Pendapat beliau yang paling saya suka mengenai NKRI
ialah bahwa kita semua harus lapang dada menerima
NKRI,  bukan sekadar pasang 'tampang galak' dan siap
angkat senjata! 

(teriakan) Angkat senjata kita juga sudah sumbang kok.
Dengar ketika seruan angkat senjata menghadapi kasus
Ambalat? Cuma sebentar di koran-koran, ada gelora
nasionalisme. Tak lama semua sibuk lagi dengan
urusan-urusan nyari makan ala kita (sikut sana, tepu
sini, korup sana-korup sini...)

Belum lagi gerakan-gerakan (yang awalnya sih
menegakkan ajaran agama) namun kemudian eeh..eh
buntut-buntutnya (ingin) menggugurkan NKRI.









--- Komunitas Lentera <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> WAWANCARA
>   Rabu, 22 Agustus 2007, 12:12:14 WIB
>   Letjen M. Yasin, Calon Mendagri
>   
>  
>
http://www.myrmnews.com/indexframe.php?url=situsberita/index.php?pilih=wawancara
>    
>   Jakarta, myRMnews. Nama Mohammad Yasin semakin
> kuat di bursa kandidat menteri dalam negeri
> (mendagri) menggantikan Moh. Ma?ruf yang absent
> karena stroke. Jenderal bintang tiga ini masih
> menolak berkomentar karena merasa tidak etis soal
> jabatan itu. Berikut adalah wawancara khusus Rakyat
> Merdeka dengan Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan
> Nasional (Sesjen Wantannas) ini: 
>    
>   Belakangan nama Anda menguat di polling bursa
> calon Mendagri. Tanggapan Anda? 
>   Kalau soal itu, saya enggan menjawab. Tapi ya, itu
> hak mereka dan saya tidak mungkin melarang atau
> menolak. Yang jelas saya berterima kasih atas segala
> perhatian teman-teman, khususnya para senior yang
> telah mengadakan pertemuan-pertemuan dukungan,
> bahkan do'a bersama. Juga kepada mereka yang
> berkomentar, baik pro ataupun kontra, tetapi saya
> mohon boleh mengingatkan, keputusan penetapan
> Mendagri, sepenuhnya hak prerogatif presiden yang
> tak bisa dan tak boleh diganggu gugat. Saya hanya
> berharap agar semua orang tetap tahu, saya adalah
> seorang prajurit aktif yang terikat sumpah, antara
> lain wajib taat kepada atasan dengan tidak membantah
> perintah atau putusan. 
>    
>   Sebagai salah satu calon Mendagri, bagaimana
> sebenarnya Anda melihat kondisi bangsa saat ini? 
>   Dulu, rasa senasib sepenanggungan karena dijajah
> Belanda, membangkitkan keberanian para pendahulu
> kita untuk bersatu. Lahirlah Sumpah Pemuda. Itu
> awalnya. Musuh atau ancaman saat itu jelas,
> penjajah. Dan musuh bersama itu yang sebenarnya
> membuat mereka bersatu. Sekarang berbeda.
> Sepertinya, kita tidak paham, negara ini sedang
> mengalami bahaya. 
>    
>   Bahaya, maksud Anda? 
>   Minimal ada tiga, disintegrasi, federalisasi, dan
> ketidakpuasan. Itu bukan wacana atau "katanya". 
>    
>   Bisa dijelaskan ketiga bahaya itu? 
>   Dari Sabang sampai Merauke, ada Gerakan Aceh
> Merdeka (GAM), Riau Merdeka, Organisasi Papua
> Merdeka (OPM), Republik Maluku Selatan (RMS), dan
> mungkin ada embrio-embrio serupa yang belum muncul
> ke permukaan. Jika tidak dilakukan sesuatu, saya
> khawatir 20-30 tahun ke depan, apakah NKRI masih
> ada. Bahaya ini perlu kita sadari supaya kita
> lakukan langkah bersama untuk mengeliminasi bahaya
> itu. 
>    
>   Lalu bahaya kedua? 
>   Bapak Amien Rais pernah mengangkat wacana
> federalisasi. Saat itu tidak pada setuju. Tetapi
> sekarang otonomi daerah banyak yang
> menyalahtafsirkan, malah bukan provinsi lagi, tetapi
> di kabupaten, kota, muncul istilah raja-raja kecil.
