BERITA PERS 
  
  
  Dirodo Meto: Sebuah Retrospeksi Tari Ciptaan RM Said
   
  Memperingati 250 tahun usia Puro Mangkunegaran, Solo, segenap kerabat 
Mangkunegaran yang tergabung dalam Yayasan Pemerhati Puro Mangkunegaran (YPPM), 
Yayasan Soeryosumirat, serta Himpunan Kerabat Mangkunegaran Soeryosumirat akan 
menggelar ”Pergelaran Kembali Bedhoyo Mataram Senopaten Dirodo Meto”, pada 9 
Agustus 2007, di Museum Nasional, Jakarta.  
   
  Bedhoyo Senapaten Dirodo Meto merupakan satu dari tiga karya tari ciptaan 
R.M. Said, yakni:  
  Bedhoyo Mataram-Senopaten Anglirmendung 
  Ditarikan oleh tujuh penari, pesinden, dan penabuh yang kesemuanya wanita. 
Tarian ini sebagai monumen perjuangan perang Kesatrian Ponorogo yang kerap 
dipergelarkan di acara “Jumenengan”.
   
  Bedhoyo Mataram-Senopaten Dirodo Meto 
  Ditarikan oleh tujuh penari, pesinden, dan penabuh yang kesemuanya adalah 
pria. Tarian sebagai “simbol perjuangan” R.M. Said dan keberanian bala 
prajuritnya kala bertempur di hutan Sitakepyak, Rembang. 
   
  Bedhoyo Mataram-Senopaten Sukopratomo 
  Ditarikan oleh tujuh penari, pesinden, dan penabuh yang kesemuanya pria, dan 
merupakan “monumen perjuangan” Perang Bedah Benteng Kumpeni, Yogyakarta.  
   
  
   
  “Gajah Ngamuk” di Museum Nasional 
  DIPENTASKAN oleh tujuh penari dan tujuh pesinden pria, Dirodo Meto terlihat 
berbeda dari bedhoyo sebelumnya, yaitu Bedhoyo Anglir Mendung Tarian ini 
ditarikan oleh tujuh penari wanita dan tujuh pesinden wanita. 
   
  Menurut Ir Agus Haryo Sudarmodjo, Ketua Pelaksana Peringatan  250th Puro 
Mangkunegaran, penerjemahan konsep angka tujuh tersebut didasari oleh filosofi 
Jawa yang bermakna ‘Pitulungan’. “Dan merupakan jumlah tingkatan pelajaran ilmu 
tasawuf dalam agama Islam,” kata Haryo. 
   
  Menurut Haryo, Dirodo Meto merupakan bentuk kreatifitas seni R.M. Said untuk 
mengenang perlawanan dan jasa-jasa kelimabelas prajurit andalannya yang gugur 
di medan laga di hutan Sitokepyak, Rembang, Jawa Tengah. “Dalam pertempuran itu 
R.M Said bersama prajuritnya dikepung oleh dua detasemen VOC Belanda, 400 
pasukan Hamengkubuwono, serta sekitar 400 pasukan Pakubuwono,” tutur Haryo, 
menukil kisah penggalan Babad Lelampahan, yang tak lain adalah “diari pribadi” 
R.M Said. Di situ dikatakan, Perang Sitakepyak terjadi pada Senin bulan Syuro 
tahun Wawu 1681 atau tahun 1756.  
   
  Bak seekor gajah liar, R.M. Said dan bala prajuritnya benar-benar mengamuk. 
Dus, dari situlah makna tari Dirodo Meto diambil, yakni Dirada (gajah) dan Meta 
(mengamuk). 
   
  Ya, Dirodo Meto adalah tarian Si Gajah Ngamuk. Sebuah gerak tari simbolis 
untuk mengenang perjuangan dalam mempertahankan bukan saja nyawa, melainkan 
juga harga diri R.M. Said dan rakyat Mataram terhadap penindasan VOC Belanda 
dan kroni-kroninya, ketika itu. Dan terhitung, sudah lebih seratus tahun 
Bedhoyo Mataram Senopaten Dirodo Meto ini tidak lagi dipergelarkan di hadapan 
publik. 
   
