Komentar: Menambahkan dan koreksi atas liputan Kompas, tentang "Pantai Bosnik di Distrik Padaido" dan "Pulau Wundi" yang benar adalah Bosnik itu ibukota distrik Biak Timur sedangkan Distrik Padaido ibukotanya Wundi (BPS: Biak Numfor dalam Angka 2004, hal 13) di Pulau Padaido. Pulau Padaido terletak di sebelah Timur Pulau Biak, nampak dari Pantai Bosnik. Pasukan Sekutu dan Jepang ketika perang Dunia II mendarat di sekitar pantai Bosnik. Pengalaman bulan Juni 2007 saat laut tenang, menggunakan speedboat 500PK, Pulau Padaido bisa ditempuh dari pelabuhan Biak sekitar 1jam dan bila dari Bosnik 0,5jam saja.
Pantai sekitar pulau Padaido memang indah, jernih dan bersih dari sampah atau pencemaran limbah, sehingga karang dan ikan-2 bisa kelihatan dari permukaan air. Saya pernah menangkap ikan sekitar kepulauan itu hanya memakai besi beton 6mm sepanjang satu meter yang ujungnya dibuat tajam seperti paku dan pangkal diikat tali sepanjang 5meter. Bila ada ikan besar atau serombongan ikan, ujung tali dipegang dan besi tersebut dilempar hingga ujungnya yang tajam mengenai ikan. Sangatlah mudah menangkap ikan disini karena banyak sekali ikannya. Bila ingin menikmati keindahan laut Biak buka di www.swanido.com. Di Biak dulu ada perusahaan penangkap, pengolah ikan dengan aset ratusan miliar yang merupakan penggerak utama perekonomian di Biak namun sejak perusahaan induk bangkrut pada krisis ekonomi tahun1998 akhirnya ditutup juga. Sisa aset perusahaan berupa kapal-2nya yang berukuran besar itu masih menangkap ikan di sekitar perairan Biak, konon disewa oleh perusahaan asal Korea namun entah kemana ikan-2 tersebut diolah. Bila ada investor yang akan investasi di bidang penangkapan/pengolahan ikan, Biak adalah tempat yang tepat. Salam nano Biak Numfor Papua. [EMAIL PROTECTED] Sumber Berita Kompas Online Kamis 23/08/2007. http://www.kompas.com/kompas-cetak/0708/23/utama/3781365.htm Potensi Bahari Nelayan Santun di Padaido Samuel Oktora dan B Josie Susilo Hardianto Laut terhampar biru. Sinar matahari pagi menghunjam menembus permukaan laut. Bilah-bilah cahaya berkelebat menari di permukaan karang. Ikan-ikan kecil berwarna hitam segera menyusup ke balik karang. Perahu Melki Morin dan Nico melintas di atas karang. Perahu tradisional itu khas di Biak dan pesisir Papua. Bentuknya panjang, ramping, dan berujung runcing. Pagi itu Melki dan Nico merapat ke Pantai Bosnik di Distrik Padaido, Kabupaten Biak Numfor. Selasa adalah hari pasar. Karena itu, sejak sore sebelumnya mereka telah melaut dan hasilnya dibawa ke Pasar Bosnik. Tidak mengecewakan, meskipun dini hari hujan turun cukup deras, pasar tetap ramai. Pedagang sayur, sagu, hingga penjual burung tumpah di pasar kecamatan itu. Di seberang, sejumlah nelayan telah menggelar hasil tangkapan mereka di deretan bangku panjang, berpayung anyaman daun kelapa. Pondok-pondok mirip lapak itu milik Gereja. Untuk menggunakannya, mereka wajib membayar retribusi sebesar Rp 2.000 kepada Gereja. Melki dan Nico, nelayan muda asal Pulau Wundi, segera mengeluarkan ikan hasil tangkapan. Seutas tali terbuat dari daun kelapa ditusukkan ke arah insang hingga menembus ke mulut ikan. Hari itu mereka memperoleh ikan yang banyaknya sekitar setengah kotak pendingin berukuran 100 x 60 sentimeter. Di dalam kotak putih yang biasa disebut cool box itu ada beragam jenis ikan, seperti gutila, samandar ekor kuning, dan kakaktua. Ikannya segar-segar. Insangnya masih merah. Beberapa pembeli yang telah menanti sabar menunggu Melki dan Nico selesai menyatukan ikan-ikan ke tali daun kelapa