http://www.berpolitik.com/news.pl?n_id=7141&c_id=21&g_id=151
Senin, Agu 20, 2007 08:58 Dibalik Mundurnya PAN Menjegal Hatta, Menguatkan Posisi? - berpolitik.com Amien Rais *(berpolitik.com):* Keputusan Partai Amanat Nasional memutuskan untuk berhenti sebagai partai pendukung pemerintah diduga lebih banyak disebabkan karena faktor kontestasi di internal partai. Sebagaimana diketahui, Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir merilis pengumuman politik itu Kamis (16/8) lalu. Alasannya, popularitas partai pendukung pemerintah yang terus merosot. Tak ayal keputusan ini mengundang sinisme dari kalangan elit. Ada yang bilang, keputusan itu terlambat. Yang lain bilang, SB, begitu dia suka disapa, hendak meninggakan "bom waktu" bagi SBY. Sepanjang pengamatan berpolitik.com, hampir tak ada yang percaya dengan alasan kemerosotan popularitas. Bila mematok pada survei yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia Maret 2007 umpamanya, popularitas partai pendukung pemerintah memang cenderung merosot. Partai Keadilan Sejahtera, umpamanya,pada Maret lalu popularitasnya hanya 6,4%. Sebagai perbandingan, popularitasnya pada April 2004 sekitar 7%. Golkar anjlok dari sekitar 22% menjadi hanya 15%. Perkeculian terjadi pada Demokrat, yang naik dari sekitar 7% menjadi sekitar 10,4%. PAN juga turun, dari sekitar 6% menjadi sekitar 4,3%. Meski begitu, tren popularitas Partai ini sebenarnya menunjukan kecenderungan yang terus naik sejak Desember 2005 yang menyentuh titik terendah (2%). Keraguan terhadap alasan ini semakin menguat lantaran belakangan SB melansir alasan baru. "Pemerintah yang sekarang kurang memberikan aksi nyata maka PAN resmi berpisah dengan pemerintah yang sekarang dan akan lebih berpihak kepada rakyat," katanya di sela-sela acara memperingati hari kemerdekaan bersama anak-anak penyandang cacat, Jumat(17/8) lalu. Karena itu, banyak politisi yang melihat manuver SB dari sisi yang berbeda. Dari hasil perbincangan yang dilakukan berpolitik.com, umumnya mereka kompak mengaitkannya dengan persaingan lama dalam tubuh partai berlambang matahari ini. Yang dimaksud adalah persaingan antara SB dengan Hatta Radjasa. Bibit persaingan antara keduanya mulai meruyak pada saat Kongres partai ini tahun 2005 lalu. Mulanya, banyak pihak yang merasa kontestasi antara keduanya sudah berakhir. Tapi, rupanya SB entah mengapa suka mempertegas perkubuan yang ada. Sebagai contoh, dalam setiap pembicaraan dengan ketua-ketua DPD, SB selalu menyatakan dirinya sebagai orang yang disuruh AR untuk menjadi penengah faksi-faksi yang ada dalam kubu PAN. Dia, umpamanya, tak sungkan untuk bilang ketua DPD dari propinsi tertentu sebagai orangnya Hatta, dan ketua DPD dari propinsi lainnya sebagai kubunya Muslim Abdurrahman atau Fuad Bawazier. Ada yang bilang, SB merasa terganggu dan bahkan terancam dengan posisi Hatta yang menguat sebagai Mensesneg. Posisi strategis ini diyakini bakal memudahkan Hatta untuk mengalokasikan sumber daya dan akses kepada kalangan politisi PAN.Hatta semakin menjadi ancaman karena sebagian besar anggota parlemen memang dikenal sebagai orang-orang dari faksinya Hatta. Kontestasi di antara mereka, kata seorang sumber berpolitik.com, mengeras ketika Hatta berhasil mendamaikan perseteruan terbuka yang sempat terjadi antara Amien Rais dan Susilo Bambang Yudhoyono. Padahal, ketika itu, SB sebenarnya menginginkan Amien Rais terus mengobarkan peperangan dengan SBY. Sebelumnya, SB juga berkesan tidak ingin menyelamatkan kedudukan Hatta di kabinet pada saat menjelang reshuflle Mei lalu. SB disebut-sebut berkeberatan dengan rencana mengalihkan posisi Hatta sebagai Mensesneg. "Dia itu kan insinyur minyak, sepertinya tidak pas," begitu ujar sumber berpolitik menirukan ucapan SB yang didengarnya. Seorang sumber menambahkan, SB semakin terancam lantara nama Hatta tiba-tiba mencelat sebagai salah satu kandidat serius yang dipertimbangkan SBY sebagai wakil presiden pada pilpres 2009 jika koalisinya dengan Jusuf Kalla koyak. Padahal, SB berencana untuk memajukan Din Syamsudin, ketua PP Muhammadiyah. Tak jelas benar apakah SB serius dengan rencana mencalonkan Din, tetapi kalangan muda PAN meyakini manuver itu lebih merupakan siasat SB untuk memperoleh simpati dari kalangan Muhammadiyah yang masih terus mempersoalkan kepemimpinnya. Momentum untuk bercerai ini sepertinya memanfaatkan rencana SBY melakukan reshuffle terbatas untuk mengisi posisi Mendagri yang masih kosong setelah Ma'ruf dipastikan masih membutuhkan waktu yang panjang untuk memulihkan kesehatan dari penyakit stroke yang dideritanya (baca ulasan tentang ini:ini<http://www.berpolitik.com/news.pl?n_id=7047&c_id=21&g_id=151>, ini <http://www.berpolitik.com/news.pl?n_id=6975&c_id=21&g_id=151> danini<http://www.berpolitik.com/news.pl?n_id=6849&c_id=21&g_id=151>). SB sepertinya berharap SBY bakal memperluas posisi yang dikocok ulang. Sasarannya tentu saja posisi Hatta. Jika Hatta terjungkal, SB diyakini bakal melakukan "bersih-bersih" di tubuh PAN. Target utamanya adalah para ketua DPD yang dikenal sebagai loyalisnya Hatta. Mereka bakal digoyang dengan memanfaatkan kubu-kubu yang tak puas dengan kepemimpinan masing-masing ketua DPD. Sasaran berikutnya adalah anggota legislatif. Mereka yang diduga masih pro-Hatta bakal di-recall dengan berbagai alasan, dari mulai pergantian antar waktu hingga soal-soal yang sifatnya pribadi. Malah ada yang memperkirakan, jika Hatta digusur SBY, SB bukan tak mungkin akan balik badan lagi: kembali menggiring PAN sebagai partai pendukung pemerintah. Masalahnya, jika SBY tetap mempertahankan Hatta, giliran posisi SB yang terancam. Nah!