  Untuk itulah kiranya, pada 9 Agustus 2007 nanti, bertempat di Museum 
Nasional, Jakarta, tarian klasik khas Mangkunegaran ini kembali dipergelarkan 
setelah dipentaskan sebagai ajang pembuka peringatan “250th Puro Mangkunegaran: 
a Reviving Moment”. pada 17 Maret 2007 lalu.  
   
  Pergelaran kembali Dirodo Meto merupakan sebuah cara untuk menjaganya dari 
“kepunahan”. Sebuah retropeksi tari hasil kajian sejarah dan penelitian 
mendalam para ahli sejarah dan sesepuh Mangkunegaran, serta para ahli tari dari 
Institut Seni Indonesia (ISI), Surakarta, Group Tari Soeryosumirat, dan Yayasan 
Pemerhati Puro Mangkunegaran (YPPM). 
   
  “Kegiatan ini memang datang dari idealisme para kerabat Mangkunegaran dan 
para pemerhatinya yang kemudian kami garap secara istiewa untuk menjadikan 
rangkaian acara ini sebagai pengalaman berharga yang tidak terlupakan,” kata 
Ricky H. Sutjipto, Direktur Idekami Communication, Penyelenggara Kegiatan, 
Marketing Communication, serta Public Relation acara. 
   
  Ricky mengatakan, Gelar Tari Dirodo Meto hingga berbagai kegiatan di puncak 
acara “250th Puro Mangkunegaran: A Reviving Moment”  pada November 2007 
mendatang merupakan hajatan seni dan budaya Mangkunegaran yang hanya akan 
terjadi sekali dalam seumur hidup. “It’s only once in a lifetime karena tidak 
akan mungkin ada 250 tahun yang kedua, inilah yang menjadikan acara ini begitu 
istimewa,” kata Ricky. Memang mustahil, rasanya, ada mesin waktu yang akan bisa 
mengembalikan momentum besar dan istimewa ini ke hadapan kita semua, kelak. 
   
  Pergelaran Tari Dirodo Meto adalah pergelaran tarian klasik khas 
Mangkunegaran sebagai gelaran seni dan budaya untuk menggalang dana bagi 
pemugaran Puro Mangkunegaran memasuki usianya yang ke-250 tahun ini. 
Keseluruhan acara ini terselenggara berkat kerjasama antara Panitia 250th Puro 
Mangkunegaran dan dukungan PT HM Sampoerna Tbk. melalui payung program 
”Sampoerna Untuk Indonesia” yang memiliki visi sama dalam meningkatkan 
apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan kebudayaan nasional, di antaranya 
seni musik tradisional Jawa.   
   
  
   
  Sekilas Tentang Perang Sitakepyak
  PEPERANGAN Sitakepyak - Rembang adalah peperangan besar kedua yang dihadapi 
R.M.Said atau Pangeran Sambernyowo, yang saat itu masih berusia 30 tahun. 
Sebuah peperangan melawan dua detachement Kumpeni Belanda (VOC) pimpinan 
komandan Kapten Van der Pol dan Kapten Beimen di sebelah selatan negeri 
Rembang, tepatnya di Hutan Sitakepyak. 
   
  Perang terjadi pada Senin Pahing 17 Sura tahun Wawu 1681 J/ 1756 M. Dan 
walaupun musuh utamanya pasukan VOC, bukan berarti pasukan tersebut tidak 
dibantu kekuatan lain. Sebagaimana dinyatakan dalam ’Babad Lelampahan’, Durma 
43, halaman 319, bahwa yang mengejar pasukan R.M.Said adalah pasukan Kumpeni 
beserta Patih Mataram Danureja, Raden Ronggo, tentara mancanegara, pasukan 
Kasultanan, prajurit Jawa Bugis dan Bali. Gabungan pasukan inilah yang terus 
mengejar pasukan R.M.Said hingga di Hutan Sitakepyak.
   
  Di hutan ini, R.M. Said harus bertahan sekuat tenaga dari kejaran 
musuh-musuhnya. Sampai akhirnya, perang pun tak terelakkan. Besarnya tentara 
yang mengepung RM.Said mendekati 1000 pasukan gabungan dari 200 orang tentara 
Kumpeni, 400 orang pasukan bugis, sedangkan pasukan jawa (Kasultanan) tak 
terhitung jumlahnya. Peristiwa ini dinyatakan dalam bait-bait Babad Lelampahan 
yang berbunyi: ”Kalihatus walandinipun kewala, dene wong bugis, kawanatus 
sedaya, wong Jawa datan winilis, wadya Mataram tinindhihan ngajurit”.  (BL, 
Durma 49;319).
   
