Polisi.. polisi... polisi...
betapa jeleknya citra polisi Indonesia sudah terkenal bagi yang 
pernah hidup di kota2 besar di Indonesia.

Tapi saya punya beberapa kali pengalaman kebaikan polisi di Jakarta.
Tentu saja pengalaman ini dengan polisi lalu lintas.
Salah satunya :
Pada tahun 1990/91, belum ada Citra Land atau sedang dibangun saya 
tidak ingat. Tapi masih ada jalur lambat sedikit di tikungan di depan 
Citra Land, dari arah Slipi menuju Daan Mogot. Mobil yang saya 
kendarai ban belakang sebelah kanan kempes total. 
Saya berhenti untuk melihat dan men-cari2 orang yang bisa dimintai 
tolong mengganti ban sebab saya sendiri tidak bisa melakukannya.

Datang seorang anak muda tampang anak sma. Dia bilang bisa bantu 
gantikan ban. Setelah tawar harga, dia setuju menolong gantikan ban.
Setelah mur2 dicopot, ternyata dia tidak bisa mengeluarkan bannya.
Tiba2 datang polisi naik motor dari arah belakang, dan berhenti 
persis di belakang saya yang sedang coba bantu menarik ban kempes itu.
Tiba2 polisi itu membentak anak tsb.  si anak terkejut dan ketakutan 
sekali.
Polisi langsung menuduh sianak itu akan memeras saya dan anak itu 
langsung menyangkal. Polisi tanya pada saya apakah anak ini 
mempersulit saya. Saya bilang tidak. Polisi bilang :" ibu tidak tahu 
ya siapa dia? dia ini penjahat kambuhan"
saya jawab :"wah saya enggak tahu pak."
Polisi :"ibu percaya sama dia?"
saya :"Ya pak, saya percaya", sambil saya tatap anak itu. padahal sih 
melihat si anak ini tidak bisa ganti ban, saya sebetulnya sudah tahu 
saya bakalan dapat kesulitan sama anak ini. Tapi melihat tampangnya 
yang innocent saya kasihan.
Polisi melembek :" ya sudah terserah kalau ibu percaya dia."
Terus si pak Pol-nya bilang sama anak ini :"Awas ya, kalau ada apa2 
sama ibu ini, kamu yang akan saya tangkap duluan". ngomongnya sambil 
melotot galak. 
Pak Pol bilang sama saya :"kalau ada apa2, ibu lapor sama saya. saya 
ada di pos situ" sambil menunjuk kedepan. 
lalu saya bilang terima kasih dan pak Pol pergi lagi.

Si anak kemudian saya suruh memasang mur2nya lagi dan kemudian saya 
kasih duit sebanyak yang saya janjikan walaupun tidak berhasil. saya 
meneruskan perjalanan sampai rumah dengan ban yang sudah robek2 dan 
velg yang ancur mesti ganti baru.

Untung datang pak Pol yang baik hati itu. Kalau tidak mungkin 
teman2nya juga sudah ada disana dan akan merubuti saya.
jaman dulu saya suka polisi, banyak nolong saya dijalan, walaupun 
suka korup duit tilang.

tidak terbayang oleh saya polisi sekarang sejahat yang diceritakan 
banyak orang, apalagi yang jebloskan orang tidak salah ke penjara 
dengan fitnah dan perlakuan kejam. 
apakah reformasi malah merusak mental seluruh pejabat?
siapa yang harus bertanggung jawab terhadap ini? Amin Rais-kah 
sebagai pencetus gerakan reformasi tanpa persiapan matang bagaimana 
menangani pemerintahan setelah reformasi terlaksana?

salam prihatin,
mj






--- In [email protected], otto ferdinand 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Malam kawan2..
> Sekedar menumpahkan kekesalan  thd perlakuan polisi Depok terhadap 
salah seorang kawan dari SCTV.
> Kawan saya, dari SCTV (yang baru saja mengalami patah tangan karena 
kecelakaan motor) tadi sore jam7 pergi ke sta. UI Depok bersama 
seorang teman untuk mengantar adikny pulang naik kereta. Ketika 
menunggu di peron, tiba2 seseorang meminta kawan saya u menunjukkan 
ID/KTP, setelah memberi KTPny, kawan saya tiba2 digeledah dan ditarik 
tanganny (yg baru patah&masih diperban)untuk dipaksa ikut ke dekat 
loket karcis. Setelah itu terjadi perdebatan dan kawan saya sudah 
secara baik2 berkata &quot;saya tidak suka cara bapak barusan, 
bukankah ada cara lebih baik u meminta saya ikut u digeledah?!, saya 
bisa saja melaporkan bapak!&quot;. Setelah itu, org yg menarik kawan 
saya td bahkan brkata &quot;kamu mau saya pukul disini?! Saya ga 
sebentar lho jadi polisi!&quot;...Perdebatan msh panjang dan bahkan 
polisi yg menarik tangan kawan saya td tidak menunjukkan niat u 
meminta maaf bahkan setelah kawan saya yg satu lg ikut membantu 
menjelaskan bahwa tangan kawanny baru
>  saja patah dan belum sembuh. Begitu ditanya, mereka mengaku dari 
polsek beji dan berkata sdh ada surat tugas, namun tdk 
menunjukkannya. Setelah kembali berpanjang lebar dan puas melihat 
berbagai macam ID dari dompet kawan saya, mereka akhirny membiarkan 
kawan2 saya pergi, tetap tanpa meminta maaf walaupun telah berlaku 
kasar.
> 
> Saya tidak tahu apa ini karena kekesalan saya saja atau tidak. Tapi 
saya memang kesal dengan perlakuan orang2 yang mengaku dari polsek 
beji Depok tersebut terhadap kawan saya.
> 
> 
>       ________________________________________________________ 
> Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! 
Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/
>


Kirim email ke