Sedikit menambahi, Mas Harry.
Para majikan TKW di Singapura, tiap bulan mengeluarkan
uang 750 dolar S'pore (sekitar Rp4,5 juta jika kurs
Rp6 ribu) untuk menggaji pembantunya. Mereka juga
diwajibkan menyerahkan deposit 5.000 dolar kepada
pemerintah, sebagai bentuk pertanggungjawaban bahwa
mereka mampu mengurus pembantunya. Jika ada masalah
(semisal pembantu berbuat kejahatan, hamil, dll) uang
jaminan itu hangus.
Ironisnya, tiap bulan para TKW itu rata-rata hanya
menerima gaji Rp1,5 juta. Kita bisa bayangkan, berapa
besar uang yang masuk ke kantong agen&dll. Jika
minimal kontrak seorang TKW dua tahun, bisa dihitung
sendiri untungnya para agen&dll, yang ikut andil
memberangkatkan para TKW. Juga bisa dibandingkan,
berapa ongkos untuk memberangkatkan mereka, yang biasa
menjadi dalih para agen&dll, kenapa memungut hasil
keringat sebanyak itu.
Sudah seperti romusha, TKW juga kena tipu sini-sana.
Yang nipu kawan negeri sendiri, lagi. Duh...
Salam,
sultan
www.adalahcerita.blogspot.com
--- Harry Adinegara <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
> Ada satu masalah yang membuatku perlu menuangkan
> pikiranku dalam bentuk tulisan untuk/dalam
> memperingati tujuh belasan agustusan ini.
>
> Setelah ada satu korban lagi seorang TKW(Kunarsih)
> yang terbunuh di Malaysia, aku teringat akan
> kejadian tempo doeloe. tempo-nya Bung Karno dan
> fascist Jepang.
>
> Apa ke-se-ia-kata-an antara Jepang dan Bung Karno
> bisa di samakan dengan caranya pemerintah menangani
> perkara TKW yang secara indirek, para TKW ini
> di-utus oleh pemerintah untuk cari kerja di LN.
> Kenapa secara indirek? TKW2 ini di-utus oleh
> pemerintah? Ya tidak lain yalah karena pemerintah
> tidak bisa memberikan lapangan kerja bagi mereka2
> yang terpaksa cari kerja di LN, jadi secara
> indirek(tak langsung) mereka di-"utus" oleh
> pemerintahnya untuk kerja di LN.
>
> Sama2 dalam kejadian ini, kejadian tempo doeloe
> dan tempo sekarang, sama2 keduanya menelan korban,
> sama2 keduanya secara indirek di minta untuk jadi
> budak belian di LN.
>
> Bedanya mungkin, tempo doeloe itu sejarahnya Bung
> Karno bekerja atau mentolerir bangsanya sendiri
> untuk dijadikan budak belian kerja paksa di negara2
> Asteng(Thailand).
>
> Dulu, tempo doeloe dasarnya pengiriman budak
> belian itu atas dasar politis ,tapi sekarang karena
> faktor tekanan ekonomi, berkat pemerintah yang ngak
> becus ngurus negara dan memakmurkan bangsa dewek.
>
> Lebih ironis-nya yalah hasil kiprahnya
> pemerintahan2 sepanjang masa cuma bisa menghasilkan
> pengiriman budak belian ke LN. Kenapa ironis karena
> juga pengiriman budak belian ini adalah penghasil
> devisa kedua terbesar setelah hasil minyak bumi.
>
> Jadi sewaktu kita memperingati Ultah ini juga
> perlu di pikirkan dengan chidmad dan tanya-lah dalam
> diri sendiri..."apakah benar ya, wong merdeka
> puluhan tahun koq hanya sempat jualan budak belian?"
> Ironis dan tragislah suasana kemerdekaan ini,
> terutama bagi wong cilik!
>
> Aku bisa merasakan betapa hatinya wong cilik ini
> menangis ,melihat negara yang tidak punya
> /menunjukan nilai positipnya sepanjang 62 tahunan
> bagi kemajuan bangsa dewek-nya. Tragis memang!
>
> Harry Adinegara
>
>
> ---------------------------------
> Get the World's number 1 free email service. Find
> out more.
____________________________________________________________________________________
Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, news,
photos & more.
http://mobile.yahoo.com/go?refer=1GNXIC