> Bukan soal ketatanegaraan saja. Tapi seluruh aspek
> kehidupan, sekarang misalnya yang menolak
> federalisasi perguruan tinggi. Mereka khawatir
> Perguruan Tinggi Negeri (PTN) hanya orang-orang kaya
> yang bisa sekolah di situ. Cukup beralasan.
> Liberalisasi dalam bidang ekonomi yang mengarah pada
> keadaan yang kurang berpihak pada ekonomi
> kerakyatan. Terakhir, ketidakpuasan. Di berita
> setiap hari, apakah yang berkaitan dengan ideologi,
> politik, apalagi ekonomi. Menurut saya, kuncinya
> hanya satu, kita harus berani bersatu. 
>    
>   Pemahamannya bagaimana? 
>   Formula yang pernah dipakai founding fathers, ada
> empat, yang disebut konsensus dasar. Pertama,
> Bhinneka Tunggal Ika, kita harus sadar kita memang
> bermacam-macam tapi satu tujuan. Kita memiliki
> 17.000 pulau lebih, beragam bahasa, dan berbeda-beda
> agama. Keanekaragaman menjadi kekuatan atau
> kekayaan, bukan menjadi kerawanan. Itu yang membuat
> lahirnya Sumpah Pemuda, Jong Java, Sumatera, Celebes
> , Timur, banyak lagi. Waktu itu mereka punya
> keberanian bersatu. Dan terus bergerak sampai 17
> Agustus 1945, lahirnya konsensus yang kedua, NKRI. 
>    
>   Ketiga, setelah 17 Agustus 1945, keesokkan harinya
> secara sah lahir UUD 1945, tentunya dengan empat
> kali amandemen karena tuntutan zaman, seperti ingin
> memberantas korupsi sehingga dibuatlah Komisi
> Pemberantasan Korupsi (KPK), dan lembaga lain
> Mahkamah Konstitusi (MK). Saya kira ini kebutuhan.
> Kemudian otonomi daerah, tetapi maksudnya untuk
> memangkas rantai birokrasi agar pembangunan
> dipermudah. Bukan untuk menjadi berkuasa di daerah.
> Tujuannya justru untuk mempercepat pembangunan.
> Jangan terus kita ke negara federal kiblatnya, bukan
> NKRI. 
>    
>   Keempat, ideologi, falsafah bangsa kita yang ada
> di pembukaan UUD 1945 itu. Itu yang membuat kita
> bersatu. Kalau dulu NKRI bukan atas Pancasila,
> mungkin keadaannya tidak seperti ini. Dulu
> Bapak-bapak bangsa sudah berpikir jernih dan tulus
> untuk tujuan lebih besar. Meski mayoritas muslim,
> tidak berkiblat ke negara Islam. Sekarang pun, kita
> harusnya berani bersatu dengan formula yang sama.
> Kembali ke empat konsensus, ini yang harus
> disampaikan dari generasi ke generasi. Jangan sampai
> anak cucu kita tidak tahu lagi Bhinneka Tunggal Ika
> dan Pancasila. Mereka malah berkiblat ke nilai-nilai
> dari luar yang belum tentu cocok. Globalisasi memang
> keniscayaan. Tapi kalau kita punya pedoman, kita
> pasti bisa. Bukan terseret hingga kehilangan jati
> diri, tetapi kita ambil peluang dalam globalisasi
> itu. 
>    
>   Tetapi bukannya empat konsensus dasar ini kini
> sudah jarang dibicarakan? 
>   Saya berharap dengan ultah ke-62, kita bisa
> menengok lagi sejarah formula apa yang dipakai
> pejuang kita sehingga NKRI bisa sampai sekarang.
> Saya yakin, sebagian besar bangsa ini masih memegang
> prinsip itu, meski secara narasi mereka tidak bisa
> menyampaikan. Sebab, dalam hati dan secara nalar,
> bahwa kita satu bangsa masih ada. Dari situ tumbuh
> semangat dan patriotisme. Sebab itu, meski konflik
> di sana sini, NKRI masih eksis sampai sekarang. Ini
> harus kita sosialisasikan lagi, dan jadikan sesuatu
> yang benar-benar kita miliki. Jangan sampai ditelan
> badai globalisasi, dan kita lupa, kita punya senjata
> yang luar biasa dan sudah terbukti. Saat ini ada
> banyak permasalahan, kesenjangan kaya-miskin yang
