9 Pertanyaan buat Muhammad Yasin: Berani Bersatu
  
http://www.jurnalnasional.com/?med=Koran%20Harian&sec=Sosok%20dan%20Sketsa&rbrk=&id=11351
  Jakarta | Senin, 20 Agustus 2007
   
  DALAM diskusi "NKRI Under Attack" yang digelar Forum Kebangsaan Pemuda 
Indonesia (FKPI) di Gedung Joeang 45, Jakarta, Senin (6/8), Sekretaris Jenderal 
Dewan Ketahanan Nasional (Sesjen Wantannas), Letjen Muhammad Yasin, mengatakan, 
globalisasi abad 21 kini diwarnai oleh tiga isu menonjol, yaitu demokratisasi, 
hak asasi manusia (HAM), dan lingkungan hidup. Ketiga isu tersebut dimunculkan 
sebagai isu universal dan harus dianut oleh semua bangsa di dunia kini. 
  Dia melihat globalisasi merupakan sebuah keniscayaan dan tuntutan zaman. 
Namun, faktanya globalisasi ternyata lebih banyak memberikan keuntungan positif 
bagi negara maju, dan kerugian bagi negara berkembang, termasuk Indonesia. 
  Karena itu, dia mengajak seluruh komponen bangsa untuk memegang empat 
konsensus dasar, yaitu Pancasila, UUD 1945, bangun negara NKRI, serta Bhinneka 
Tunggal Ika, sebagai pedoman dalam menghadapi globalisasi. Agar tidak terseret 
dalam arus globalisasi, namun justru dapat mengambil peluang positif bagi 
Indonesia. 
  Pada Kamis (16/8) malam, Jurnal Nasional diterima oleh ayah empat anak dan 
kakek dari empat cucu ini, di Sekretariat Wantannas, Jl Merdeka Barat No. 15, 
Jakarta. 
  Dengan tenang dan penuh keakraban, ia mengungkapkan tantangan-tantangan 
Indonesia yang genap berusia 62 tahun kini. Berikut petikannya. 
  1. Bagaimana Anda melihat kondisi Indonesia saat ini? 
  Dulu, rasa senasib dan sepenanggungan karena dijajah Belanda membangkitkan 
keberanian para pendahulu kita untuk bersatu. Lalu, lhirlah Sumpah Pemuda. 
Itulah awalnya. Musuh atau ancaman saat itu jelas, penjajah. Kesadran akan 
musuh bersama itu membuat kita bersatu. Sekarang berbeda. Sepertinya, kita 
tidak paham bahwa negara ini sedang mengalami bahaya. Minimal ada tiga bahaya, 
yaitu disintegrasi, federalisasi, dan ketidakpuasan. Tiga hal yang saya 
bicarakan di Gedung Joeang itu bukan wacana atau "katanya". 
  2. Bisa dijelaskan ketiga bahaya itu? 
  Dari Sabang sampai Merauke, ada Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Riau Merdeka, 
Organisasi Papua Merdeka (OPM), Republik Maluku Selatan (RMS), dan mungkin yang 
belum muncul ke permukaan ada embrio-embrio serupa. Jika tidak dilakukan 
sesuatu, saya khawatir 20-30 tahun ke depan, apakah NKRI masih ada. Bahaya ini 
perlu kita sadari supaya kita lakukan langkah bersama untuk mengeliminasi 
bahaya itu. 
  Bahaya kedua, Amien Rais pernah mengangkat wacana federalisasi. Saat itu 
banyak yang tidak setuju. Tetapi, sekarang otonomi daerah banyak yang 
menyalahtafsirkan, malah bukan provinsi lagi, tetapi di kabupaten, kota, muncul 
istilah raja-raja kecil. Bukan soal ketata-negaraan saja. Tapi, seluruh aspek 
kehidupan, sekarang misalnya yang menolak federalisasi perguruan tinggi. Mereka 
khawatir Perguruan Tinggi Negeri (PTN) hanya orang-orang kaya yang bisa sekolah 
di situ. Cukup beralasan. Liberalisasi dalam bidang ekonomi yang mengarah pada 
keadaan yang kurang berpihak pada ekonomi kerakyatan. 
  Terakhir, ketidakpuasan. Di berita setiap hari, apakah yang berkaitan dengan 
ideologi, politik, apalagi ekonomi. Menurut saya, kuncinya hanya satu: kita 
harus berani bersatu. 
