Sirmadji : Pemerintah Tidak Serius Mengentaskan Kemiskinan

Program pengentasan kemiskinan yang dicanangkankan oleh pemerintah, 
dinilai Drs. Sirmadji, Tj, Mpd, Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim, tidak 
dilakukan dengan serius. " Pemerintah tidak serius, jika, memang, 
pemerintah serius untuk mengentas kemiskinan, di Jawa Timur, jumlah 
kemiskinan 13 Juta jiwa, ada beberapa aspek yang mestinya 
diprioritaskan diantaranya adalah, perbaikan jalur irigasi, program 
perberasan yang memihak petani, pemberdayaan sektor perikanan dan UKM 
melalui kredit lunak kepada mereka. Pemerintah jangan melakukan 
pendekatan karikatif atau memberi seperti program BLT (Bantuan 
Langsung Tunai.Red). " Kata Sirmadji tentang keseriusan pemerintah 
untuk mengentaskan kemiskinan, usai pelantikan Baguna Jatim, di 
Surabaya, beberapa waktu lalu.


Menurutnya, pendekatan karikatif yang selama ini dilakukan pemerintah 
seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT) itu tidak menyelesaikan masalah 
kemiskinan yang terjadi. Cara efektif yang harus dilakukan pemerintah 
adalah dengan memberikan umpan atau kail kepada mereka seperti, 
penyediaan lapangan kerja atau peluang usaha bagi warga miskin. " 
Selama ini saya melihat proses perjalanan BLT sangat kacau dan tidak 
menyentuh masyarakat miskin secara keseluruhan. Jadi cara ini harus 
diubah, demi kemajuan dan kesejahteraan rakyat Indonesia," terang 
Simadji soal BLT yang berjalan selama ini. 

Sirmadji, yang juga anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, mengatakan 
bahwa Fraksi PDI Perjuangan melalui Komisi E, akan "memaksa" 
pemerintah untuk kembali memberlakukan Surat Keterangan Tidak Mampu 
(SKTM) yang dikeluarkan RT/RW. Selama ini, dengan berlakunya SK 
MENKES No.147/2007 tentang program Askeskin, rakyat miskin yang 
berhak memperoleh program tersebut hanya berdasarkan data dari Badan 
Pusat Statistik (BPS). Padahal, data tersebut tidak akurat dipakai 
sebagai dasar menghitung keberadaan warga miskin yang sesungguhnya 
ada karena masih banyak orang miskin yang belum terdata. 

Dalam mengentaskan kemiskinan, kata Sirmadji, harus ada sharing 
antara pemerintah daerah dan pusat. Sharing tersebut berkaitan dengan 
pembagian beban anggaran yang selama ini masih menjadi kendala. " 
Misalnya begini, untuk mengentas kemiskinan di Kabupaten Sampang, 
yang menduduki peringkat pertama dalam tingkat kemiskinan di Jawa 
Timur, Pemerintah pusat harus memberikan bantuan maksimal, jangan 
dibebankan kepada pemerintah daerah secara penuh, karena masih banyak 
daerah lain yang perlu diperhatikan," jelasnya tentang sharing pusat 
dan daerah. 

Memang, Sirmadji mengakui bahwa indikator kemiskinan yang dipakai di 
Indonesia selama ini masih belum jelas. " Sekarang coba anda pikir 
sendiri, jika seseorang berpenghasilan di bawah UMR, tetapi memiliki 
sepeda motor, apakah mereka masuk kategori masyarakat miskin? Jadi, 
hal terpenting yang harus diperhatikan adalah bagaimana menentukan 
valid tidaknya data orang miskin di Indonesia, sebelum menentukan 
langkah apa yang harus diambil," ujar Sirmadji mengakhiri 
pembicaraan. 

Sementara itu, menurut Drs. Ec.Subagijo, pakar ekonomi Unair, 
mengatakan bahwa jumlah orang miskin yang ada sekarang ini semakin 
banyak, hal ini dikarenakan tidak cukupnya sumber daya keuangan 
pemerintah untuk memberdayakan rakyat miskin yang ada. " Data BPS, 
ada 17 % orang miskin, kira kira sama dengan 37 juta orang. Akan 
diberi apa mereka ini ? Pemerintah tidak punya sumber daya keuangan 
yang cukup untuk itu.? Kata Subagio. 

Kemiskinan yang ada ini, menurutnya, merupakan akibat kebijakan 
ekonomi pasar bebas. Dalam sistim ekonomi pasar bebas kelemahannya 
adalah tidak adanya jaminan pendistribusian sumber daya secara 
merata, karena itu selalu ada pihak pihak yang tertinggal untuk 
menikmati kemakmuran, mereka inilah yang kemudian disebut kaum 
termarginalkan oleh pasar dan dikenal dengan kaum miskin. 

Seharusnya, pemerintah mempunyai skema pemberdayan kaum misdkin 
dengan melakukan pengendalian distribusi pendapatan. Tanpa skema 
tersebut maka tingkat kesenjangan pendapatan makin lebar. " Dinegara 
kita sebagian besar kaum miskin adalah buruh tani yang tingkat 
pendidikannya rendah. Tanpa campur tangan pemerintah, ekonomi pasar 
mengakibatkan yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin dan 
makin banyak." Kata Subagijo. 

Di Negara maju, sistim ekonomi pasar tidak terlalu menimbulkan 
persoalan kemiskinan, karena tingkat pendidikan sudah tinggi sehingga 
tidak bergantung pada sumber daya alam, seperti di Indonesia yang 
sangat bergantung pada sumber daya alam, pertanian. " Mereka dengan 
pendidikan yang tinggi, mereka mengandalkan skill mereka untuk meraih 
penghasilan. Di Indonesia, masih banyak yang bergantung pada tenaga, 
buruh, baik tani maupun nelayan." Kata Subagijo. 

Menurut Subagijo, pemerintah Indonesia harus punya skema pengentasan 
kemiskinan dengan pola pemberdayaan kaum miskin dengan cara 
memberikan berbagai ketrampilan dan kemampuan usaha dengan sejumlah 
proteksi untuk menumbuhkan ekonomi kecil. " Pada intinya, skema 
pemerintah bukanlah pada pengentasan kemiskinan, tapi pada 
pemberdayaan kaum miskin agar mampu berusaha dan bersaing di pasar. " 
Kata Subagijo. (ovi/Red)

Sumber : http://www.pdiperjuangan-jatim.org/v02/?mod=berita&id=235
 



Kirim email ke