  Konon, perang ini merupakan perang paling berat bagi R.M.Said. Pada hari 
pertama peperangan yang terjadi sampai tujuh kali, pasukan R.M.Said dibuat 
kocar kacir, diibaratkan seperti disapu air bah yang maha dahsyat. Semangat 
pasukan perangnya pun hilang, dan hanya R.M.Said sendiri yang masih tegar 
menghadapi kenyataan tersebut.
   
  Berkat pengalaman dan keberaniannya yang luar biasa, pada hari berikutnya 
R.M.Said mampu membangkitkan semangat pasukannya. Dengan kecerdikan dan 
keahliannya R.M.Said mampu membunuh komandan pasukan perang Belanda, Kapten Van 
der Pol. 
   
  Terbunuhnya kapten tersebut ternyata sangat berpengaruh terhadap kosentrasi 
perang pasukan Belanda. Situasi tersebut pun dimanfaatkan oleh R.M.Said. dan 
yang terjadi, tentara Belanda pun dibuatnya tidak berkutik, lalu melarikan 
diri. 
   
  “Pengenge Kapitan Derpol wus pejah, sasisane ingkang mati, kumpeni lemajar, 
Kanjeng Pangeran Dipatya, antuk pitulung Widhi, sabalanira, datan bujung ing 
jurit” (BL, Durma 73;321). Artinya: “Pimpinan detasemen Kapten Van der Pol 
tewas, sisa tentaranya lari tunggang langgang, hanya karena pertolongan Allah 
SWAT sajalah Pangeran Adipati dapat memenangkan pertempuran, sebaliknya musuh 
yang lari menyelamatkan diri tidak dikejarnya”.
   
  Perang pun berakhir. Korban tewas di pihak Belanda mencapai 85 orang, 
sedangkan prajurit R.M.Said 15 orang. Sementara itu, kepala Kapten Van der Pol 
dipenggal dan dijinjing dengan tangan kiri dan diserahkan oleh R.M. Said kepada 
Mbok Ajeng Wiyah, garwa ampil R.M.Said, sebagai pelunasan janji R.M.Said 
kepadanya.
   
  Memang, dihitung dari jumlah prajurit yang tewas barangkali dari pihak R. M 
Said terlihat kecil ketimbang jumlah tentara VOC. Namun, dalam ukuran tentara 
R.M.Said yang relatif sangat sedikit, jumlah tersebut adalah jumlah yang besar. 
“Karena itulah peperangan tersebut dianggapnya seabagai yang paling berat 
dibandingkan dengan perang di desa Kasatriyan, Ponorogo, yang ketika itu 
pasukan RM.Said mampu menewaskan 600 orang musuh dan korban di pihaknya hanya 
tiga orang,” jelas Haryo. 
   
  Namun demikian, menurut Haryo, hasil rampasan Perang Sitakepyak cukup besar. 
Di antaranya adalah sejumlah besar peluru dan mesiu, 120 ekor kuda, 140 pedang, 
80 karabin kecil, 130 pistol, 80 karabin panjang, serta perlengkapan perang 
lainnya. “Dan semuanya itu dihibahkan oleh R. M Said kepada para prajuritnya.” 
Kata R.M Said  seperti yang tersebut dalam Durma 77-80, halaman 322 di Babad 
Lelampahan.
   
   
  Information for 250th Puro Mangkunegaran: 
  M. Latief - Head of Public Relation Idekami Communication 
  Jl Anuraga No.22 / Cilandak - 12430 
  Phone : 021 766 9870 – Fax : 021 75904530
  Mobile : 0812 829 1263 
  Email : [EMAIL PROTECTED] – [EMAIL PROTECTED] 
  Website:http://www.idekami.com –www.mangkunegaran.org
   
   
   
   
   

       
---------------------------------
Boardwalk for $500? In 2007? Ha! 
Play Monopoly Here and Now (it's updated for today's economy) at Yahoo! Games.

Kirim email ke