itu. Serenteng dihargai Rp 15.000. Untuk ikan ukuran kecil, serenteng bisa berisi 12 ekor, sedangkan untuk yang lebih besar, hanya empat atau enam ekor. "Setiap hari pasar rata-rata kami mendapatkan keuntungan bersih Rp 300.000. Tapi, hasil itu dibagi dua. Kalau tangkapan bagus dan ikan tak banyak di pasar, bisa sampai Rp 700.000," kata Melki kepada tim Ekspedisi Tanah Papua Kompas 2007. Pada hari-hari pasar, yaitu Selasa, Kamis, dan Sabtu, memang banyak nelayan pulau merapat. Mereka datang dari Wundi dan Owi. Setiap ke Bosnik, untuk mengangkut ikan hasil tangkapan, Melki menyewa perahu motor Rp 50.000. Selain menjaring ikan di sekitar pantai Pulau Wundi, Melki juga mencari ikan dengan perahu dayung. Menurut laki-laki tamatan SMA itu, jaring biasa ditebarkan sore hari. Ketika ditarik sekitar pukul 20.00, jaring biasanya sudah penuh ikan. Jika cuaca baik dan air laut surut, Melki dan Nico biasa mencari ikan dengan perahu pada siang hari. Menjaga terumbu Para nelayan seperti Melki memang beruntung. Mereka tidak perlu menyetorkan hasil tangkapan kepada tengkulak. Mereka senang menjadi nelayan yang bebas menjual ikan langsung kepada pembeli, apalagi ikan juga melimpah. Bagi mereka, hanya cuaca seperti angin kencang sekitar bulan November-Desember dan gelombang tinggi pada bulan Agustus yang menjadi hambatan. Selebihnya, alam memberi anugerah yang luar biasa, terutama sejak para nelayan tidak lagi menggunakan bom laut untuk mencari ikan. "Ikan di sini mudah didapat. Dulu nelayan di Pulau Wundi banyak menggunakan bom ikan, tapi sejak ada penyuluhan dan larangan keras, kami tak lagi pakai bom ikan," tutur Melki. Dulu bom-bom ikan diracik dari bom-bom sisa Perang Dunia II yang banyak ditemukan di Pulau Wundi, yang pernah menjadi basis Angkatan Laut Amerika dari Armada Ketujuh. Benyamin Inarkombu, nelayan asal Pulau Owi, menambahkan, sejak tahun 1997 nelayan dari pulau-pulau di sekitar Biak berangsur tidak lagi mengebom ikan. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) seperti Coremap terus-menerus memberi penyuluhan tentang pentingnya menjaga kelestarian terumbu karang. Di tempat lain, pada umumnya tingkat sosial ekonomi kehidupan nelayan rendah, bahkan sering kalah dibandingkan dengan kelompok masyarakat seperti petani. Mereka sering mengeluh tidak dapat mencukupi kehidupan rumah tangga, bahkan dililit banyak utang, terutama pada musim paceklik ikan. Tidak demikian dengan nelayan di Pulau Wundi dan Owi. Mereka tampak begitu menikmati pekerjaan sebagai nelayan. Hal itu tentu tak lepas dari sikap mereka yang semakin memahami pentingnya menjaga keberadaan karang-karang laut sehingga biota laut tetap lestari. Meski demikian, kata Benyamin, beberapa nelayan dari Pulau Owi saat ini masih menemukan nelayan-nelayan dari daerah lain mengebom ikan. Para nelayan asal Buton, misalnya, sering kedapatan membuang bom ikan di dekat pulau-pulau yang tidak berpenghuni. Selain itu, ada pula nelayan lain dengan perahu besar mencari ikan menggunakan pukat harimau. Tentu saja dua cara itu membuat terumbu karang yang selama ini dijaga nelayan Pulau Wundi dan Owi terancam. Kadang, mereka melaporkan kejadian itu ke pos Polisi Perairan dan Udara di dekat Pasar Bosnik, tetapi sering kali mereka harus kecewa karena polisi tampaknya enggan mengejar pelaku pengeboman. Meski demikian, para nelayan tetap patuh pada imbauan. Mereka setia pada jaring dan pancing. Tak menjadi serakah ternyata memberi keuntungan. Meskipun sederhana, para nelayan nyatanya mampu mengelola kemurahan alam dan sumber lain dengan santun.
