Bagus sekali artikel ini, menunjukkan rasa 
percaya diri dan percaya agamanya yg besar.
Saya kira P Syarief Maarief bekas Ketum Muhamadiyah
punya bobot yg setara dengan P AAN ini, cuma 
mungkin kalau orang asing bisa lebih kelihatan benar
cara pikirnya ..
Kita memang lebih mudah dan lebih suka menyalahkan 
orang lain drpd melihat diri kita sendiri.

Salam , martin - jkt


----- Original Message ----
From: Nugroho Dewanto <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]; [email protected]
Sent: Tuesday, August 7, 2007 6:33:39 PM
Subject: [mediacare] Abdullahi An Naim: Kita Suka Menyalahkan Orang







Agama/24-2007

-=-=-


Abdullahi An Naim:

Kita Suka Menyalahkan Orang


Ia

seorang profesor di sekolah
hukum yang cukup terpandang. Di Emory School of Law, Atlanta Georgia,
Amerika Serikat. Abdullahi An Naim, 61 tahun, begitu namanya, memang
seorang akademisi yang baik. Tapi pengalaman hidupnya juga menjadikannya
seorang aktivis.

An Naim lahir di Khartoum, Sudan. Tatkala usianya belum lagi genap 40
tahun, ia harus meninggalkan tanah airnya. Rezim militer yang mengambil
alih kekuasaan telah melarang gerakan reformasi yang dipimpin gurunya,
Ustad Mahmud Mohammad Taha. Bahkan para penguasa militer yang konservatif
itu lalu mengeksekusi sang ustad.

An Naim pergi ke Amerika, meneruskan tradisi gurunya. Ia sekuler, tak
setuju negara Islam, menganggap Islam periode Mekah sebagai rujukan, tak
mengharamkan kepemimpinan perempuan, dan seterusnya. Tapi ia tak setuju
dengan kelompok-kelompok antisyariat yang terlalu sensitif. Dialog antara
si skularis dan konservatif harus dipelihara. Pekan lalu, An Naim hadir
dalam peluncuran bukunya yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia, Islam
dan Negara Sekuler, Menegosiasikan Masa Depan Syariah, di Jakarta
(lihat Membela Sekularisme, Menyelamatkan Syariah). 


Beberapa aktivis partai Islam berhasil mengegolkan syariat melalui
politik parlemen. Sebagian orang merasa terintimidasi. Bagaimana Anda
memandang fenomena ini?  

Mereka tak akan bisa mempraktekkannya lebih jauh. Kalau dijalankan
terus, praktek syariat akan jadi dangkal. Implementasi syariat direduksi
jadi membubuhkan istilah Arab/Quran di jalan-jalan kota; memaksa
perempuan memakai pakaian tertentu; melarang khalwat. Tapi soal ekonomi,
sosial, politik--misalnya korupsi--yang membutuhkan penanganan khusus,
tak terjangkau. Sayang, syariat-syariat seperti itu tidak menawarkan
solusinya.  


Tapi mereka mengajukan dalil dalam hadis? 

Hadis ini telah berusia hampir 1.500 tahun. Masyarakat Indonesia
telah jadi masyarakat Islami selama ratusan tahun, dan tiba-tiba sekarang
mereka menyadari: menjadi muslim berarti harus berpakaian, hidup dengan
cara-cara ini. Padahal ini lebih merupakan simbolisme politik ketimbang
nilai-nilai yang mendasar. Muslim merupakan seperlima dari umat manusia
di bumi ini. Ada lebih banyak muslim di Cina, di Afrika Subsahara,
ketimbang di Timur Tengah. Islam begitu luas, tapi di negara mana di
antara 40 negara dengan penduduk mayoritas Islam yang mempraktekkan hukum
rajam bagi pezina dan sebagainya. Yang mau saya katakan, kecemasan akan
Islamisasi dan implementasi syariat itu ahistoris. Indonesia sendiri
telah beratus tahun muslim, di mana orang-orang nonmuslim saat itu, dan
mengapa baru sekarang mereka merasa terancam.


Anda ingin mengatakan bahwa gejala ini produk dari kelompok tertentu?


Ada agenda politiknya. Ada kekuatan tertentu di Barat, juga di
masyarakat kita yang berusaha membesar-besarkan, menciptakan sensasi yang
menyudutkan Islam dan muslim untuk tujuan politik, dan ini berkaitan
dengan konflik Palestina-Israel. 


Maksudnya Israel?

Bukan hanya Israel, tapi lobi Israel. Padahal cara ini tidak efektif,
dan hanya akan memberikan kesempatan bagi kaum fundamentalis, dan
menyudutkan mereka yang moderat. Lihat bagaimana media massa sayap kanan
senang menunjukkan hukum rajam. Percayalah, kebijakan ini juga tidak
menguntungkan Israel.  


Bagaimana Anda menjelaskan fenomena Taliban? 

Taliban hanya produk Afganistan. Produk masyarakat kesukuan yang
militan, militeristis, juga dengan kondisi alam yang keras. Ada
pembunuhan demi kehormatan keluarga (honor killing) dan
pemerkosaan berkelompok (gang rape) yang tidak Islami tapi
dipraktekkan.   


Anda mengatakan ada tangan Israel di balik propaganda menyesatkan itu,
kedengarannya seperti kaum apologetik yang menyalahkan Amerika, Barat,
atas segala kemunduran umat Islam. 

Tidak, tidak begitu. Kita memang suka menyalahkan orang. Kemunduran
ini akibat kesalahan ulama kita, akibat imperialisme Amerika dan
seterusnya. Tapi saya mempertanyakan pertanggungjawaban kita: apakah kita
akan menolong korban atau justru terus memainkan peran sebagai korban.
Suka atau tidak, itu semua telah terjadi dan tak akan berubah. Kita yang
harus berubah. 


