http://www.sinarharapan.co.id/berita/0708/01/sh06.html
Warga Natuna              Apel Bersama Tolak DCA 
             
             
             Natuna - Warga Kabupaten Natuna merencanakan apel bersama menolak  
            pelaksanaan Perjanjian Latihan Pertahanan (DCA) Indonesia-Singapura 
             yang mengizinkan Negara Singa berlatih perang di wilayah perairan  
            Natuna.
             “Sekitar 3.000 orang, Sabtu pekan ini, akan berkumpul di halaman   
           kantor bupati menolak DCA,” kata Bupati Natuna Daeng Rusnadi di      
        Natuna, Rabu (1/8). Ia mengatakan penolakan DCA warga Natuna tidak      
        pernah didengar pemerintah pusat sehingga diharapkan dengan apel        
      bersama pemimpin negara dapat lebih arif membuat kebijakan yang           
   menyangkut hidup orang banyak.
             “Mudah-mudahan Presiden bisa mengambil kebijakan dengan 
mementahkan              DCA dan tidak terpengaruh janji manis Singapura,” 
katanya. Menurut              Daeng, sebagai kepala pemerintahan daerah, ia 
berwenang secara penuh              mengamankan wilayah Kabupaten Natuna yang 
berada di tengah Laut              China Selatan.
             “Berdasarkan otonomi daerah, seharusnya saya yang menentukan boleh 
             tidaknya Natuna dijadikan wilayah latihan perang,” katanya. 
Menurut              Daeng, DCA banyak merugikan warga Natuna. Selain ketakutan 
dan              depresi dengan penggunaan perlengkapan perang di wilayahnya, 
latihan              pertahanan juga akan membuat Natuna lebih terisolasi.
             Ia mengatakan penerbangan satu-satunya dari Batam akan terganggu   
           karena rute harus berputar melalui Kalimantan. “Tidak ada perang     
         saja tidak ada yang mau datang karena jauh, ada DCA lebih jauh lagi    
          karena pesawat harus berputar,” katanya. Latihan perang juga          
    diperkirakan akan mengganggu ekosistem. Padahal, menurut Daeng,             
 sebagian besar warga Natuna adalah nelayan.
             “Bayangkan, nelayan sudah takut melaut karena ada mortir 
beterbangan,              juga tidak bisa mendapatkan ikan karena ikannya lari 
semua,” katanya.              Ia menyatakan sejak perjanjian yang satu paket 
dengan Kerja Sama              Ekstradisi (ET) itu ditandatangani April, belum 
pernah pemerintah              pusat ataupun jajaran Menteri Pertahanan dan TNI 
menghubunginya              untuk mendiskusikan DCA.
             Sementara itu, anggota DPR Harry Azhar Aziz mengatakan aksi        
      diperlukan untuk menunjukkan sikap warga. “Tapi jangan anarkis,”          
    katanya. Ia mengatakan meskipun DPR bersama DPD telah menolak DCA,          
    namun pemerintah tetap mempertimbangkan melaksanakan latihan di Area        
      Bravo, Natuna.
             Di Magelang, minggu lalu, Panglima TNI Marsekal TNI Djoko Suyanto  
            mengatakan, prioritas penggunaan suatu tempat sebagai lokasi 
latihan              militer tetap dimiliki pihak TNI. 
             Namun, ia mengatakan hingga saat ini TNI masih menunggu hasil      
        perundingan lanjutan antara menteri luar negeri Indonesia dengan        
      Singapura tentang DCA tersebut.
             Perundingan pelaksanaan teknis DCA, katanya, antara lain 
menyangkut              daerah latihan, definisi latihan, jumlah personel, 
batasan              ketinggian latihan, tanggung jawab kalau terjadi 
kerusakan, dan              periode latihan.
             “Tentang pengaturan kalau mereka berlatih di satu tempat, daerah   
           latihan yang telah disepakati itu, definisi latihan itu apa,         
     jumlahnya berapa, frekuensi latihan harus berapa, batasan ketinggian,      
        siapa saja yang boleh ikut, kalau ada kerusakan siapa yang              
bertanggung jawab. Jadi, aturan-aturan yang sangat mengikat, tidak              
boleh dia setiap hari ke situ, jadi dalam satu periode itu berapa              
lama,” katanya. (ant)


