Seri Road to Holy Land: Pongdut vs Debus, Seren Taun Ceptagelar 2007
   
   
  
  Saya mengukuti perjalanan ke Ciptagelar bersama kasepuhan Sindangbarang. 
Perjalanan selama 7 jam dari Bogor sangatlah mengejutkan. Medan berat kami 
lalui selepas Pelabuhan Ratu menuju Ciptagelar melalui desa Cengkuk dan 
Ciptarasa.
   Hampir selama 3 jam tubuh ini tergoncang dalam mobil yang menembus hutan 
berjalan di atas bebatuan dengan kontur tanah yang nyaris terjal. Beginikah 
perjalanan menelusuri budaya Sunda? Beginikah pejalanan mencari pemahaman jati 
diri? Luar biasaaa…
   
   
  Pukul 4 sore, kami sampai di Ciptagelar. Syukurlah….kami tiba dalam keadaan 
sehat mengingat medan yang kami tempuh sebelumnya sangat menguras tenaga. Ramai 
suasana di sana, Land Rover pun berjajar, bikers-bikers pun memarkirkan 
sepeda-sepeda mereka. Ramai….Dingin stabil mulai saya rasakan. Namun dinginnya 
lingkungan Gunung Halimun itu terpecah ketika saya mendengar keriaan pongdut di 
lapangan bawah Ciptageler. Naluri dangduters saya segera membawa kaki saya 
melangkah mencari keriaan tersebut. Melewati perkampugan penduduk yang ramai, 
melewati banyak tenda pedagang yang menjual bermacam komoditas dari kerajinan 
masyarakat adat sampai Coca Cola. Ada juga rupanya Coca Cola samapai di 
Ciptagelar. Luar biasa Amerika…
   
  Terperangahlah saya ketika mendekati panggung pongdut tersebut….seorang 
penyanyi dangdut dengan kostum warna biru meliuk-liuk mengguyangkan pinggulnya. 
Hebat…ia mengenakan hotpants jeans dan kemben warna biru. Bergerak erotis 
mengikuti musik pengiring lagu Kucing Garong. Tak terduga…menjelang upacaa 
Seren Taun …menjelang upacara adat yang sudah berlangsung selama 600 tahunan 
ada pertunjukkan pongdut sedahsyat itu. Tak ketinggalan saweran pun mulai 
bertebaran….1000, 10000, sampai 50000. saya rasa pongdut merupakan mesin uang 
produktif. Hebat.
   
  Hari semakin sore dan dingin, lapar pun menyerang. Saya dan seorang kawan 
memutuskan keluar dari keramaian untuk mencari udara segar dan suasana sepi. 
Kami mendapati perlombaan panjat pinang. Seru sekali. Laki-laki, perempuan, tua 
muda bahu membahu untuk mengambil hadiah-hadiah yang tergantung di puncak kayu 
pinang, termasuk mengambil sebotol Coca Cola. Melihat Coca Cola tergantung pun 
kami merasa sudah seharusnya segera mencari penawar dahaga. Saya menuruni tanah 
kering berdebu menuju sisi lain perkampungan Ciptagelar. Sinyal kuat kami 
menangkap frekwensi mi instan rebus. Segeralah kami menuju warung mungil dekat 
leuit-leuit (lumbung padi) yang berdiri angkuh, tegar, dan berjumlah puluhan. 
“Ceu, sama nasi ya…”
  “Iya neng, makan di rumah aja yuk, biar santai.”
  “Nuhun Ceu, enak di warung aja.”
  Tak lama datanglah  dua mangkuk mi rebus dan sepiring nasi beras merah.
  “Neng, kalo di sini kita ga boleh jual nasi. Neng boleh minta nasi sesuka 
Neng.”
  “Waw….hatur tengkyu Ceu.”
  Luar biasa
   