Judul buku Anda menyebut Menegosiasikan Masa Depan Syariah. Apa
maksudnya?

Ini semua proses negosiasi. Partai-partai Islam seharusnya lebih
menawarkan nilai ketimbang kebijakan. Sebaliknya, mereka yang liberal
sekuler juga menyodorkan nilai-nilai sekuler. Dan apa yang akan muncul
pada akhirnya adalah sebuah kompromi. Pertanyaannya sekarang, apakah
orang-orang liberal tertarik dalam negosiasi ini, atau mengundang militer
ataupun alat politik yang otoriter untuk menghadapi “ancaman” itu. Ironis
sekali melihat apa yang terjadi pada 1992. Kaum intelektual sekuler
Aljazair mentoleransi, bahkan menyambut intervensi angkatan bersenjata
demi menyelamatkan mereka dari FIS, partai Islam-oposisi yang menang
pemilu. Dari situ, negara itu terseret ke dalam perang saudara yang
sangat berdarah sepanjang 15 tahun.

Yang terjadi di Turki juga sama. Militer mencoba melindungi negara dari
partai Islam yang populer. Dalam buku saya menyebutnya kontradiksi dalam
sekularisme totaliter. Poin yang saya ajukan: mengapa intelektual di
Indonesia terbelah dua. Memilih pendangkalan syariat--atau juga penegakan
hukum yang mengganggu kenyamanan orang dengan gaya hidup liberal; atau
menganggapnya ancaman besar, seolah-olah itu akan mengakhiri peradaban
yang telah dibangun. Saya mengatakan: terlibatlah dalam debat, belajarlah
tentang apa arti syariat, dan belajarlah tentang sejarah perjalanan
masyarakat Islam.


Apa sesungguhnya yang ingin Anda katakan tentang syariat?

Yang saya serukan adalah demistifikasi syariat. Syariat ber-evolusi,
juga tidak ada dalam Quran dan Sunah. Itulah produk perkembangan
intelektual dan teologi selama 200-300 tahun, dan oleh manusia. Bahkan
saya mau mengatakan bahwa syariat itu sekuler. Karena itu berasal dari
sumber-sumber sakral yang dibumikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Kita
semua sudah sekuler; kita produk bumi ini. Kita memang memperoleh
bimbingan dari sumber-sumber yang kudus, tapi Islam datang ke pada kita
yang manusia, bukan malaikat. Islam tentang dunia ini, bukan hidup
sesudah ini. Dan intelektual harus belajar tentang sejarah, bagaimana
syariat berkembang. Inilah konstruksi manusia; kita bisa merekonstruksi
atau mendekonstruksi.


Tapi Anda sepertinya juga memainkan peran seorang mediator antara si
konservatif dan sekuler?

Kalangan konservatif menganggap negara sekuler itu antiagama.
Sekularisme seperti setan yang jahat, yang akan menghancurkan moral kita.
Sebaliknya juga pandangan kaum sekuler. Keduanya saling curiga, dan
mencoba memperlihatkan gambaran yang terburuk tentang lawannya. Gambaran
yang selalu dilebih-lebihkan. Solusinya, sekarang semua harus menghormati
prinsip pemerintahan yang konstitusional, proses politik yang demokratis,
dasar-dasar hak asasi manusia. Kalau ada yang bergerak di luar aturan
main itu, kita wajib menolaknya. Kita melihat ada kudeta, baik oleh
fundamentalis maupun sekularis. Sekularisme juga bisa setotaliter
ideologi religius.


Menurut Anda, Islam yang sesungguhnya itu yang mana? 

Ada dalam hati dan pikiran orang-orang Islam. Quran dan hadis adalah
sumber yang selalu saya baca, untuk memahami apa yang disampaikan Tuhan
kepada rasul-Nya. Tapi saya harus menyebut, Islam adalah juga apa yang
diperlakukan oleh kaum muslim itu sendiri terhadap agamanya. Ada di dalam
hati dan pikiran orang Islam, ketimbang dalam kitab maupun hadis. Ada
hadis qudsi: Aku (Tuhan) tidak merujuk pada yang di surga dan dunia. Aku
lebih merujuk pada apa yang terdapat di hati dan pikiran mereka yang
beriman. 


Anda membuka pintu terhadap ijtihad. Siapa yang berhak melakukannya?


Semua. Harus begitu, soalnya siapa yang menentukan orang-orang yang
layak. Harus demokratis. Saya mengatakan, Islam secara teologis sangat
demokratis; tapi secara sosiologis belum demokratis. Teologi Islam adalah
tanggung jawab pribadi, dan bertanggung jawab atas segalanya yang saya
katakan dan perbuat. Jadi, tak ada restriksi sama sekali. Tak boleh ada
sensor. Kalau ada yang mau meninggalkan Islam, pintu harus terbuka. Tak
ada paksaan dalam agama.


Apakah itu ajaran Muhammad?

Ya. Tapi kita sering salah tafsir. Lihat hijrah. Hijrah bukan simbol
kemenangan Islam. Hijrah adalah kebebasan untuk meninggalkan negeri yang
opresif. Kebebasan itu penting. Saya rasa tradisi Sufi yang toleran lebih
representatif dibanding dengan yang lebih formal, legalistis. Sufi lebih
introspektif, kritis terhadap diri sendiri, bersahaja, tidak menilai
orang.

***-/**

(Majalah Tempo, 12 Agustus
2007)











       
____________________________________________________________________________________Ready
 for the edge of your seat? 
Check out tonight's top picks on Yahoo! TV. 
http://tv.yahoo.com/

Kirim email ke