - 2007
                  Sumber:http://www.prakarsa-rakyat.org
                 

--------------------------------------------------------------
                 


                  PERAN CAGUB DKI ATASI NAIKNYA HARGA-HARGA



                  Oleh: EKA PANGULIMARA H.[1]



                  Berita-berita terakhir, baik di koran maupun televisi, bangsa 
ini seperti henda! k menghadapi krisis baru. Titiwancinya adalah naiknya 
berbagai! macam k ebutuhan masyarakat. Yang paling menonjol cabe merah keriting 
yang menembus angka Rp. 30.000/kg, dan minyak goreng hingga Rp. 9.000/kg. Harga 
komoditas lain seperti telur, gula, terigu, juga terus bergerak naik.

                  Ada dua penyebab. Pertama, jelang hari raya Idul Fitri bagi 
umat muslim, yang sebentar lagi dirayakan. Telah menjadi siklus bahwa pada 
masa-masa seperti ini harga-harga kebutuhan naik lumayan drastis. Utamanya 
disebabkan permintaan yang meningkat tajam di saat masyarakat memerlukan 
berbagai macam komoditas guna "menikmati" suasana lebaran dalam keadaan serba 
cukup. 

                  Kedua, kenaikan harga BBM yang diputuskan pemerintah mulai 1 
Oktober 2005 yang lalu. Kenaikan rata-rata yang melebihi angka 100% ini 
dipastikan mendorong naiknya harga-harga kebutuhan, minimal karena biaya 
transportasi yang melonjak.

                  Penyebab kedua lebih berpengaruh dibanding momentum menjelang 
lebaran. Hal ini karena pengaruh naiknya harga BBM lebih material d! aripada 
kenaikan jelang lebaran yang seringkali diakibatkan masalah psikologis pada 
diri pedagang. Kenaikan harga BBM kemarin juga mendorong pedagang untuk 
menaikkan harga untuk mengambil untung sebanyak-banyaknya. Dengan kondisi daya 
beli yang menurun, kaum pedagang tahu kenaikan harga yang "keterlaluan" akan 
sangat sensitif bagi pembeli.

                  Tren naiknya harga menjelang lebaran selama ini dimahfumi 
orang banyak. Selewat lebaran, harga-harga komoditas akan bergerak turun 
mencapai harga normal. Namun kondisi saat ini tidak ada jaminan seperti itu. 
Kenaikan biaya transportasi akibat naiknya harga BBM tidak bisa ditawar lagi. 
Akibatnya harga tinggi berbagai macam kebutuhan saat sekarang berpotensi tidak 
turun, bahkan naik lagi di waktu-waktu yang akan datang.

                  Potensi naiknya kembali harga-harga kebutuhan pokok selepas 
lebaran disumbang oleh rencana naiknya tarif dasar listrik (TDL), PDAM, tarif 
Telkom, BBM industri, elpiji yang harganya ditetapka! n. Naiknya TDL di 
awal-awal tahun 2006, misalnya, diprediksika! n akan m emukul usaha konveksi 
yang berujung pada PHK massal para pekerjanya. Di samping proyeksi pengusaha 
untuk mengubah status para buruh menjadi sistem kontrak/outsourcing yang marak 
belakangan ini, ditenggarai dengan cara PHK massal. Semakin mendapat legitimasi 
dengan serba tingginya ongkos produksi yang dikeluarkan.


                  Pendidikan Terancam

                  Salah satu sektor yang paling terancam adalah dunia 
pendidikan dengan prediksi kenaikan angka putus sekolah. Kenaikan BBM menaikkan 
biaya transportasi cukup tinggi. Anak sekolah yang biasa menggunakan angkutan 
menuju sekolah akan terbebani oleh biaya transport yang melonjak. Kenaikan 
sebesar Rp. 500 sekali naik saja berarti orang tua harus menaikkan anggaran 
transport sebesar Rp. 30.000/bulan/anak sekolah. Sering anak yang disekolahkan 
mencapai 3 sampai 4 anak, sehingga biaya transport saja bisa mencapai 
120.000/bulan.