http://batampos.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=27100&Itemid=97
      Apel Akbar, PP Tolak DCA                       ');     
document.write('');     document.write('');     document.write('');     
document.write('');     //-->                                         Rabu, 01 
Agustus 2007                       BATAM (BP) - Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) 
Pemuda Pancasila (PP) akan menggelar apel akbar untuk membuat pernyataan sikap 
menolak perjanjian kerjasama pertahanan Indonesia-Singapura (Defense 
Cooperation Agreement/DCA) di Lapangan Sepakbola Ranai, Sabtu (4/8) mendatang. 
Gelar apel akbar ini akan dihadiri MPW PP Provinsi Kepri, MPW PP Natuna, 
nelayan, masyarakat, OKP, Ormas, serta PNS. 

Ketua MPW PP Provinsi Kepri  Banjir Simarmata menjelaskan, apel akbar penolakan 
kerjasama perjanjian ini sebagai bentuk penolakan dari PP dan masyarakat Natuna 
dijadikan wilayah Natuna untuk latihan perang. 

”Dalam apel akbar ini, kita akan menyerahkan pernyataan sikap menolak kerjama 
pertahanan kepada Gubernur Kepri Ismeth Abdullah yang direncanakan hadir pada 
apel akbar tersebut,” jelas Banjir Simarmata, kemarin di Sektariat PP Batam 
Center, kemarin. 

Banjir menambahkan lebih kurang sekitar 3.000 massa akan hadir pada apel akbar 
tersebut.  ‘’Kita bersama masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Natuna menolak 
rencana kerjasa pertahanan RI-Singapura tersebut,” jelas Banjir.

Menurut Banjir, seharusnya pemerintah pusat sebelum membuat rencana kerjasama 
pertahanan ini menyosialisasikan kepada masyarakat untung rugi dijadikan 
Provinsi Kepri khusus Natuna untuk tempat latihan  perang Singapura. 

”Ini demi kelangsungan masa depan bangsa ini,” jelas Banjir Simarmata yang 
didampingi ketua MPC PP Kota Batam Moody Alnold Timisela.

”Pemerintah pusat harus memperhatikan aspirasi masyarakat Natuna yang menolak 
DCA ini. Karena bagaimana pun masyarakat  yang akan merasakan dampak kalau 
kerja ini berjalan,”  tegas Banjir.
Banjir menjelaskan  apel akbar pernyataan penolakan perjanjian kerjama 
pertahanan ini akan dilakukan  gelar pasukan, pembacaan pernyataan penolakan 
DCA, dan penyerahan pernyataan kepada Gubernur Kepri Ismeth Abdullah.

”Rencananya inspektur upacara Ketua DPP PP Yapto yang akan dihadiri ketua MPW 
PP Sumut, MPW PP Sumbar, MPW PP Jambi, MPW PP Jawa Barat, MPW PP Riau, MPW PP 
DKI, MPW PP Kaltim, dan MPW PP Jakarta Timur. Sabtu (4/5) malamnya akan 
melantik pengurus Majelis Pimpinan Cabang PP Kabupaten Natuna ,” jelas Banjir 
Simarmata.

Banjir menambahkan, persiapam panitia untuk apel akbar penolakan DCA ini sudah 
seratus persen. Dan rencananya akan mengundang wartawan dari media Singapura 
dan Malaysia. (kom)

http://www.metroriau.com/index.php?option=com_content&task=view&id=3034&Itemid=1
      Tolak DCA, Warga Natuna Kerahkan 3.000 Warga                              
               Kamis, 02 Agustus 2007                       RANAI - Sekitar 
3.000 warga Natuna akan mengelar apel siaga menolak pelaksanaan Perjanjian 
Latihan Pertahanan (DCA) Indonesia-Singapura, Sabtu (4/8). Pasalnya, dalam 
perjanjian itu, Singapura diizinkan berlatih perang di wilayah perairan Natuna. 

