http://www.berpolitik.com/news.pl?n_id=6849&c_id=21&g_id=151

Senin, Agu 06, 2007 17:41
Mendagri Baru
Skenario Jalan Tengah: Sudi Pengganti Ma'ruf
 - berpolitik.com
  Presiden Yudhoyonobalipos  *(berpolitik.com)* Besok (7/8) tepat 3 bulan
waktu yang dijanjikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menetapkan
Mendagri definitif jika Moh M. Ma'ruf masih membutuhkan waktu yang panjang
untuk benar-benar pulih dari stroke yang menyerangnya. Saat ini, posisi
Ma'ruf dirangkap oleh Menkopolkam Widodo AS.

Sejumlah nama mengapung. Terakhir, diberitakan sejumlah kawan-kawan SBY
menjagokan M. Yasin. Jenderal bintang tiga yang masih aktif ini dikenal
sebagai kawan dekat SBY sejak di Akabri. Nama Yasin sebenarnya sudah pernah
melejit menjelang reshuffle kabinet jilid II. Tapi, belakangan nama dia
menghilang dari bursa. Padahal, selain sebagai Mendagari, Yasin juga sempat
digadang-gadang sebagai Kabakin.

Mencuatnya nama Yasin seolah-olah hendak menenggelamkan kembali nama
Gubernur Jakarta, Sutiyoso. Pekan lalu, tak kurang dua media di Ibukota
mengangkat pencalonan Sutiyoso ini di halaman mukanya sebagai *headline*.
Sutiyoso dianggap figur yang dibutuhkan untuk menuntaskan berbagai pekerjaan
rumah pemerintah yang berkaitan dengan penyusunan berbagai UU politik,
termasuk soal calon independen.

Sebelumnya, beberapa nama gubernur juga sempat disebut. Ada nama Gubernur
Jawa Tengah Mardiyanto yang diunggulkan pengalaman dan keseniorannya, ada
nama Fadel Muhammad yang dianggap sukses sebagai Gubernur Gorontalo. Selain
itu juga ada mantan Gubernur Sulut yang kini menjabat sebagai Ketua Komisi
II DPR-RI, E.E.Mangindaan.

Nama Mangindaan bukan kali pertama disebut-sebut bakal dijadikan Mendagri.
Pada saat penyusunan Kabinet Indonesia Bersatu, namanya sempat dijagokan
untuk menduduki posisi strategis ini.Namun, belakangan SBY malah memilih
Moh. Maaruf. Konon, Kalla-lah yang punya andil mendesak SBY untuk menetapkan
ketua tim kampanye mereka di posisi mendagri. Ketika Mangindaan tak
terpilih, anggota Partai Demokrat di Sulut mengibarkan bendera setengah
tiang di halam sekretariat DPD PD Sulut sebagai simbol kekecewaan.

Di luar itu,masih ada nama Siti Nurbaya (Sekjen Depdagri), Ryaas Rasyid
(Partai Demokrasi dan Kebangsaan) dan bahkan nama Agung Laksono (Ketua DPR)
juga diapungkan. Padahal, kalau dilihat posisinya, ketua DPR pasti tak kalah
bergensi dibandingkan dengan Mendagri.

Selain orang, isu yang sifatnya dikotomis diangkat kembali. Sebut misalnya
soal sipil-militer, berpengalaman-tidak berpengalaman, orang partai - bukan
orang partai. Pewacanaan soal ini sepertinya hanya untuk memberi legitimasi
atau mendelegitimasi calon-calon yang sudah ramai diberitakan oleh media
massa.

Pertanyaannya, siapa yang bakal dipilih SBY?

Nama Sutiyoso dan Fadel diperkirakan bakal terpental. Pasalnya, SBY telah
dinasehati kalangan dekatnya untuk tidak memilih orang yang punya
kepentingan pada pemilu presiden 2009. Maklum, kedua Gubernur ini sudah
ramai digadang-gadang sejumlah pihak menjadi capres atau setidaknya capres.
Sutiyoso dikabarkan bakal berduet dengan sejumlah nama, dari mulai Megawati
hingga Jusuf Kalla. Fadel diperkirakan bakal merapat ke Wiranto, tapi tak
tertutup kemungkinan juga bersanding dengan bekas rekan bisnisnya di Bukaka,
Jusuf Kalla. Jika memilih antara kedua nama ini, SBY disebut tak ubahnya
"memelihara anak macan".