                  Gambaran ini akan memaksa orang tua berpenghasilan pas-pasan 
akan memprio! ritaskan pendidikan anak-anaknya ke level lebih rendah. Kebutuhan 
untuk bertahan hidup jelas dinomersatukan. Orang tua dengan anak usia sekolah 
yang banyak akan mengurangi jumlah anak yang bersekolah, terutama yang 
dikorbankan adalah anak perempuan.

                  Penyesuaian pemenuhan kebutuhan (ketika harga-harga kebutuhan 
naik sementara penghasilan tetap) yang bisa ditempuh adalah dengan mengurangi 
asupan gizi atau nilai nutrisi. Tetapi kiat ini bukannya tak beresiko. 
Pengurangan gizi secara kontinyu bisa berakibat fatal berupa merebaknya 
penyakit-penyakit kekurangan gizi seperti busung lapar (marasmus kwasiorkhor) 
dan penurunan kecerdasan.

                  Siapa yang bertanggung jawab terhadap kemungkinan buruk 
tersebut? Tentu saja pemerintah yang telah "tega" menaikkan harga BBM demikian 
tinggi. Semestinya pemerintah tidak lepas tangan terhadap dampak buruk naiknya 
harga BBM pada rakyatnya sendiri. Pemerintah mesti mendayagunakan seluruh 
energinya untuk memb! antu rakyat agar tidak kelimpungan memenuhi kebutuhan 
hidup se! hari-har i. Naiknya harga BBM secara otomatis memperkuat APBN. 
Masyarakat pantas berharap seluruh devisa yang diperoleh dari kebijakan 
menaikkan harga BBM digunakan kembali seluruhnya untuk rakyat.

                  Namun sejauh ini, selain dana kompensasi langsung, sepertinya 
belum ada action pemerintah yang mampu secara signifikan membantu masyarakat 
menghadapi melonjaknya harga-harga. Terdapat waktu jeda yang tidak bisa 
ditentukan lamanya sampai ada action pemerintah yang memadai. Dan selama itu 
pula masyarakat terus dihantui kenaikan harga kebutuhan tanpa ada yang bisa 
mengendalikan.
                   

                  Peran Para Cagub

                  Kini masyarakat Ibukota haruslah memilih satu di antara dua. 
Yang satunya, Fauzi Bowo yang merupakan Cagub yang diangkat oleh koalisi 20 
Parpol, dan Adang dengan dukungan PKS sebagai partai tunggal di belakangnya. 
Apapun yang mereka lakukan, barulah nampak obralan beribu janji, terkesan 
sloganistik. Dan tidak lebih dari jargonistik! dalam masa-masa kampanye seperti 
yang sudah-sudah. 

                  Kita tengok kebijakan menaikan harga BBM misalnya, memang 
keputusan pemerintah pusat. Gubernur dan DPRD selalu berargumen demikian untuk 
menunjukkan ketidakberdayaan pemerintah di ibukota berikut daerah. Kita 
mengamini hal tersebut. Namun seyogyanya pernyataan tersebut tak mengindikasi 
lepas tangannya sosok gubernur dari persoalan yang dihadapi masyarakat. Sebab 
entah dari mana sebuah kebijakan turun, deretan kemiskinan warga Ibukota, tak 
selalu lebih baik dari masyarakat daerah.

