Buletin Elektronik www.Prakarsa-Rakyat.org 
           
                  SADAR 

                  Simpul Untuk Keadilan dan Demokrasi
                  Edisi: 56 Tahun III - 2007
                  Sumber: www.prakarsa-rakyat.org
                 

--------------------------------------------------------------
                 


                  MENIMBANG CELAH CALON INDEPENDEN 

                  BAGI ORGANISASI MASSA DALAM PILKADA LANGSUNG





                  Oleh: Triyanti Widiastuti   [1]



                  Keputusan Mahkamah Konstitusi pada Kamis, 26 Juli 2007 
tentang disahkannya calon perorangan untuk maju menjadi calon gubernur seperti 
tidak mendapat respon besar di kalangan masyarakat kita, atau minimal dalam 
perbincangan pemimpin organisasi massa saat ini. Calon perorangan yang muncul, 
tidak lepas dari pilkada DKI Jakarta yang sedang gencar berproses kampanye ria 
sebelum waktunya dan mendapat protes keras dari orang-orang yang tidak lolos 
melalui mekanisme partai. Sementara kebanyakan orang sibuk dengan calon 
gubernur DKI yang sekarang getol menyebar uang dan janji. Deal-deal kepentingan 
jual suara anggota ormas dengan bertukar rupiah dan jabatan atau proyek ke 
depan, seperti lebih memabukkan dari pada ! menggagas peluang-peluang yang bisa 
dilakukan secara mandiri oleh kekuatan rakyat, walaupun pasti ada ancaman dan 
hambatannya.

                  Melihat sekilas pilkada gubernur DKI Jakarta, saat ini kita 
berhadapan dengan dua pilihan: yang satu (kubu Adang) tidak memahami persoalan 
dan nampaknya mengandalkan penyelesaian ala neoliberal untuk soal 
ketenagakerjaan dan termasuk soal lain; sementara yang lain (kubu Fauzi) jelas 
dan tegas bersikap anti-buruh dan hanya menebar janji humanis. Penglihatan 
sekilas ini didapat dari debat para jurkam kedua calon di SCTV, 25 juli 2007. 
Juga dalam setiap kampanye kedua calon dengan menggaet sejumlah ormas serta 
memobilisasi massanya. Namun ini menjadi tidak dipedulikan oleh banyak pimpinan 
serikat buruh atau ormas lainnya dan asyik mencari celah dapat duit. Bahkan ada 
seorang kawa! n aktifis yang terkenal paling radikal bilang: "kita! injek k 
akinya biar keluar duitnya". Ini cermin dari pendirian kelas buruh yang lemah 
dan cenderung oportunis. Tentu tidak ada pilihan keduanya untuk dipilih dalam 
pilgub atau dalam taktik apapun tidak ada yang bisa mempertemukan cagub dengan 
kepentingan ormas dan persoalan rakyat. 

                  Yang begitu menggebu untuk membicarakan soal calon 
independen/perorangan hanyalah beberapa individu yang ambisius naik menjadi 
calon gubernur dan gagal melalui mekanisme partai. Keadaaan ini seperti memberi 
gambaran akan ambisi pribadi dan balas dendam ketika ada sebuah peluang. Watak 
mencari untung sendiri dengan menebar berbagai dalih pembenaran atas 
dukungannya menunjukkan dominasi watak bojuis hari ini dalam masyarakat kita, 
bahkan di dalam diri pimpinan ormas yang disebut maju. 

                  Mencuatkan opini calon independen dengan start pilkada DKI, 
sebenarnya menjadi strategi intelektual borjuis yang ingin naik ke tampuk 
kekuasaan dengan memanfaatkan program humanis dan asal anti kemapanan atau anti 
kekuasaan yang ada di tengah massa mengambang serta kerinduan besar akan 
perubahan. Keadaan ini yang seharusnya dijawab terbalik oleh organisasi massa 
yang lebih progresif, yakni memanfaatkan momentum untuk mengencangkan ikatan 
persatuan antar sektor dan menyusun program yang benar-benar berpihak kepada 
rakyat dan anti neoliberlisme. Karena bagaimanapun, membiarkan momentum calon 
independen pilkada dilepas kepada intelektual borjuis akan melahirkan 
kelompok-kelompok baru yang "asal", anarkis dan tidak terorganisir dalam 
kepemimpinan kelas pekerja.

