GALAMEDIA
18 Agustus 2007

      Perjalanan Pahit Anak-anak Korban G-30-S/PKI (5)  
      Caci Maki dan Hinaan
      Menjadi Makananku Sehari-hari  
     
      PADA kisah sebelumnya diceritakan, Elvi dan Bobby dibawa oleh suami dari 
sepupu jauhnya ke kampung halaman neneknya yang cukup jauh. Meskipun terlepas 
dari ancaman orang-orang sekampungnya, Elvi tetap mendapat tekanan batin. 
Saudaranya pun seolah-olah membencinya dan selalu menampakkan sikap tidak 
bersahabat. Bagaimana nasib Elvi selanjutnya? Inilah lanjutan kisahnya yang 
ditulis M. Irfan Ar.  
     
KEPINDAHANKU ke kampung halaman nenekku tidak membawa perubahan baik terhadap 
ketenteraman jiwaku. O iya, aku memanggil nenekku dengan sebutan "emak" karena 
panggilan "nenek" hanya kuperuntukkan buat kakak kakekku (Nenek Tursina) yang 
kemudian merawatku hingga dewasa. Di tempat kelahiran ayahku ini aku malah 
semakin tertekan. Semua saudara-saudara dari ayahku tidak ada yang mau 
bersimpati terhadap nasib yang kualami. Semua memandang kami dengan pandangan 
penuh rasa sinis.

Kami sering diolok-olok dan dicaci maki. Mereka tidak segan-segan menghinaku 
dan dengan sengaja membuat hatiku sakit. Tapi aku tidak bisaberbuat banyak, 
karena keadaan sedang tidak berpihak padaku. Sebenarnya aku tidak betah berada 
di sini, tapi aku haruspergi ke mana? Ayah ibuku ditahan, saudara-saudara dari 
pihak ibu takseorang pun yang mau menerima kehadiranku. Mereka sangat membenci 
kami. Aku tahu kebencian itu ditujukan pada ayahku, tetapi merekamenumpahkannya 
pada kami. Sebetulnya perbuatan itu tidak adil. Aku dan kakakku hanyalah anak 
yang tidak tahu menahu soal kesalahan orangtua. Mengapa mesti kami yang harus 
menanggung semua kesalahan itu? Mengapa?

Aku masih ingat pada ucapan anak kepala desa saat aku bermain dekat rumahnya. 
Aku tidak akan melupakan kata-katanya yang pedas dan menyakitkan. Kupikir, 
kata-kata itu tidakperlu terlontar dari "orang terhormat" seperti dia.

Saat itu aku sedang bermain di rumah Uak Burhan, kakak sepupu ayahku, ayahnya 
Teh Luciana. Layaknya seorang anak kecil seusiaku, aku bermain congkak di atas 
tanah menggunakan kerikil, di bawah pohon cengkih. Ketika aku tengah asyik 
bermain,tiba-tiba dari rumah kepala desa yang terhormat itu keluar anak 
sulungnya yang perempuan, namanya sebut saja Teh Septia (sekarang sudah 
meninggal). Wanita bertubuh tambun berusia 25 tahunan (terpaut 20 tahun 
denganku) itu menghampiriku sambil memandangku sinis.

"Ini Elvi, 'kan?" tanyanya.

Aku menoleh lalu mengangguk. Kulihat bibirnya mencibir. Aku segera menunduk. 
Tidak tahan melihat wajahnya yang kecut.

"Kasihan kamu Elvi. Dulu orang-orang selalu memanggilmu Neng Elvi, sekarang 
enggak ada lagi yang menyebut begitu karena orangtuamu dimasukkan ke penjara, 
ya? Kasihan amat," katanya sambil berlalu.

Ada sebilah sembilu menoreh hatiku. Sakit sekali. Aku ingin menangis 
sejadi-jadinya, tetapi rasanya air mata ini sudah kering. Dalam batinku aku 
berteriak memanggil ayah ibuku, "Ayah, mengapa aku harus menerima penghinaan 
seperti ini? Apa salahku?"

Cacian, makian, hinaan menjadi santapanku setiap hari. Ke mana pun aku pergi 
selalu saja ada orang yang mengatakan aku sebagai anak PKI. Kalau ada sedikit 
kekhilafan yangkuperbuat, saudara-saudara dari pihak ayahku selalu mengatakan, 
"Dasar anak PKI." Aku sedih sekali. Seandainya aku bisa melihat, mungkin hatiku 
telah tercabik-cabik dan penuh luka karena hinaan orang.

Ketika memasuki masa sekolah, aku pun sekolah meski pada awalnya nenekku hampir 
tidak menyekolahkanku karena alasan biaya. Emak bilang, biaya sekolah kakakku 
pun belum tentu terpenuhi. Aku sakit sekalimendengar hal itu, Emak memang agak 
pilih kasih. Kakakku diperlakukan lebih baik dariku karena ia sempat tinggal 
cukup lama dengannya. Orangtua sendiri saja bersikap seperti itu, apatah lagi 
orang lain.

Beuntung aku masih punya saudara jauh, keponakan jauh ayahku yang bekerja di 
kantor kecamatan. Namanya sebut saja Kang Praja dan istrinya Teh Sartika. Usia 
mereka terpaut cukup jauh dengan ayahku. Mereka lebih tua belasan tahun dari 
ayahku, tetapi karena silsilah keluarga, aku memanggil mereka Akang dan Teteh.

Kedua orang ini sangat baik dan penuh perhatian. Mereka menyayangiku seperti 
anak mereka sendiri.Tatapan mata mereka selalu menyejukkan hatiku dan setiap 
ucapan yang terlontar dari mulut mereka penuh dengan ungkapan kasih sayang. 
Mereka menawariku agar aku mau tinggal bersama mereka, tetapi aku sudah lebih 
dulu memutuskan tinggal bersama Nenek Tursina. Untuk membalas kebaikanmereka 
setiap hari aku datang ke rumah mereka, kadang-kadang menginap sampai dua tiga 
hari.

Di tempat Kang Praja aku bisa makan dan minum secara leluasa, tidak seperti di 
rumah saudara-saudara dekat dari ayahku. Di tempat mereka aku makan sambil 
makan hati, karena setiap sedang makan selalu diceramahi dengan kata-kata yang 
cukup menyakitkan. Setelah itu disediakan pekerjaan yang lumayan berat untuk 
ukuran anak-anak.

"Silakan kamu makan dulu, tapi ingat ya, setelah makan kamu cuci piring dan 
bersihkan halaman. Kamu harus bisa menitipkan diri, karena ayahmu dipenjara tak 
mungkin menolongmu," kata Teh Luciana di depan ibunya dan neneknya.

Aku tidak menjawab. Sepiring nasi dan sepotong tempe yang ada di hadapanku sama 
sekali tidak mengundang selera makanku, meskipun aku lapar. Kata-kata Teh 
Luciana itu telah membunuh selera makanku. Ingin sekali aku beranjak dari 
hadapan mereka dan pergi ke rumah Kang Praja, tapi aku tak berani. Mereka pasti 
marah. Apa pun harus kulakukan, mesti menyakitkan. (bersambung)** 

Kirim email ke