Mungkin masalah yang lebih mendasar lagi adalah bahwa Indonesia masih 
harus memilih berorientasi ke mana. Kenapa? Karena kita belum mampu 
memenuhi kebutuhan sendiri atau setidaknya memiliki posisi tawar yang 
cukup untuk bernegosiasi.

Saya pernah berdiskusi dengan beberapa rekan dan sampai pada suatu 
pertanyaan: seandainya seluruh akses keluar/masuk Indonesia ditutup, 
mampukah kita bertahan hidup untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri?

Ada yang menjawab: itu tidak mungkin karena berarti mengingkari 
kenyataan globalisasi yang jelas-jelas sedang berekspansi di seluruh 
belahan bumi. Sementara ada juga yang menjawab: awalnya mungkin sulit, 
tapi lama kelamaan kita menjadi bangsa yang mandiri dan cukup siap 
untuk kembali membuka diri dan berinteraksi dengan negara lain 'with 
Dignity'.

Saya sebenarnya lebih memilih jawaban yang kedua. Tapi sayangnya, ada 
keraguan apakah segenap komponen bangsa punya komitmen kuat untuk 
menutup diri. Akhirnya, kita sepakat untuk tidak menutup diri tapi 
tetap mempersiapkan posisi tawar yang semakin membaik seiring 
berjalannya waktu. Normatif sekali....


--------------------------------------
Indonesia Tidak khawatir Perang Dagang Cina => Putu Budiastawa #5785
Posted by: "Yap Hong Gie" [EMAIL PROTECTED] seroja_11470
Date: Tue Aug 7, 2007 8:23 am ((PDT))

Seandainya terjadi "perang dagang" a.l. boikot-embargo antara produk 
RI
dan China, masalahnya bukan sesederhana seperti yang diucapkan Menteri
Perdagangan Marie Elka Pengestu, yang hanya terfokus pada kalkulasi 
neraca
perdagangan semata.

Ada nilai-nilai strategis dan faktor penting lainnya yang perlu 
dipertimbangkan dan diperhitungkan dengan seksama, seperti misalnya 
rencana  investasi
China dalam pengembangan infrastruktur nasional, masalah geo-politik 
dan
keamanan regional, pembelanjaan Alutsia, stabilitas sos-pol di dalam 
negeri,
dsb, dsb.

Selama beberapa tahun di era reformasi, politik LN RI tidak lagi 
ngeblok
habis kepada negara Barat (baca AS), tetapi mencari keseimbangan geo-
politik
(dan perdagangan), diantara tarikan kepentingan negara-negara adidaya.

Sudah banyak kita baca statemen-statemen keras, baik dari para 
politisi,
maupun dari produsen, exportir, Asosiasi dll., tetapi kita juga harus 
bisa 
menyimak sikap Wakil Presiden Jusuf Kalla kemarin yang cukup bijak.
Juga dari Ketua Umum Kadin MS Hidayat, yang mengingatkan pemerintah
bersikap hati-hati untuk menghentikan peredaran produk yang dianggap
membahayakan, mengingat komoditas China sudah menguasai pasar dalam 
negeri.

Saya kira semua itu adalah untuk menjaga hubungan dengan pemerintah 
China,
yang sedang menghadapi masalah opini dunia.

Kalau hubungan dengan China rusak kembali, maka balancing politik dan
militer akan menjadi timpang kembali, dan akhirnya akan berorientasi 
ke
Barat/AS lagi, seperti dulu.

Kita juga sudah merasakan bagaimana akibat dari embargo peralatan 
militer
negara Barat terhadap RI, tuduhan-tudahan (standar ganda) sebagai 
pelanggar 
HAM yang sudah kelewat berlebihan dan tidak habis-habisnya, sehingga 
selalu 
menyulitkan posisi kita.

Di opini kompas hari ini ada artikel tulisan Kiki Syahnaki tentang 
masalah
Defence Cooperation Agreement (DCA), dimana saya mendukung penutup
beliau mengutip SMS yang berbunyi:
"We must learn how to negotiate with dignity.. Yes, we are poor but 
this
country is not for sale."

Namun juga berlaku prinsip: "Tidak ada teman atau musuh abadi, karena 
yang
abadi hanyalah kepentingan".

Jadi, tanpa menjual (prinsip) diri,  kadang kita perlu mengatakan: 
"I'll 
scratch your back, next you scratch mine ..."


Wassalam, yhg.
----------------


Indonesia Tidak khawatir Perang Dagang Cina
-------------------------------------------
Indosiar News, 07 Agustus 2007, 10:11 WIB

http://news.indosiar.com/news_read.htm?id=63526

(Kutipan):
Namun, Marie menyatakan tidak takut jika pelarangan Cina terhadap 
hasil
produk laut indonesia sebagai upaya perang dagang. Berdasarkan neraca
perdagangan RI- Cina, Indonesia masih mencapai surplus sebesar 13
millyar Dollar AS. Selain ekport hasil laut, Indonesia juga mengekspor
hasil migas ke Cina, yang nilainya mencapai 8,3 millar Dollar AS.
Sementara import produk Cina ke Indonesia hanya berkisar 6,6 milyar
Dollar AS. (*/Her/*)

Kirim email ke