mohon maaf rekan-rekan,

menyampaikan sinopsis Candi Murca Ken Arok, Hantu Padang Karautan
http://www.langitkresnahariadi.com/buku_candimurca.php

ari ams  s91a97

Judul : Candi Murca, Ken Arok, Hantu Padang Karautan.
Jumlah halaman : 832
Tebal buku : 3,4 mm
Pengarang : Langit Kresna Hariadi.
Penerbit : Langit Kresna Hariadi Production
ISBN : 978 - 979 - 16420 - 0 - 2
Alamat Penerbit : Perumahan Pesona Singosari Blok E No 1
Singosari Malang
Telp / Faks :0341 441915
Website : http://www.langitkresnahariadi.com
E-mail : [EMAIL PROTECTED]

Harga : Rp 75.000 setelah di diskon 25 %
"sudah termasuk ongkos kirim ke seluruh wilayah Indonesia."

*SINOPSIS*

Apa yang terjadi bila di tahun 2011 ditemukan jejak bayangan sebuah candi
dengan ukuran jauh lebih besar dari Borobudur ? Berpikir macam itu identik
dengan ide tentang apa yang terjadi jika bumi ini didatangi sebuah pesawat
angkasa luar yang besarnya jauh lebih besar dari sebuah kota (Film The
Independent Day)

Demikianlah candi itu dibuat pada zaman Mataram tepatnya di masa
pemerintahan Rakai Walaing Pu Kumbhayoni. Candi yang sangat besar itu
terpaksa dihilangkan dari pandangan mata karena ada pihak-pihak tertentu
yang berupaya menghancurkannya, tak ada pilihan lain untuk melindunginya
maka ia harus dimurcakan dan hanya dalam bulan purnama tertentu tampak
bayangannya, yang hanya lamat-lamat berada di antara ada dan tiada.

Uwwara Kenya perempuan dari masa silam itu, ia memiliki wajah yang amat
cantik yang tak pernah pudar meski sang waktu bergeser deras. Bila Uwwara
Kenya murka dari keningnya muncul mata ke tiga yang mampu menghanguskan apa
pun. Uwwara Kenya dikawal dengan setia oleh tujuh orang pengikutnya yang
oleh karenanya disebut kelompok tujuh, didukung oleh ribuan ekor codot
berukuran besar, salah satu di antaranya kelelawar berkulit albino yang yang
dengan setia melekat mengikuti ke mana pun majikannya pergi.

Tujuh pengikut Uwwara Kenya memiliki pertanda berupa ular melingkar yang
menempatkan diri di telapak tangan di balik kulit di atas daging yang
apabila purnama datang akan menyebabkan terjadinya perubahan tujuh orang
gedibal itu, wajah mereka berubah mengerikan dengan kemampuan yang
mengerikan.

Namun Uwwara Kenya memiliki musuh yang dengan mati-matian berusaha
melindungi candi itu. Musuh yang berderajad Dharmadyaksa sebuah agama itu
berusaha mencegah apa pun yang dilakukan Uwwara Kenya bahkan melalui
pertempuran yang butuh waktu bertahun-tahun lamanya. Puncak dari pertempuran
itu Uwwara Kenya kalah dan memutuskan bereinkarnasi di masa yang akan
datang, di mana nantinya ia bisa melanjutkan niatnya menghancurkan candi.

Namun Sang Dharmadyaksa menyusul bereinkarnasi pula.

Uwwara Kenya yang terlahir lebih dulu berusaha mati-matian memburu titisan
kembali itu yang dipastikan akan terlahir kembali dari perkawinan kakak
beradik yang masing-masing tidak menyadari mereka adalah kakak beradik.
Uwwara Kenya mengamuk membabi buta, hanya sayang titisan kembali Sang
Dharmadyaksa itu dikawal ketat oleh pengikutinya yang berjumlah lima orang
yang masing-masing siap berkorban nyawa. Jumlah mereka yang lima selanjutnya
disebut sebagai kelompok lima .

Lima orang pengawal kelahiran kembali Sang Dharmadyaksa berhadapan dengan
tujuh orang kaki tangan Uwwara Kenya .

Adalah ketika Ken Arok baru seorang maling yang malang melintang dan membuat
resah akuwu Tumapel Tunggul Ametung, kisah Candi Murca, Ken Arok Hantu
Padang Karautan ini dimulai. Parameswara yang ingin mengetahui orang tua
kandungnya pergi meninggalkan Bumi Kembang Ayun di Blambangan dan menolak
permintaan ayah angkatnya menggantikannya sebagai pimpinan di padepokan olah
kanuragan itu.