                  Oleh karena itu, para Cagub mesti berpikir keras, 
menghitung-hitung kemampuan dan kinerja diri nantinya, mencari usulan dari 
sana-sini, yang seluruhnya digunakan demi memperkuat ketahanan ekonomi warga 
Ibukota. Tentu saja tugas ini adalah hal rutin dan inheren sebagai kerja 
gubernur terpilih berikut lima Pemkotnya. Namun intensitas dan besarannya harus 
lebih difokuskan dan dipersiapkan betul untuk saat-saat sekarang.
                  Resiko yang dihadapi cukup besar. Untuk kota Jakarta, terd! 
apat kar ekteristik tercetusnya luapan masyarakat yang tidak puas dengan 
keadaan melalui jalan kekerasan. Di tahun 1998 kemarin, kota ini mengalami 
prahara hebat berupa kerusuhan massa yang meluluhlantakkan hampir seluruh 
persendian ekonomi kota. Belum lagi sikap sebagian besar warga Ibukota yang 
sudah terlanjur abai dengan elit dan partai politik.

                  Melakukan intervensi langsung untuk mempengaruhi harga 
kebutuhan mungkin mustahil dilakukan. Selain daya dukung APBD tidak memadai, 
intervensi harga dapat mendistorsi pasar. Tidak lebih dari dua minggu ke depan, 
agaknya para Cagub belum menampakkan strategi operasional di levelan program 
penyelesaian kompleksitas problem di Ibukota. Yang dapat dipertontonkan kepada 
masyarakat luas.

                  Ada beberapa tindakan nyata yang lebih realistis. Pertama, 
meninjau kembali UMK (upah minimum kota) untuk buruh dan mendorong naiknya upah 
buruh sampai mendekati atau setara kebutuhan hidup layak (KHL). Upaya ini akan 
mendapat resistensi da! ri pengusaha yang akan makin terbebani. Cagub dalam hal 
ini bisa menawarkan pengurangan instrument-instrumen tertentu yang sampai kini 
memperbesar biaya produksi. Biaya siluman seperti pungutan liar harus dikikis 
habis dan menjadi agenda utama para Cagub untuk membantu dunia usaha yang 
hasilnya bisa dinikmati kaum buruh.

                  Kedua, pengalokasian dana kota ke hal-hal yang semakin 
urgent. Biaya-biaya kota harus dikurangi, mobil dinas mewah kalau perlu bukan 
cuma diganti tapi dijual (daripada membebani biaya operasionalnya). Biaya 
operasional dan pemeliharaan aset negara juga dapat dikurangi. Pengurangan AC 
untuk ruang para pejabat. Kondisi gedung tidak perlu terlihat kinclong, sebab 
keadaan tersebut justru akan berkebalikan dengan kondisi masyarakat yang serba 
payah.

                  Ketiga, seluruh pejabat tinggi seperti gubernur dan wakilnya, 
anggota dewan dan pejabat eselon dipotong gajinya. Jumlahnya mungkin tak 
seberapa tapi menyimbolkan kesulitan yang kini dihadapi mas! yarakat juga 
dialami para pejabat tinggi. Terdapat suasana sol! idaritas di mana pejabat 
tidak berada dalam kesenangan di atas penderitaan rakyat.

                  Untuk sektor pendidikan, bisa diupayakan perbanyakan 
pengadaan bis kota khusus bagi anak sekolah yang langsung menjemput mereka dari 
tempat tinggal sampai ke sekolah (tidak perlu berganti-ganti bis kota). Bis 
DAMRI dengan subsidi gubernur adalah alternatifnya, di mana pada jam berangkat 
dan pulang sekolah disulap khusus sebagai bis sekolah. Anggaran yang dihemat 
dari kebijakan pengetatan anggaran maupun potong gaji pejabat bisa dialihkan ke 
keperluan ini.

                  Yang jelas, entah apapun tindakan para Cagub yang terpilih, 
setidaknya mewakili gambaran pada masyarakat bahwa pejabat publik tidak pernah 
berleha-leha dalam menghadapi situasi terburuk sekalipun.




--------------------------------------------------------------

                  [1] Penulis adalah anggota Solidaritas Buruh Pelabuhan 
Indonesia (SBPI) Jakarta, sekaligus anggota Forum Belajar Bersama Prakarsa 
Rakyat dari simpul Jabodetabek.






                 
                    
           
            [EMAIL PROTECTED]    
     


Kirim email ke