> Harry Adinegara <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Jadi sewaktu kita memperingati Ultah ini juga perlu di pikirkan > dengan chidmad dan tanya-lah dalam diri sendiri..."apakah benar ya, > wong merdeka puluhan tahun koq hanya sempat jualan budak belian?" > Ironis dan tragislah suasana kemerdekaan ini, terutama bagi wong > cilik! >
Apakah anda lupa beberapa tahun yang lalu pemerintah RI sudah mendapatkan kepercayaan dari Belanda untuk mengirimkan 600 perawat2 dari Indonesia??? Baru berhasil dikirim 200 perawat, sayangnya baru 4 bulan sudah diputus kontraknya sebelum jatuh waktu karena ke 200 perawat itu tidak mampu berkomunikasi, tidak mampu belajar sendiri, tidak mampu menyimak apa yang diajarkan, tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan. Salah satu contohnya, ada pasien yang shock, suster Indonesia ini malah sedang asyik shalat dan dzikir, celakanya tidak terpikir olehnya untuk meminta kepada temannya untuk mengawasi pasien yang berada dibawah pengawasannya. Perawat2 dari Phillipine tidak ada yang shalat sewaktu tugas, mereka bisa beradaptasi dengan lingkungan, meskipun mereka fasih berbahasa Inggris tapi cepat sekali belajar berbahasa Belanda. Yang lebih menyolok adalah, perawat2 Indonesia merasa dirinya lebih tinggi derajatnya karena beragama Islam sedangkan perawat2 yang lainnya kafir yang dipandangnya sangat rendah lebih rendah daripada binatang. Perawat2 Indonesia sok pinter meskipun kenyataannya sangatlah bodoh, malu bertanya karena takut kalo kebodohannya tampak dimata orang lain. Dan yang paling menyebalkan orang2 di Belanda adalah, bahwa perawat2 Indonesia rajin sekali membujuk pasien2 untuk masuk Islam, karena Islam adalah agama terakhir, dan Muhammad adalah nabi penutup, dan Islam adalah agama yang paling benar dan tidak ada lagi agama yang lebih benar diakhir zaman. Wajar2 saja kalo pemerintah Belanda tidak merasa beruntung menggaji perawat yang seharusnya mengabdi kepada kerajaan Belanda ternyata justru mengabdinya kepada Allah meskipun tidak pernah menerima gaji dari Allah. Bukan cuma perawat, juga Dep Kes RI telah berhasil menanda tangani untuk mengirimkan 200 orang tenaga2 dokter ke Kuwait. Setiap dokter ditest kemampuannya berbahasa Arab, padahal akan ditempatkan di rumah sakit Internasional yang pasiennya banyak dari Amerika dan eropah. Selain ditest bahasa Arab, juga ditest keimanannya. Celakanya, tidak pernah ada test tentang kemajuan dunia kedokteran dan juga tidak ada test mengenai etika kedokteran. Keimanan Islam dianggapnya lebih tinggi, lebih mulia daripada etika kedokteran. Sesampainya di Kuwait, setelah discreening oleh bagian penerimaan, kesemua dokter2 ini ditempatkan untuk bertugas membersihkan tempat tidur, menyapu bekas2 muntah, membuang sampah, menceboki nenek2 atau kakek2. Dengan kata lain, ternyata kualitas2 dokter2 Indonesia tidak memenuhi standard kedokteran yang berlaku. Dan waktu diberi tugas2 mula yang gampang2 ternyata dikerjakannya ogah2an, sok gengsi, dan merasa lebih pandai dari dokter2 Kuwait. Tidak ada dokter2 Indonesia yang tahu bahwa 80% dokter2 Kuwait itu lulusan dari Amerika. Berbeda dengan kasus perawat yang dipulangkan oleh Belanda, dokter2 Indonesia sewaktu dipecat dari Rumah Sakit, mereka tidak mau pulang, tapi kerja kebanyakan jadi supir taksi. Ny. Muslim binti Muskitawati.