  "Sekitar tiga ribu warga akan berkumpul di halaman kantor bupati menolak 
DCA," kata Bupati Natuna, Drs H Daeng Rusnadi, di Ranai, Natuna, Rabu (1/8). 

 
Daeng mengatakan, penolakan warga Natuna terhadap DCA tidak pernah didengar 
pemerintah pusat. Karena itu, dengan apel siaga tersebut diharapkan pemimpin 
bangsa ini lebih arif dalam membuat kebijakan yang menyangkut hidup orang 
banyak. "Mudah-mudahan Presiden bisa mengambil kebijakan dengan mementahkan DCA 
dan tidak terpengaruh janji manis Singapura," katanya. 

 
Menurut Daeng, sebagai kepala daerah, ia berwenang mengamankan wilayah 
Kabupaten Natuna yang berada di tengah Laut China Selatan. "Berdasarkan otonomi 
daerah, seharusnya saya yang menentukan boleh tidaknya Natuna dijadikan wilayah 
latihan perang," katanya. 

 
Menurut Daeng, DCA merugikan warga Natuna. Selain ketakutan dan depresi dengan 
penggunaan perlengkapan perang di wilayahnya, ia mengatakan, latihan pertahanan 
juga akan membuat Natuna lebih terisolir. 

 
Ia mengatakan penerbangan satu-satunya dari Batam akan terganggu karena rute 
harus berputar melalui Kalimantan. "Tidak ada perang saja tidak ada yang mau 
datang karena jauh, ada DCA, lebih jauh lagi karena pesawat harus berputar," 
katanya. 

 
Latihan perang juga diperkirakan akan mengganggu ekosistem. Padahal, menurut 
Daeng sebagian besar warga Natuna adalah nelayan. "Bayangkan, nelayan sudah 
takut melaut karena ada mortir beterbangan, juga tidak bisa mendapatkan ikan 
karena ikannya lari semua," katanya. 

 
Ia menyatakan, sejak perjanjian yang satu paket dengan Kerjasama Ekstradisi 
(ET) itu ditandatangani, April lalu, pemerintah pusat maupun jajaran Menteri 
Pertahanan dan TNI menghubunginya untuk mendiskusikan DCA. 

 
Sementara itu, anggota DPR Harry Azhar Aziz mengatakan aksi diperlukan untuk 
menunjukan sikap warga. "Tapi jangan anarkis," katanya, di Ranai Natuna. 

 
Ia mengatakan meskipun DPR bersama DPD telah menolak DCA, namun pemerintah 
tetap mempertimbangkan melaksanakan latihan di Area Bravo, Natuna. 

 
Di Magelang, minggu lalu, Panglima TNI Marsekal TNI Djoko Suyanto mengatakan, 
prioritas penggunaan suatu tempat sebagai lokasi latihan militer tetap dimiliki 
TNI. Namun, ia mengatakan, hingga kini TNI menunggu hasil perundingan lanjutan 
antara menteri luar negeri Indonesia dengan Singapura tentang DCA tersebut. 

 
Perundingan pelaksanaan teknis DCA, katanya, antara lain menyangkut daerah 
latihan, definisi latihan, jumlah personel, batasan ketinggian latihan, 
tanggung jawab kalau terjadi kerusakan, dan periode latihan. 

 
"Tentang pengaturan kalau mereka berlatih di satu tempat, daerah latihan yang 
telah disepakati itu, definisi latihan itu apa, jumlahnya berapa, frekuensi 
latihan harus berapa, batasan ketinggian, siapa saja yang boleh ikut, kalau ada 
kerusakan siapa yang bertanggung jawab. Jadi aturan-aturan yang sangat 
mengikat, tidak boleh dia setiap hari kesitu, jadi dalam satu periode itu 
berapa lama," katanya. 


       
---------------------------------
Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out. 

Kirim email ke