Menurut sumber berpolitik.com, SBY kini tengah dipusingkan untuk memilih
satu dari dua nama yang paling diunggulkan. Dan, itu bukan pilihan mudah.
Dua nama itu adalah M.Yasin dan Mangindaan. Keduanya mempunyai andil yang
besar dalam pemenangan dirinya pada pemilu 2004 lalu. Dua-duanya memperoleh
dukungan dari kalangan internal pendukung dirinya, baik di jalur partai
(Demokrat) maupun yang sifatnya non-informal.

Jika Yasin, terpilih, para pendukung Mangindaan bakal kembali kecewa. Meski
Mangindaan sendiri sepertinya tak terlalu memusingkan apakah dirinya bakal
dipilih atau tidak, para pendukungnya di Sulawesi Utara bisa tambah gondok
jika *gacoan* mereka kembali tergusur.

Yang juga tambah mangkel adalah kalangan internal Partai Demokrat yang
merasa tak mendapat jatah yang sesuai dengan prestasi yang sudah mereka
peroleh. Bagi mereka, dipilihnya Mangindaan merupakan bentuk apresiasi SBY
terhadap partai yang yang menjadi pengusung utama pencalonan dirinya pada
pilpres 2004 lalu.

Repotnya, sebagian pendukung SBY justru menginginkan agar Yasinlah yang
mendapat kehormatan mengisi kursi Mendagri. Ada beberapa alasan yang
melatarbelakangi dukungan itu. Pertama, dibandingkan anggota tim inti
kampanyenya pada 2004 lalu, Yasin termasuk salah satu dari sebagian kecil
jenderal yang belum memperoleh "apresiasi" dari SBY.

Kedua, Yasin dianggap telah terbukti keandalannya dalam berpolitik dengan
keberhasilannya menggaet Akbar Tandjung dalam ormas Barisan Indonesia
(Barindo). Merapatnya Akbar dianggap penting secara simbolik dalam
kontestasi terselubung antara SBY dengan Kalla dan faksi tertentu di Partai
Golkar.

Ketiga, nama Yasin bukan kali pertama diapungkan. Jika kali ini pun
terpental, tentu saja, Yasin bukan tak mungkin bakal menyeberang. Langkah
ini dikabarkan mulai diancang-ancang sejumlah jenderal yang dulunya pernah
menjadi pendukung inti SBY.Dus, bagi SBY, mengesampingkan Yasin samalah
artinya menggerus kekuatannya sendiri.

Masalahnya, Yasin bukan tanpa masalah. Manuvernya mendirikan Barindo
dianggap sebagai tindakan "memotong" kawan seiring. Pasalnya, Achdari dan
beberapa Jenderal lainnya sebenarnya sudah pernah menggadang sebuah ormas
lain untuk menampung para relawan dalam kampanye 2004 lalu. Namun, ormas itu
bagai dilupakan begitu saja dengan keberadaan Barindo.

Bila dihadapkan kepada dua pilihan yang pelik seperti ini, SBY cenderung
mencari pilihan ketiga. Karena itulah, sumber berpolitik menyebut
kemungkinan diimplementasikannya skenario jalan tengah. Skenario itu adalah
menempatkan Sudi Silalahi sebagai Menteri Dalam Negeri.

Jabatan Sudi selaku Menteri Sekretaris Kabinet bakal disorongkan kepada
M.Yasin. Ini dengan asumsi Mangindaan sudah merasa "bahagia" dengan
posisinya saat ini dan ia bisa menjamin para pendukungnya tidak bermasalah
dengan keputusan itu. Jika tidak, M Yasin bakal disorong menjadi Ketua
Bakin, sedangkan posisi yang ditinggalkan Sudi bakal diserahkan kepada EE
Mangindaan.

Sumber berpolitik.com, memperkirakan kemungkinan terakhir inilah yang lebih
mungkin mewujud. Tapi, "Masih bisa berubah loh,kalau nanti ada tekanan
lain," ujarnya via telepon. Sayangnya dia enggan menjelaskan apa bentuk
tekanan itu dan siapa yang melakukannya. "Yang jelas bukan (Jusuf) Kalla.
Kalau untuk posisi ini, dia tahu dirilah. Ini jatah orangnya
Presiden,"tandasnya.

Kirim email ke