> sangat timpang, ada penurunan bendera merah putih di
> Aceh, ataupun nostalgia ke masa-masa Pak Harto.
> Menurut Anda bagaimana? Tidak akan perkaya diri
> sendiri, jika nilai-nilai cinta tanah air itu masih
> ada. Tidak akan lakukan pengkhianatan. Maka itu,
> kita harus terus gelorakan
>  konsensus bangsa itu. Sekarang tidak ada tentara
> asing datang, tetapi sama juga, ribuan warga juga
> mati saat Mei 1998, di Aceh, di Poso, di Ambon.
> Kalau kita tidak mampu siasati globalisasi, kita
> akan terjajah lagi, tetapi berbeda wujudnya, secara
> ekonomi, secara ideologi, budi pekerti. 
>    
>   Satu-satunya kunci, kita harus bersatu dan kembali
> ke jati diri bangsa ini. Bukan menghindar dari
> globalisasi, justru dengan jati diri bangsa yang
> kuat kita siasati globalisasi untuk kemajuan bangsa
> ini. Kebanggaan sebagai bangsa harus dibangkitkan
> lagi. Dan itu ada, seperti waktu Piala Asia kemarin.
> Potensi yang harus terus kita kembangkan dan
> konkritkan lagi untuk eliminasi tiga bahaya tadi. 
>    
>   Saran Anda pada mereka yang masih mencita-citakan
> pandangan politik di luar empat konsensus itu? 
>   Memang ada yang seperti itu. Mereka bilang, yang
> penting sejahtera, bangsa pecah tidak apa. Saya
> lihat mereka tidak punya nasionalisme, meski dalam
> hati perasaan sebangsa ada. Tetapi kita sebagai
> manusia, seperti saya sebagai orang Islam, kita
> harus memimpin bumi ini dengan baik, artinya ya itu
> yang dicontohkan pada leluhur kita, Bhinneka Tunggal
> Ika, NKRI. Coba cari negara kepulauan yang bentuknya
> federal, nggak ada kan? Sulit. Leluhur kita sudah
> pertimbangkan masak-masak. Masalah-masalah yang ada
> sebab kita belum aplikasikan empat konsensus itu
> dengan baik. Kalau hanya Bhinneka saja, tetapi tidak
> ada Tunggal Ika, tidak akan lahir Sumpah Pemuda itu.
> Untuk bisa berjuang mengatasi gizi buruk,
> pendidikan, kita harus bersatu. Dulu yang buat kita
> menang, karena kita bersatu. Perbedaan pendapat
> adalah kekayaan, asal dikelola tidak keluar tujuan
> untuk memperbaiki hari esok. 
>    
>   Bagaimana dengan Papua yang sudah diberi Otonomi
> Khusus namun masih bergejolak? 
>   Apakah Otsus sudah sampai ke masyarakat di sana?
> Ini yang harusnya kita bantu supaya bisa sampai ke
> masyarakat. Dalam kasus Papua, mungkin masalahnya
> bukan ideologi, tetapi ketidakpuasan itu. Di Jawa
> pun banyak seperti itu. Contoh, sekelompok orang
> membangun SMP di Kecamatan Sukamakmur, Bogor, kalau
> dari rumah Pak SBY di Cikeas, sekitar 45-an
> kilometer. Di daerah itu masih ada warga yang tidak
> bisa sekolah SMP, karena SMP terdekat minimal 11 km
> jaraknya dan hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki.
> Sekarang, setelah SMP itu dibangun selama tiga
> tahun, peminatnya banyak. Jadi kalau kita lihat
> keterbelakangan di Papua, di Jawa saja masih seperti
> itu. Banyak lahan nganggur, petani penggarap
> nggangur, uang ngganggur. Bagaimana kita bisa
> mengelola yang nganggur-nganggur ini bergerak supaya
> sektor riil bisa berjalan? Barangkali kalau
> pemerintah semua yang tangani, akan sulit. Generasi
> muda yang saya rasa harus banyak berbuat. Orangtua
> seperti 
=== message truncated ===



       
____________________________________________________________________________________
Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows. 
Yahoo! Answers - Check it out.
http://answers.yahoo.com/dir/?link=list&sid=396545469

Kirim email ke