Pada saat yang sama seorang gadis bernama Swasti Prabawati justru datang
menghadap Ki Ajar Kembang Ayun meminta petunjuk mencari jejak ayahnya yang
telah sebulan menghilang. Perkenalan Parameswara dan Swasti Prabawati
bermuara ke hubungan asmara tanpa mereka tahu mereka adalah kakak beradik.
Parameswara berayah Panji Ragamurti, seorang Patih di Kediri sementara
Swasti Prabawati akhirnya tahu ayah yang dicintainya ternyata bukan ayah
kandungnya, ia terlahir dari Narasinga melalui pemerkosaan yang dilakukan
terhadap seorang perempuan yang akhirnya mati ketika melahirkan gadis buah
pemerkosaan itu.

Amat terlambat Parameswara dan Swasti Prabawati sadar, bahwa Narasinga dan
Panji Ragamurti adalah orang yang sama.

Bayi yang akan lahir dari perkawinan kakak beradik itulah yang justru sedang
ditunggu dan diburu-buru oleh Uwwara Kenya dan tujuh orang pengikutnya yang
celakanya menempatkan Parameswara dan Swasti Prabawati terjerat takdir
sebagai pengikut perempuan itu pula, karena dari masing-masing telapak
tangannya muncul tanda ular yang menggeliat menempatkan diri di balik kulit
di atas daging.

Parameswara yang telah berubah menjadi sakti mandraguna sejak menenggak air
suci *Tirtamarthamanthana Nirpati Vasthra Vyassa Tripanjala * harus
berperang melawan dirinya sendiri terutama ketika bulan purnama menyita
kesadarannya. Namun dengan penuh pengabdian dan bahkan rela berkorban nyawa
kelima pelindung kelahiran calon jabang bayi itu berjuang keras memberikan
perlawanan.

Ketika pertikaian itu terjadi, sebuah padang ilalang bernama Karautan sedang
menyita perhatian seorang Brahmana bernama Lohgawe dan seorang Empu pembuat
keris dari Lulumbang. Padang Karautan itu sungguh sebuah tempat yang
mengerikan karena dihuni berbagai binatang buas, setiap malam sering
terdengar aum harimau dan lolong ratusan ekor serigala.

Yang mencuri perhatian Brahmana Lohgawe adalah seorang perampok dan maling
kecil bernama Ken Arok yang menjadikan tempat itu sebagai persembunyian.
Mata Sang Brahmana Lohgawe sangat awas terhadap keajaiban alam, ia menduga
Ken Arok yang maling kecil itu merupakan Titisan Syiwa, yang kelak akan
menjadi cikal bakal Raja di tanah Jawa.

Sebaliknya Empu Gandring yang hadir pula di tempat itu mempunyai ketajaman
mata dalam bentuk yang lain, ia melihat sesuatu yang melayang-layang di
langit. Empu Gandring merasa was-was tersita perhatiannya oleh batu bintang
yang melesat cepat di angkasa, jenis batu yang ia yakini bakal menimbulkan
bencana. Dengan ketajaman mata hatinya Empu Gandring berusaha menerka di
daerah mana batu bintang itu akan jatuh dan menimbulkan bencana. Meski belum
terjadi, Empu Gandring melihat asap berada di mana-mana, asap kekuningan
berasal dari bintang jatuh yang menebar kematian, berburu menyergap makhluk
apa pun yang berdaging, dihisap habis menyisakan tulang belulang.

Mata hati Empu Gandring belum mampu melihat, akan jatuh di mana batu bintang
itu.

Dalam perjalanannya, Parameswara harus bersinggungan dengan urusan Ken Arok,
karena Hantu dari Padang Karautan itu adalah penjilmaan kembali dari Rakai
Walaing Pu Kumbayoni, orang berusia panjang yang menunggu kematiannya di
balik Air Terjun Seribu Angsa, orang itulah yang telah memberinya air suci
Tirtamarthamanthana Nirpati vasthra Vyassa Tripanjala yang menyebabkan ia
menjadi sakti mandraguna karena kesediaannya memenuhi permintaan orang itu
dengan membunuhnya.