                  Bergulirnya calon independen bagi DKI Jakarta mema! ng sudah 
tidak punya peluang. Pun, di daerah-daerah masih menu! nggu atu ran 
pelaksanannya. Ini problem lainnya, karena ribut siapa yang mengatur masih 
belum selesai. Apakah KPUD, Presiden atau Mendagri. Dengan tidak mengabaikan 
persoalan siapa yang mengatur dan memakai aturan apa, karena hal kecil. Dari 
persoalan tersebut organisasi massa dan orpol kelas sudah harus menyiapkan 
konsolidasi internal organisasi serta konsolidasi dalam bentuk front persatuan. 
Organisasi massa yang memiliki pendirian kelas yang jelas, sudah harus 
menimbang celah peluang dan menghitung hambatan dalam rangka mendekatkan kelas 
pekerja pada tampuk kekuasaan. Tentu ini dimaknai sebagai kerja keras dari 
mulai titik-titik kekuasaan terendah yang paling mungkin direbut oleh kelas 
pekerja.

                  Selain hambatan kecil soal peraturan pelaksana dan siapa yang 
mengatur, ada ancaman besar yang harus diwaspadai oleh organisasi yang 
mengusung prinsip perjuangan kelas. A! ncaman tersebut adalah:

                  Pertama, memberikan mimpi selangit bagi pimpinan-pimpinan 
ormas. Khususnya penyakit ingin popular dan menduduki jabatan tertentu dengan 
memakai massa untuk menjadi "pelontar" ia naik dalam pilkada. Kondisi ini juga 
akan "sedikit" menyulitkan karena akan banyak konflik horizontal antar rakyat 
dan organisasi. Ini penyakit umum dalam demokrasi liberal yang harus dikikis 
habis dalam organisasi yang meyakini dan melandaskan geraknya dengan perjuangan 
kelas.

                  Kedua, menumbuhkembangkan individualisme dan persaingan serta 
hilangnya keyakinan akan perjuangan kelas buruh ole! h masyarakat awam. Ini 
ancaman besar dalam proses pembangunan ! kekuatan politik kelas, artinya proses 
berlawan dan sadar politik dari massa saat ini bisa berjalan mundur dan 
menjauhkan perjuangan kelas rakyat Indonesia. Pemahaman ini dipasok pada 
propaganda bahwa demokrasi liberal lebih akomodatif, ada kompromi antara 
penghisap dan yang dihisap serta selalu disediakan ruang bagi rakyat untuk 
berperan serta. Propaganda ini harus dijawab oleh organisasi yang berlandaskan 
kepentingan kelas, bahwa politik pengaruh, politik uang dan memanfaatkan suara 
massa tetap terjadi dan penipuan ini harus benar-benar dibongkar.

                  Ketiga, hilangnya kehendak dan keyakinan pada partai politik 
sebagai alat politik, khususnya partai kelas buruh. Karena yang tumbuh dalam 
era calon independen dalam masyarakat adalah kepercayaan pada individu bukan 
kolektivitas. 

                  Menimbang celah peluang calon independen/perorangan dalam 
pilkada baik daerah kota/kabupaten maupun propinsi, harus juga dikalkulasi 
kekuatan yang riil ormas-ormas yang maju maupun orpol yang berbasiskan kekuatan 
dan kepentingan kelas pekerja. Karena syarat untuk bisa memajukan calon 
independen yang bisa menjawab kebutuhan dan kepentingan kelas pekerja hanyalah 
ketika dipandu oleh kekuatan partai politik yang dipimpin, diisi dan memihak 
kelas pekerja. Syarat ini sebenarnya untuk memastikan bahwa ada calon pilihan 
dari kelas pekerja dan kekuatan organisasional mampu melakukan instruksinya 
serta mampu mengontrol apabila berkuasa. Di sisi lain dibutuhkan tradisi 
politik yang baru dalam pilkada, yakni tradisi yang mengedepankan program yang 
konkrit berbasis kebutuhan masyarakat dan ikatan organisasional, bukan tradisi 
politik uang.

