SUARA MERDEKA
Kamis, 23 Agustus 2007
Santri Assalaam Dipukuli Senior
a.. Humas Ponpes: Pelaku Diberi Sanksi
KORBAN PEMUKULAN: Deri Saputra (kiri) dan I Wayan Mahardika tergolek di
ranjang bangsal bougenville RS Panti Waluyo, Solo karena dipukuli seniornya,
kemarin. Ibu Deri menuntut hukum kasus pemukulan terhadap anaknya. (57)
SUKOHARJO- Dua santri Pondok Pesantren (Ponpes) Assalaam di Pabelan, Kartasura,
Sukoharjo, masuk RS Panti Waluyo, gara-gara dipukuli seniornya. Peristiwa
terjadi Jumat (17/8) malam. Keduanya adalah Deri Saputra (15), asal Baturaja
Timur, Kabupaten Ogan Komering Hulu, Sumatera Selatan dan I Wayan Mahardika
(15), asal Denpasar, Bali. Polisi belum menentukan tersangka dalam kasus tersebut, meski dua pelaku yaitu Adib dan Dody -siswa kelas 1 SMK Assalaam- sudah dimintai keterangan. Orang tua Deri, Supriyatin mengaku, akan menuntut masalah tersebut secara hukum jika pelaku maupun pihak sekolah tidak bertanggung jawab. Kapolres Sukoharjo AKBP Yudawan mengatakan, tiga orang juga sudah dimintai keterangan sebagai saksi. "Kami juga akan memanggil orang tua korban dan pihak sekolah untuk dimintai keterangan," katanya. Mengenai kemungkinan pembentukan tim khusus karena ada informasi kasus kekerasan fisik sering terjadi di pondok milik Yayasan Majelis Pengajian Islam Surakarta itu, Kapolres menyatakan sejauh ini belum perlu. Humas Ponpes Assalaam Muslim Ridho menjelaskan, kekerasan fisik tidak dibenarkan di lingkungan pondok tersebut. Untuk kasus yang menimpa Deri dan Dika, panggilan Mahardika, pelaku akan diproses dan diberikan sanksi sesuai aturan yang berlaku. Muslim mengaku, kasus kekerasan fisik tidak hanya sekali terjadi di pondok tersebut. Bahkan sudah ada beberapa siswa yang dikeluarkan, karena terbukti memukul atau melakukan kekerasan dalam bentuk lain. "Itu bukan sistem kami. Yang melakukannya oknum. Tapi sejak saya masuk ke sini tahun 2001, ada satu siswa dikeluarkan karena melakukan kekerasan fisik. Itu sekitar tahun 2005," katanya. Dia juga mengatakan, kekerasan yang terjadi kemungkinan karena adanya latar belakang kultur. Sebab siswa Assalaam berasal dari berbagai suku di Indonesia. "Kasus pemukulan ini kan dilakukan santri pembimbing. Kami sudah tegaskan, apapun pelanggaran yang dilakukan adik kelas, jangan sampai menghukum, apalagi menangani. Laporkan saja ke ustad pengawas. Mereka tetap tidak berhak memberi hukuman tangan," tandasnya. Dia menambahkan, aturan di asrama, santri harus istirahat tepat pukul 22.00. Jika di atas jam tersebut masih ada yang melek, itu melanggar," katanya. Akan Menuntut Heriyani, istri Supriyatin ditemui saat menunggui anaknya dan Dika di Bangsal Bougenville No 5 RS Panti Waluyo mengatakan, pihaknya akan menuntut secara hukum terhadap pelaku dan pihak sekolah. "Saya tahu kejadian ini setelah budhenya Deri menghubungi kami. Pihak pondok sendiri tidak menghubungi," kata dia yang tiba di Solo bersama suaminya pada Minggu (20/8). Sampai kemarin, Deri dan Dika masih terrgolek di tempat tidur. Di lengan tangan kanannya menancap jarum infus. Keduanya bercerita soal pemukulan yang dilakukan sembilan seniornya. Namun dari 9 orang itu, hanya dua orang yang namanya mereka ketahui, yaitu Adib Bayu dan Dody. "Saat itu, saya, Dika, Fikri dari ruang 32 dan Faizal dari ruang 34 dimasukkan ke dalam kamar, sekitar pukul 23.00. Saya dan Dika satu kamar di ruang 33," kata Deri. Pemukulan itu dilakukan usai santri-santri Takhassus belajar malam. Meurut Dika, kegiatan belajar biasa dilakukan sampai pukul 21.30. Usai belajar, sembilan orang senior mendatangi ruang 33 yang digunakan tidur 18 santri. Santri lain lalu disuruh keluar, sementara Deri dan Dika disuruh tinggal di dalam ruangan. Fikri dan Faizal dari ruang lain kemudian disuruh masuk. Lampu kamar kemudian dimatikan dan peristiwa pemukulan yang dilakukan siswa dari kelas 1 SMK Assalaam itu pun terjadi. "Kami disuruh posisi kuda-kuda, lalu dipukul di ulu hati. Paha saya juga dipukul pakai rotan," tutur Wayan sembari menunjukkan luka memar di paha kirinya yang menghitam. Empat santri itu juga dikata-katai kasar. Sebelum dipukuli, para senior itu mengatakan kalau mereka dulu juga pernah dipukuli kakak kelas. "Kejadian seperti ini sering, Mas. Hampir semua siswa pernah dipukuli," kata Deri. Tak kuat menahan sakit, Deri dan Dika roboh. Beberapa seniornya lalu memijit bagian yang sakit sambil memberi minum. Usai peristiwa itu, mereka disuruh tidur. Karena trauma dengan perlakuan kasar itu, Sabtu (18/8) pukul 16.30, Deri, Dika dan satu kawannya lagi, Arnold Widi, kabur dari asrama. Ketiganya berjalan kaki sampai depan Solo Grand Mall (SGM), kemudian naik taksi menuju ke rumah Siti Susilowati, budhe Deri yang ada di kawasan Colomadu, Karanganyar. Di rumah itu, Deri muntah darah. Tak berselang lama, Wayan juga mengalami hal serupa. Kejadian itu membuat Siti panik dan langsung menghubungi orang tua Deri di Baturaja. Deri dan Dika lalu dibawa ke RS Islam Surakarta, sementara Arnold dijemput orang tuanya dan dibawa pulang ke Yogyakarta. Kasusnya juga dilaporkan ke Polsek Kartasura. Senin (21/8), Dika dan Deri dipindah ke RS Panti Waluyo. "Dari pemeriksaan dokter, mereka mengalami pendarahan di perut. Yang lain tidak masalah," kata Heriyani. (H44-46)
<<sm1kul2slo23.jpg>>
