Seandainya terjadi "perang dagang" a.l. boikot-embargo antara produk RI
dan China, masalahnya bukan sesederhana seperti yang diucapkan Menteri
Perdagangan Marie Elka Pengestu, yang hanya terfokus pada kalkulasi neraca
perdagangan semata.

Ada nilai-nilai strategis dan faktor penting lainnya yang perlu 
dipertimbangkan
dan diperhitungkan dengan seksama, seperti misalnya rencana  investasi
China dalam pengembangan infrastruktur nasional, masalah geo-politik dan
keamanan regional, pembelanjaan Alutsia, stabilitas sos-pol di dalam negeri,
dsb, dsb.


Selama beberapa tahun di era reformasi, politik LN RI tidak lagi ngeblok
habis kepada negara Barat (baca AS), tetapi mencari keseimbangan geo-politik
(dan perdagangan), diantara tarikan kepentingan negara-negara adidaya.


Sudah banyak kita baca statemen-statemen keras, baik dari para politisi,
maupun dari produsen, exportir, Asosiasi dll., tetapi kita juga harus bisa 
menyimak sikap Wakil Presiden Jusuf Kalla kemarin yang cukup bijak.
Juga dari Ketua Umum Kadin MS Hidayat, yang mengingatkan pemerintah
bersikap hati-hati untuk menghentikan peredaran produk yang dianggap
membahayakan, mengingat komoditas China sudah menguasai pasar dalam negeri.

Saya kira semua itu adalah untuk menjaga hubungan dengan pemerintah China,
yang sedang menghadapi masalah opini dunia.



Kalau hubungan dengan China rusak kembali, maka balancing politik dan
militer akan menjadi timpang kembali, dan akhirnya akan berorientasi ke
Barat/AS lagi, seperti dulu.

Kita juga sudah merasakan bagaimana akibat dari embargo peralatan militer
negara Barat terhadap RI, tuduhan-tudahan (standar ganda) sebagai pelanggar 
HAM yang sudah kelewat berlebihan dan tidak habis-habisnya, sehingga selalu 
menyulitkan posisi kita.


Di opini kompas hari ini ada artikel tulisan Kiki Syahnaki tentang masalah
Defence Cooperation Agreement (DCA), dimana saya mendukung penutup
beliau mengutip SMS yang berbunyi:
"We must learn how to negotiate with dignity.. Yes, we are poor but this
country is not for sale."


Namun juga berlaku prinsip: "Tidak ada teman atau musuh abadi, karena yang
abadi hanyalah kepentingan".


Jadi, tanpa menjual (prinsip) diri,  kadang kita perlu mengatakan: "I'll 
scratch
your back, next you scratch mine ..."


Wassalam, yhg.
----------------


Indonesia Tidak khawatir Perang Dagang Cina
-------------------------------------------
Indosiar News, 07 Agustus 2007, 10:11 WIB

http://news.indosiar.com/news_read.htm?id=63526

(Kutipan):
Namun, Marie menyatakan tidak takut jika pelarangan Cina terhadap hasil
produk laut indonesia sebagai upaya perang dagang. Berdasarkan neraca
perdagangan RI- Cina, Indonesia masih mencapai surplus sebesar 13
millyar Dollar AS. Selain ekport hasil laut, Indonesia juga mengekspor
hasil migas ke Cina, yang nilainya mencapai 8,3 millar Dollar AS.
Sementara import produk Cina ke Indonesia hanya berkisar 6,6 milyar
Dollar AS. (*/Her/*)

Kirim email ke