                  Tentu saja, ! kita tid ak bisa berkeluh kesah dan hanya 
melakukan intrik sana-sini. Peluang sekecil apapun harus digunakan untuk 
menaikkan kelas pekerja pada tampuk kekuasaan. Di antara ancaman besar tersebut 
ada sebuah peluang besar untuk bisa merebut kekuasaan dengan tumbuh kembangnya 
organisasi massa yang maju dan menuntun massa-nya memasuki gelanggang politik 
riil. Selain itu, kefrustasian massa rakyat pekerja dengan penipuan oleh partai 
borjuis serta intelek borjuis bisa dikikis dengan memberikan keyakinan bahwa 
dengan membangun kekuatan kelas pekerja bersama bisa menuju kekuasaan riil. 
Peluang yang lainnya adalah bahwa organisasi rakyat yang berprinsip perjuangan 
kelas bisa berpropaganda terbuka, beroposisi terbuka dengan program dan pilihan 
pimpinannya sendiri yang lahir dari massa. Namun ini harus terus diwaspadai dan 
organisasi bertindak ekstra hati-hati, karena kapitalisme dengan rezim 
kompradornya serta seluruh anteknya tentu tidak akan tinggal diam akan gerakan 
yang mengancam mereka.

                  Dengan keadaan tersebut, maka kita secara bersama sudah harus 
menggagas langkah cepat. Pertama, konsolidasi antar organisasi massa yang maju 
di semua wilayah untuk membangun kekuatan politik yang dilandaskan pada 
kesepakatan kolektif organisasi untuk mengusung calon dari kelas pekerja. 
Bentuk persatuan ini bisa front persatuan di tingkat wilayah-wilayah dan 
ditargetkan dalam persatuan nsional untuk kepentingan lebih besar.

                  Kedua, front persatuan di tingkat wilayah dan nasional sudah 
harus menegaskan sikap politiknya pada pilkada dan momentum politik apapun, 
sehingga terlihat posisi tegasnya terhadap rezim dan pe! main politik serta 
keberpihakan pada rakyat. Selanjutnya pendi! dikan po litik terhadap massa dan 
kadernya dalam rangka menempatkan calon independen dalam pilkada hanyalah 
taktik. Sikap politik lainnya adalah dengan membangun oposisi terhadap rezim di 
wilayah lokal oleh front persatuan tersebut. Ini juga sebagai alat pembelajaran 
kepada massa pekerja akan konsistensi dalam bersikap. 

                  Ketiga, semua pekerjaan ini harus dilandaskan pada 
kepentingan pembebasan kelas pekerja Indonesia dari penghisapan kapitalisme 
yang memakai rezim komprador dan seluruh borjuis anteknya. Artinya pembangunan 
kekuatan di semua wilayah dan nasional mengharuskan pembangunan partai kelas 
buruh yang bebas dari subyektivisme, revisionisme dan merasa besar sendiri. 
Partai ini harus didasarkan kekuatan pokok kaum buruh dan ! kaum tani yang 
terorganisir secara ideologi, politik dan organisasi. 

                  Memang, ini proses dialektika yang begitu panjang dalam 
melawan neoliberalisme oleh kelas buruh. Namun proses ini akan semakin 
mematangkan kemampuan kaum buruh, kaum tani dan kelas pekerja secara menyeluruh 
dalam berlawan. Tentu saja program yang berlandaskan kebutuhan massa serta 
jalan keluar untuk menjawabnya dan dijalankan secara konsistenlah yang akan 
menjadi besar dan diikuti oleh massa.


                   




--------------------------------------------------------------

                  [1] Penulis adalah angg ota Serikat Buruh PT RF Hitec 
Indonesia (SBHI) Bogor, sekaligus anggota Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat 
Simpul Jabodetabek.




                 
                    
           
            [EMAIL PROTECTED]    
     


Kirim email ke