http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/082007/06/99esq.htm

"Brain Drain" dan Kebangkitan Bangsa
Oleh ARY GINANJAR AGUSTIAN



ADA sebuah pepatah Cina yang intinya menyatakan kalau bangsa mau sukses, yang 
harus dilakukan adalah membangun SDM-nya. Kebangkitan nasional adalah hasil 
dari cemerlangnya kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia pada awal tahun 
1900-an. 

SDM unggul yang mampu menjadi agen perubahan, seperti Dr. Wahidin Sudiro 
Husodo, lahir dari sistem pendidikan yang terarah dan terukur. Pertanyaannya, 
bagaimana dengan SDM dan sistem pendidikan kita dewasa ini?

Setelah generasi para "Bapak Bangsa" berlalu, sistem pendidikan nasional kita 
tak kunjung tuntas dan jelas. Ungkapan "ganti menteri, ganti kebijakan" terus 
berlaku. Akibatnya, kualitas anak didik tak bisa diunggulkan. Untuk mendapatkan 
pendidikan berkualitas banyak pelajar dan mahasiswa kita "lari" ke luar negeri, 
termasuk yang disponsori negara dengan jumlah ribuan tiap tahunnya.

Tetapi, dengan alasan minimnya kesempatan, pekerjaan, dan kurangnya penghargaan 
yang layak, setelah lulus mereka enggan kembali ke tanah air. Banyak putra 
Indonesia yang jenius, memilih hidup di luar negeri. Fenomena itu disebut brain 
drain (hengkangnya otak-otak cemerlang).

Ketidakpulangan mereka jelas merugikan bangsa dan negara. Terutama yang 
berangkat dengan beasiswa negara, yang berasal dari pajak rakyat. Berapa 
banyakkah otak cemerlang Indonesia yang menyeberang? Indonesia tidak punya data 
lengkap. Sebagai perbandingan, dalam konferensi PBB untuk perdagangan dan 
pembangunan (1996) disebutkan, paling tidak benua Afrika kehilangan 60.000 
tenaga terampilnya antara tahun 1985-1990 atau hampir senilai US$ 12 miliar 
(sekitar Rp 110 triliun).

Mereka adalah aset bangsa, SDM yang unggul. Akan tetapi, di negeri sendiri, 
para cerdik pandai itu merasa tidak bahagia lahir dan batin. Bayangkan, gaji 
peneliti lulusan program doktoral (S-3) hanya Rp 1,5 juta per bulan, lebih 
rendah dari gaji sopir busway yang mencapai Rp 3 juta per bulan.

Demikian pula penghasilan guru besar di perguruan tinggi negeri hanya Rp 2,5 
juta per bulan, lebih kecil dari beasiswa yang didapat 15 tahun lalu sebesar 
US$ 600 (sekitar Rp 5,5 juta). Dengan kenyataan itu, jelas, mereka tidak 
mendapatkan kebahagiaan emosi maupun fisik karena tidak mendapatkan pengakuan 
dan penghargaan yang layak.

Majalah Gatra terbitan 10 Oktober 2003 pernah mewawancarai salah seorang dari 
mereka, Dr. T, yang mengaku sangat ingin pulang ke Indonesia dan berkarya di 
negeri sendiri. Selain mengajukan syarat gaji dan bidang keilmuan yang cocok, 
"Saya cuma minta fasilitas laboratorium yang memadai dengan akses internet, 
serta komitmen untuk membantu pengembangannya," katanya. Dengan itu saja tanpa 
perlu fasilitas rumah dan mobil, maka vocation (panggilan jiwanya) akan 
terpenuhi. 

Bagaimana untuk mengatasi hal ini? Sebelum berangkat ke luar negeri, sebaiknya 
mereka diberikan pembekalan mengenai komitmen spiritual hingga memahami makna 
kehidupan tertinggi. Tak lupa komitmen emosional agar memiliki wawasan 
kebangsaan (nasionalisme). Jadi, mereka tidak hanya mengandalkan komitmen 
intelektual yang berorientasi pada materi belaka.

Gerakan repatriasi, yaitu kembalinya SDM kita ke pangkuan ibu pertiwi, harus 
dimulai. Taiwan telah melakukannya, dan kini produk domestik brutonya (GDP) per 
kapita di atas US$ 20.000 per tahun. Di India, sejak awal 2000 sampai kini, 
diperkirakan 35.000 warganya pulang, dan India sekarang melaju menyusul Cina. 

Thailand membuat program "Reserve Brain Drain" dengan iming-iming gaji dua kali 
lipat standar domestik. Di Pakistan, Menteri Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan, 
Prof. Attaur Rahman, meningkatkan insentif mereka sebesar empat kali gaji 
menteri. Ayo, pulangkan para putra bangsa yang bersinar, untuk sebuah 
"Indonesia Emas"! ***

Ida Hadi (41)
ESQ untuk Perawat

SUDAH beberapa bulan ini, RS Cibabat Kota Cimahi rajin mengirimkan dokter, 
perawat, dan tenaga administrasi untuk mengikuti pelatihan ESQ Peduli Kesehatan 
(PK). "Untuk perawat dan tenaga administrasi yang telah mengikuti pelatihan ESQ 
PK sebanyak 30 orang," kata Kasubid Keperawatan RS Cibabat, Ny. Ida Hadi (41), 
di ruang kerja Direktur RS Cibabat, dr. Hanny Ronosulistyo, Sp.OG, baru-baru 
ini.

Ny. Ida merupakan alumni ESQ PK angkatan ke-1 di Gedung Risti Telkom bersama 
dengan sekitar 400 dokter dan perawat dari beberapa RS di Jawa Barat. "Grafik 
keimanan seseorang kadang naik dan turun, sehingga dengan ikut pelatihan ESQ 
diharapkan grafiknya naik," ucapnya.

Selain itu, para perawat yang sudah ikut pelatihan ESQ bisa lebih meningkat 
kinerjanya. "ESQ melatih kita untuk disiplin, kerja sama, peduli, dan tanggung 
jawab termasuk dalam bekerja melayani pasien," ujarnya. (Sarnapi/"PR")***

Kirim email ke