  Semakin gelap, malam, dingin. Kami beristirahat di wisma Sudin Budpar 
Sukabumi. Sambil mendengar suara pertunjukkan Jipeng di panggung dekat wisma 
budpar. Tapi lama kelamaan..telinga saya agak terkejut mendengar lagu Kucing 
Garong yang tampaknya keluar dari speaker besar di panggung Jipeng. Saya tengok 
melalui jendela…dan…waaw…..pongdut kembali berjaya.
  Saya kembali tergugah untuk melihat pertunjukkan di panggung Jipeng. Dan 
benar adanya…walaupun seniman Jipeng masih duduk di panggung namun pertunjukkan 
sudah digantikan oleh pongdut Ciptagelar. Semakin malam, semakin dingin, gerak 
erotis dangduters pun semakin bombastis.
  Laki-laki pun sudah berani untuk naik ke panggung ikut menari bersama 
penyanyi tersebut. Tidak seperti pada panggung siang hari….tampak malu-malu. 
  Gerak dinamis dan erotis pun sempat mendapat sentilan pedas dari pengunjung 
yang datang dari Bandung. Namun apa boleh buat dimana bumi dipijak, disitulah 
langit dijunjung. Saya rasa fenomena Pongdut di Kampung Masyarakat Adat 
Ciptagelar dapat menjadi sebuah kajian budaya dari multidisiplin. Malam makin 
dingin, dingin pun memaksa saya untuk meninggalkan keramaian panggung. Saya 
memilih membungkus tubuh dengan sleepingbag. Dan terlelap dalam gelap malam.
   
  Upacara Seren Taun dilaksanakan pukul 9. Arak-arakan pun menjadi keramaian 
tersendiri. Debus, rengkong, angklung gubrak menjadi andalan arak-arakan Seren 
Taun Ciptagelar. Sampailah pada penghujung acara, ritual memasukkan padi ke 
adalam leuit Si JImat yang dipimpin Abah Anom dan diikuti istri pertama beserta 
ketiga anak mereka. Prosesi berjalan hikmat. Pantun Sunda dilantunkan untuk 
memuji Tuhan, diiringi petikan kecapi. Upacara selesai dan rangkaian acara 
Seren Taun Ciptagelar pun selesai. 
   
  Saya hanya dapat mengambil beberapa gambar dan memikirkan beberapa masalah 
dan keriaan yang saya temukan pada kunjungan perma saya ke Ciptagelar…mungkin 
juga menjadi kunjungan terakhir saya.
  Beberapa kisah dan pemandangan yang saya dapatkan selama 14 jam di Ciptagelar 
membuat saya senang sekaligus bingung. Hahahaha…..dan lagi-lagi muncul banyak 
pertanyaan dalam benak saya….menggelitik….
  Bagaimana caranya keluarga Abah Anom bisa sampai ke Ciptagelar? Sudah 600 
tahunan mereka ada di kaki Halimun, adakah keinginan mereka kembali ke daerah 
asal mereka (Pakwan Pajajaran dahulu)?  Adakah mereka mencari akarnya? 
Perempuan-perempuan di Ciptagelar begitu bersih, putih, dan memiliki ciri fisik 
yang mirip etnis Cina, adakah mereka memiliki hubungan darah dengan ras 
Mongoloid? Permukiman mereka sangat solid, bagaimana mereka bias tinggal di 
tempat yang terpencil seperti itu? Bagaimana cara mereka survive? Bagaimana 
pergaulan antar penduduk di dalamnya? Bagaimanakah sistem kekerabatan dan 
perkawinan antar penduduk? Bagaimana kehidupan prempuan-perempuan dalam 
masyarakat adapt, mengingat…..mereka sudah menikah dalam usia yang sangat muda? 
Bagaimana pengaruh Pongdut dalam kesenian di lingkungan masyarakat adat 
Ciptagelar? Bagaimana kehidupan ruang publik di daerah tersebut? Bagaimana 
memori kolektif masyarakat Ciptagelar bertahan sampai sekarang? Apakah sudah ada
 pergeseran tradisi dalam kehidupan mereka? Ketika Pongdut lebih diminati 
daripada kesenian seperti debus, jipeng, dll yang berkembang di kampong 
adapt…….entahlah..banyak pertanyaan lagi….
  Perjalanan kami Road to Holy Land membawa kami ke Ciptagelar…..dan kami akan 
terus mencari…
   
  salam, 
  agni


<embed src="http://images.multiply.com/multiply/horizontal-headshot-badge.swf"; 
type="application/x-
       
---------------------------------
Pinpoint customers who are looking for what you sell. 

Kirim email ke