  4. Bagaimana pemahaman "Berani Bersatu" itu? 
  Formula yang pernah dipakai founding fathers, ada empat, yang disebut 
konsensus dasar. Pertama, Bhinneka Tunggal Ika, kita harus sadar kita memang 
bermacam-macam tapi satu tujuan. Kita memiliki lebih dari 17 ribu pulau, 
beragam bahasa, dan berbeda-beda agama. Keanekaragaman menjadi kekuatan atau 
kekayaan, bukan menjadi kerawanan. Itu yang membuat lahirnya Sumpah Pemuda, 
Jong Java, Sumatera, Celebes, Timur, banyak lagi. Waktu itu mereka punya 
keberanian untuk bersatu. Terus bergerak sampai 17 Agustus 1945, lahirnya 
konsensus yang kedua, yaitu NKRI. 
  Ketiga, setelah 17 Agustus 1945, keesokkan harinya secara sah lahir UUD 1945, 
tentunya dengan empat kali amandemen karena tuntutan zaman, seperti ingin 
memberantas korupsi sehingga dibuatlah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan 
lembaga lain Mahkamah Konstitusi (MK). Saya kira ini kebutuhan. Kemudian 
otonomi daerah, yang maksudnya untuk memangkas rantai birokrasi agar 
pembangunan dipermudah. Bukan untuk menjadi berkuasa di daerah. Tujuannya 
justeru untuk mempercepat pembangunan. Kita jangan terus berkiblat ke negara 
federal, bukannya NKRI. 
  Keempat, ideologi, falsafah bangsa kita yang ada di pembukaan UUD 1945 itu. 
Itu yang membuat kita bersatu. Kalau dulu NKRI bukan atas Pancasila, mungkin 
keadaannya tidak seperti ini. Dulu Bapak-Bapak Bangsa sudah berpikir jernih dan 
tulus untuk tujuan yang lebih besar. Meski mayoritas muslim, tidak berkiblat ke 
negara Islam. 
  Sekarang pun, kita harusnya berani bersatu dengan formula yang sama. Kembali 
ke empat konsensus itu. Ini yang harus disampaikan dari generasi ke generasi. 
Jangan sampai anak cucu kita tidak tahu lagi Bhinneka Tunggal Ika dan 
Pancasila. Mereka malah berkilbat ke nilai-nilai dari luar yang belum tentu 
cocok. 
  Globalisasi memang suatu keniscayaan. Tapi kalau kita punya pedoman, kita 
pasti bisa. Bukan kita terseret dan hanyut hingga kehilangan jati diri, tetapi 
kita ambil peluang dari globalisasi itu. 
  5. Tapi, semua itu (empat konsensus dasar) kini jarang dibicarakan? 
  Saya berharap dengan ultah RI ke-62, kita bisa menengok lagi sejarah, formula 
apa yang dipakai pejuang kita sehingga NKRI bisa sampai sekarang. Saya yakin, 
sebagian besar bangsa ini masih memegang prinsip itu, meski secara narasi 
mereka tidak bisa menyampaikannya. Sebab, secara rasa di dalam hati dan secara 
nalar, bahwa kita satu bangsa masih ada. Dari situ tumbuh semangat, dan tumbuh 
patriotisme. 
  Sebab itu, meski konflik di sana sini, NKRI masih eksis sampai sekarang. Ini 
harus kita sosialisasikan lagi, dan jadikan sesuatu yang benar-benar kita 
miliki lagi. Jangan sampai ditelan oleh badai globalisasi, dan kita lupa bahwa 
kita punya senjata yang luar biasa dan sudah terbukti. 
  6. Ada kesenjangan antara kaya dan miskin saat ini, ada penurunan Bendera 
Merah Putih di Aceh, ataupun nostalgia ke masa-masa Pak Harto. Bagaimana 
menurut Anda? 
  Orang tidak akan memperkaya diri sendiri jika nilai-nilai cinta Tanah Air itu 
masih ada dalam dirinya. Tidak akan lakukan pengkhianatan. Maka itu, kita harus 
terus gelorakan konsensus bangsa itu. 