Pun keterlibatan Parameswara terhadap Ken Dedes tidak juga bisa dihindari
karena pada diri Ken Dedes melekat jiwa Sri Sanjayawarsa, permaisuri Rakai
Walaing Pu Kumbayoni yang juga mati di tangan melalui sebilah keris bernama
Sang Kelat. Parameswara terpaksa memenuhi permintaan membunuh mereka karena
hanya melalui cara itulah ia bisa melindungi anaknya yang bakal menjadi
bulan-bulanan Uwwara Kenya .

Sementara itu di tahun 2011,

Parra Hiswara mengalami kecelakaan ketika menggali tanah sebagai tandon WC,
tanah ambrol menyebabkan ia tertarik oleh gravitasi bumi karena di bawah
tanah rupanya terdapat sebuah sumur vertikal. Mahdasari sang Istri mengalami
kepanikan luar biasa pun demikian pula dengan para tetangga yang berusaha
menolong. Hirkam menggunakan tali carmantel menyusur turun mendapati
kenyataan, sumur yang bagai tanpa dasar itu sangat aneh. Hirkam yang
berhasil keluar nyaris kehilangan nyawa karena makhluk tak dikenal mencakar
punggung dan kakinya.

Tak ada pilihan lain dan dengan mengabaikan keselamatan Parra Hiswara lobang
sumur itu ditutup dan dicor dengan semen. Dengan demikian bisa dipastikan
Parra Hiswara terkubur untuk selamanya di gua bawah tanah itu.

Namun Parra memang mendapati keadaan yang aneh di ruang bawah tanah itu. Ia
menemukan tujuh buah meja batu melingkar yang layak disebut tempat tidur
karena ada tujuh orang tidur di atasnya. Pada tujuh meja batu di luar hanya
ada enam orang berbaring satu di antaranya kosong sementara meja batu di
bagian tengah tidur seorang perempuan amat cantik dalam keadaan telanjang
bulat.

Di tempat itulah Parra Hiswara bertemu dengan orang yang memiliki ujut sama
dengan dirinya, bak pinang dibelah dua, orang dari masa silam itu mengaku
bernama Parameswara, yang mestinya tidur di meja batu ke tujuh namun memilih
terpicing beratus ratus tahun lamanya karena tidak sudi menjadi kaki tangan
Uwwara Kenya. Parra Hiswara tentu kaget ketika orang itu menyebut telah
menunggu pertemuan itu delapan ratus tahun lamanya. Parameswara minta kepada
Parra Hiswara agar bersedia membunuh dirinya, hanya itulah cara agar ia bisa
keluar kembali ke permukaan.

Parra Hiswara tidak punya pilihan lain, dengan sebilah keris aneh bernama
Sang Kelat yang ia terima, orang itu dibunuh dan ambyar menjadi serpihan abu
memunculkan pusaran angin yang semakin lama semakin cepat. Parra Hiswara
yang berusaha keras bertahan untuk tidak terputar mampu melihat saat-saat
terakhir seekor codot berkulit putih muncul dan melukai telapak tangannya.

Ketika Parra Hiswara tersadar, ia terkejut karena waktu telah berubah
menjadi malam penuh bintang. Parra Hiswara menganggap dirinya gila ketika
berada di sebuah candi yang sangat besar, candi yang terletak di kaki dua
buah gunung, gunung Merapi dan Merbabu, padahal jarak yang membentang dari
dua gunung itu ke rumahnya di Malang nyaris empat ratus kilometer.

Rupanya Parra Hiswara telah terlempar jauh melintasi dimensi ruang dan
waktu. Ketika Parra Hiswara kembali ke kota Singasari tak jauh dari Malang ,
ia mendapati istri yang dicintainya hilang diculik orang.

Di tahun 2011 itu, kelompok tujuh yang masing-masing memiliki tanda
berbentuk ular melingkar di telapak tangannya mulai bermunculan. Pun
demikian pula kelompok lima yang memiliki rajah berbentuk cakra mulai muncul
pula memberikan perlawanan mati-matian. Apalagi sejak Parra Hiswara muncul
di pelataran candi, jejak bayangan candi itu mulai sering muncul dan bisa
dilihat di bulan purnama, semakin banyak saja orang yang bisa melihat
ujutnya.
Meski candi itu masih murca, berada di wilayah bayang-bayang antara ada dan
tiada.

---ooo000ooo---
**
**

Kirim email ke