UNDANGAN LIPUTAN & PEMBUKAAN Pameran Seni Visual 200 Tahun Raden Saleh [Pelopor Seni Lukis Modern Indonesia] ‘ILUSI-ILUSI NASIONALISME’ Jogja Gallery, Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta Sabtu, 18 Agustus 2007, pukul 19.30 WIB Pameran akan dibuka oleh Sardono W. Kusumo [Rektor IKJ, Jakarta dan dikenal sebagai seorang koreografer senior] Kurator: Mikke Susanto Seniman peserta pameran: Abay D. Subarna, Ahmad Sobirin, AS. Kurnia, Astari Rasjid, Askanadi, Andy Wahono, Anang Asmara, Bambang Pramudiyanto, Bambang Sudarto, Budi Kustarto, KH. D. Zawawi Imron, Denny ‘Snod’ Susanto, Dadi Setiyadi, Dani Agus Yuniarta, Deni Junaedi, Dyan Anggraini Hutomo, Doel AB, Elyezer, Eddy Sulistyo, Eduard [Edo Pop], Eko Didyk ‘Codit’ Sukowati, Gatot Indrajati, Gusar Suryanto, Hanafi, Haris Purnomo, Heri Dono, Ivan Sagito, Imam Abdillah, Made Wiguna Valasara, Melodia, Mulyo Gunarso, Nana Tedja, Nanang Warsito, Nurkholis, Putut Wahyu Widodo, Pius Sigit Kuncoro, Pintor Sirait, R. Aas Rukasa, Riduan, Rosid, Ronald Manullang, Rudi Winarso, S. Teddy D, Samsul Arifin, Suraji, Suroso [Isur], Ugy Sugiarto, Willy Himawan, Wilman Syahnur, Yuswantoro Adi Bukan karena perjuanganlah kita menjadi seniman, tetapi karena kita seniman maka kita menjadi pejuang. [Albert Camus, 1940] Jika di jalan-jalan Anda menonton peringatan kemerdekaan, itulah wujud nasionalisme ala rakyat biasa. Mungkin terkesan klise, rada-rada romantis, kadang juga tampil dengan ’dandanan menor’, ndeso. Tapi tak apalah. Semua menjadi seperti itu karena pada orde pemerintahan yang lalu, aktivitas estetikanya mengalami penyeragaman. Homogenisasi itu terjadi: membuat gapura, mural dengan gambar kepalan tangan, tombak bambu kuning, wajah Bung Karno (atau pahlawan lain), burung garuda dan yang tak kalah penting--tapi juga sehat--adalah pengecatan ulang pagar jalan atau rumah masyarakat. Semua seperti baru saja mengalami kemerdekaan. Pameran kali ini merupakan penyelenggaraan pameran ke-15 sejak berdirinya Jogja Gallery [JG], 19 September tahun lalu. Pameran ini diikuti oleh 50 perupa yang menampilkan 52 karya. Para perupa tersebut disaring berdasarkan undangan khusus oleh kurator [38 perupa] dan 12 hasil seleksi [undangan terbuka]. Menampilkan perupa-perupa dari seluruh Indonesia [Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Semarang, Banyuwangi, Sidoarjo, Kediri, Madura, Bali]. Pameran ini mencoba menawar gejala tersebut dengan mengetengahkan isu nasionalisme dalam karya seni visual. Sedangkan isu kedua adalah pameran ini dipersembahkan untuk menghormati sosok pelopor seni lukis Indonesia (atau ada yang menyebut ”Bapak Seni Lukis Modern Indonesia”) yang sangat termasyur: Pangeran Raden Saleh Syarif Bustaman. Hidup Raden Saleh memunculkan berbagai cerita dan kompleksitas yang rumit. Ia ”abadi” dalam pikiran para perupa masa kini. Ia berhasil membawa seni rupa Indonesia berhubungan dengan wajah seni rupa di negara lain pada akhir abad ke-19, tak tanggung-tanggung: Eropa. Namun menariknya lagi, nasionalismenya sampai sekarang terus-menerus dipertanyakan. Raden Saleh dipercaya—dan dari sebagian besar data yang ada—lahir tahun 1807, tepat dua ratus tahun lalu. Ia tercatat lahir di Semarang Jawa Tengah dan kemudian melegenda menjadi pelukis perdana sekaligus pelopor seni lukis Indonesia. Jalan hidupnya sangat menarik, sebagai masyarakat biasa, pelukis istana Kerajaan Belanda dengan melakukan perjalanan ke beberapa negara selama bertahun-tahun, dan menjadi pelukis yang saat ini namanya tetap harum. Lukisan-lukisannya banyak menggambarkan suasana pemandangan, pertarungan binatang, potret para pembesar beberapa negara di Eropa dan di Indonesia, serta lukisan tentang perjuangan/ nasionalisme bangsa ini. Perjalanan hidupnya yang sangat menarik tersebut, banyak mengilhami para perupa Indonesia. Selain dihormati karena kecerdasannya yang luar biasa, ia juga menjadi ikon seni Indonesia pertama yang berhasil mempengaruhi dan memperkenalkan bangsa ini kepada dunia luar. Wajar bila pada saat ini Raden Saleh kemudian dianggap menjadi kebanggaan bangsa. Ia, menurut peneliti Claire Holt, dianggap sebagai “ayah” bagi gerakan seni modern di Indonesia. Salah satu lukisan yang hingga saat ini menjadi perbincangan dan sangat penting adalah Penangkapan Pangeran Diponegoro (1857). Lukisan ini sampai saat ini berada di Istana Presiden Republik Indonesia. Lukisan ini banyak memberi inspirasi bagi banyak pengamat, karena berbagai alasan. Alasan tersebut misalnya mempertentangkan sikap dan nasionalisme Raden Saleh terhadap bangsa Indonesia yang sedang terjajah. Mengapa sosok Diponegoro digambarkan sama tinggi dengan orang Belanda? Alasan lain adalah bahwa dalam lukisan ini selain secara tematik mengarah pada tema nasionalisme, tetapi juga memberi petunjuk bahwa segala keterampilan yang dimiliki Raden Saleh ditumpahkan dalam karya tersebut. Lihat saja tema lukisan pemandangan, binatang, potret para pembesar serta lukisan potret dirinya masuk dalam karya ini. Sehingga sangat layak seandainya lukisan ini kemudian dapat melahirkan berbagai gagasan mutakhir sampai saat ini. Dalam pameran ini kami mengajak para perupa ternama Indonesia untuk secara khusus mencermati lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro, bukan yang lain. Karena dengan lukisan ini semangat nasionalisme (oleh sebab itu pameran ini diselenggarakan pada bulan Agustus yang sakral bagi bangsa Indonesia), hendak diuji kembali, dikaji kembali dalam bentuk apa saat ini nasionalisme tersebut berjalan. Dalam beberapa hal, lukisan Raden Saleh ini juga memuat misteri yang tidak saja visual, namun juga dapat melahirkan lagi misteri dan ilusi-ilusi tentang berbagai hal yang lain. Para perupa berhak mengajukan berbagai ilustrasinya mengenai nasionalisme dan lukisan ini. Dalam pameran ini akan dipajang pula lukisan reproduksi Raden Saleh Syarif Bustaman, ‘Penangkapan Pangeran Diponegoro’, yang merupakan koleksi Istana Negara Yogyakarta [Gedung Agung, Yogyakarta]. Jadual talkshows: Radio Star 101.3 FM Rabu, 22 Agustus 2007, pkl 18.00 WIB Radio Istakalisa 96.2 FM Jumat, 24 Agustus 2007, pkl 15.00 WIB Radio Pro 1 RRI 91.1 FM Selasa, 28 Agustus 2007, pkl 09.30 WIB Jogja TV 48 UHF Rabu, 29 Agustus 2007, pkl 22.30 WIB Radio Geronimo 106.1 FM Kamis, 6 September 2007, pkl 22.00 WIB Sponsor: PT. Gudang Garam Tbk. Partner: Malioboro Mall Yogyakarta, Ambarrukmo Plaza, Galeria Mall, PT. Dakota, Gramedia Yogya, Jogja View Media Partner: Truly Jogja, Majalah Andong, Majalah Visual Arts, Majalah Kabare, Majalah Plaza, Radio Istakalisa, Radio Geronimo, Radio Star FM, Radio Rakosa, Jogja TV, RBTV Keterangan lain: Pameran berlangsung hingga 9 September 2007. Jam buka galeri Selasa – Minggu, 09.00 – 21.00 WIB Tiket masuk Rp 3.000,- Kontak person: Nunuk Ambarwati [+62 81 827 7073] dan atau Elly A. Mangunsong [+62 81 846 8283] Jogja Gallery [JG] - Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta 55000 INDONESIA Tel. +62 274 419999, 412021 - Tel/Fax. +62 274 412023 Tel/SMS. +62 273 7161188, +62 888 696 7227 Email [EMAIL PROTECTED] / [EMAIL PROTECTED] www.jogja-gallery.com
NUNUK AMBARWATI [ m ] +62 81 827 7073 [ e+ym ] [EMAIL PROTECTED] [ fs ] www.friendster.com/qnansha [ blog ] http://q-nansha.blogspot.com ____________________________________________________________________________________ Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo! Travel. http://travel.yahoo.com/