  Sekarang tidak ada tentara asing datang, tetapi sama juga, ribuan warga juga 
mati saat Kerusuhan Mei 1998, di Aceh, Poso, Ambon. Kalau kita tidak mampu 
menyiasati globalisasi, kita akan terjajah lagi, tetapi berbeda rupanya, secara 
ekonomi, secara ideologi, budi pekerti. Misalnya, anak cium tangan orang tua 
dibilang keluarga kuno. Dulu zaman saya sekolah dasar, ada budi pekerti. 
Sekarang ada atau tidak? 
  Satu-satunya kunci, kita harus bersatu dan kembali ke jati diri bangsa ini. 
Bukan menghindar dari globalisasi, justru dengan jati diri bangsa yang kuat 
kita menyiasati globalisasi untuk kemajuan bangsa ini. Kebanggaan sebagai 
bangsa harus dibangkitkan lagi. Dan itu ada, seperti waktu Piala Asia kemarin. 
Potensi yang harus terus kita kembangkan, dan konkretkan lagi untuk eliminasi 
tiga bahaya tadi. 
  7. Saran Anda bagi mereka yang masih mencita-citakan pandangan politik di 
luar empat konsensus itu? 
  Memang ada yang seperti itu. Mereka bilang, yang penting sejahtera, bangsa 
pecah tidak apa. Saya melihat mereka yang seperti itu tidak punya nasionalisme, 
meski dalam hati perasaan sebangsa itu ada. Tetapi kita sebagai manusia, 
seperti saya sebagai orang Islam, kita harus memimpin bumi ini dengan baik, 
artinya ya itu yang dicontohkan para leluhur kita, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI. 
Coba cari negara kepulauan yang bentuknya kesatuan, tak ada kan? Sulit. Leluhur 
kita sudah pertimbangkan masak-masak. Masalah-masalah yang ada muncul 
disebabkan oleh kita belum mengaplikasikan empat konsensus itu dengan baik. 
Kalau hanya Bhinneka saja, tetapi tidak ada Tunggal Ika, tidak akan lahir 
Sumpah Pemuda itu. 
  Untuk bisa berjuang mengatasi gizi buruk, pendidikan, kita harus bersatu. 
Dulu yang buat kita menang, kan karena kita bersatu. Perbedaan pendapat adalah 
kekayaan asal dikelola tidak keluar dari tujuan untuk memperbaiki hari esok. 
  8. Bagaimana dengan Papua yang sudah diberi Otonomi Khusus namun masih 
bergejolak? 
  Apakah Otsus sudah sampai ke masyarakat di sana? Ini yang harusnya kita bantu 
supaya bisa sampai ke masyarakat. Dalam kasus Papua, mungkin masalahnya bukan 
ideologi, tetapi ketidakpuasan itu. Di Jawa pun banyak seperti itu. 
  Contoh, sekelompok orang membangun SMP di Kecamatan Sukamakmur, Bogor, kalau 
dari rumah SBY di Cikeas, sekitar 45-an kilometer. Di daerah itu masih ada 
warga yang tidak bisa sekolah SMP, karena SMP terdekat minimal 11 km jaraknya 
dan hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Sekarang, setelah SMP itu dibangun 
selama tiga tahun, peminatnya banyak. Jadi kalau kita lihat keterbelakangan di 
Papua, di Jawa saja masih seperti itu. 
  Banyak lahan menganggur, petani penggarap menggangur, uang mengganggur. 
Bagaimana kita bisa mengelola yang menganggur-menganggur ini bergerak supaya 
sektor riil bisa berjalan? Barangkali kalau pemerintah semua yang tangani, akan 
sulit. Para generasi muda yang saya rasa harus banyak berbuat. Orang tua 
seperti saya bisa membantu membimbing, tetapi kalau generasi mudanya sudah 
dididik mencemooh orang tua, ya tidak bisa. 
  9. Apa obesesi Anda? 
  NKRI harga mati. Pancasila harga mati. Mari kita terus bersatu agar bahaya 
itu bisa kita eliminasi. Tidak ada obsesi lain pada saya. Jadi, sekali lagi, 
kita harus berani bersatu. Bukan berani pecah. Itu yang beliau-beliau lakukan 
dulu. Pedomannya kembali ke empat konsensus tadi. Formulanya ya itu, tinggal 
diaktualkan saja sesuai dengan keadaan sekarang.
   

       
---------------------------------
Fussy? Opinionated? Impossible to please? Perfect.  Join Yahoo!'s user panel 
and lay it on us.

Kirim email ke