GALAMEDIA
14 Agustus 2007

      Perjalanan Pahit Anak-anak Korban G-30-S/PKI (2)  
      Mereka Hancurkan Rumah
      Kami dengan Beringas  
     
      PADA kisah yang lalu diceritakan, Elvi yang saat itu masih berusia 5 
tahun dan kakaknya (8 tahun), sempat merasakan kebahagiaan bersama ayah ibunya. 
Namun satu hari setelah peristiwa 30 September, ia mulai mengalami masa pahit. 
Ayahnya dibawa oleh aparat, ibunya yang tengah mengandung 9 bulan ditahan 
sampai melahirkan dalam tahanan. Elvi dan kakaknya kehilangan kedua 
orangtuanya, kehilangan segalanya. Bagaimana nasib Elvi selanjutnya? Ikuti 
penuturannya yang ditulis oleh M. Irfan Ar.  
     
DUNIA seakan-akan mau kiamat. Orangtuaku yang terpandang dan dikagumi setiap 
orang --aku juga sangat mengagumi mereka--  jatuh terpuruh pada tingkat yang 
paling hina. Ia ditangkap petugas karena dianggap telah berbuat di luar 
perikemanusiaan. 

Padahal setahuku, ayahku sangat ramah, bijak, dan tak pernah menyombongkan 
diri. Ia tidak pernah bersikap kasar pada kami, anak-anaknya, demikian pula 
pada ibu. Tutur katanya halus dan selalu sopan. Pendek kata, ia termasuk 
orangtua yang patut diteladani. Mengapa dia mesti diborgol dan dimasukkan ke 
dalam penjara? Begitu aku membatin pada waktu itu. Pertanyaan polos dari 
seorang bocah yang masih berusia lima tahun.

Aku masih ingat, bagaimana ayahku digerebek secara beramai-ramai oleh tetangga 
kami yang semula sangat menghormati dan selalu berbuat baik pada kami. 
Kemudian, ia dibawa oleh polisi. Rumah satu-satunya, tempat kami bernaung dari 
panasnya mentari dan dinginnya udara malam, dihancurkan. Seluruh isinya 
diporak-porandakan. Perabotan rumah, lemari, kursi, meja, piring, dan semua 
perkakas rumah tangga tak ada yang bersisa, termasuk pakaian. Saat itu, aku dan 
kakakku hanya membawa pakaian yang melekat di badan karena semuanya tak bersisa.

Aku menangis, aku berteriak ketika ayahku naik ke atas mobil polisi dengan 
kepala tertunduk dan wajah pucat pasi. Ia tidak melawan dan tidak mengeluarkan 
sepatah kata pun. Waktu itu aku ingin sekali merangkulnya untuk terakhir 
kalinya, tetapi langkah petugas yang membawanya begitu cepat. Petugas itu 
seolah tak mendengar raungan dan ratapanku. Demikian pula ayahku, ia tidak 
menoleh ke arahku sesudut mata pun. Aku kecewa. Aku sedih.

"Apaaaa! Jangan pergi! Jangan pergi! Jangan tinggalkan Elvi, Paaa!" teriakku.

Aku berlari ke sana kemari. Tak ada seorang pun yang peduli padaku. Semua orang 
yang melihatku hanya berdiri bagai patung. Tak bergeming, tak ada yang mau 
mendekatiku. Mereka bengong dan membisu. Padahal sehari-harinya mereka sangat 
perhatian padaku, mereka menyayangiku, tetapi kenapa di saat aku membutuhkan 
perhatian dan dorongan jiwa, mereka membiarkanku.

Aku berguling-guling di tanah. Aku tidak ingin kehilangan ayahku. Aku berharap 
ada uluran tangan penuh ketulusan. Sayangnya, semua tak pernah ada. Aku 
bagaikan seorang gelandangan yang tak berharga di hadapan mereka. Aku menangis 
sejadi-jadinya.

"Sudah, jangan menangis. Malu sama orang lain," kata kakakku sambil mengusap 
air matanya sendiri. Aku tahu, ia pun merasakan hal yang sama denganku. Usia 
kami hanya terpaut tiga tahun saja.

Ketika kakakku memeluk erat tubuhku, aku balik merangkulnya dengan erat. 
Tangisanku meledak-ledak lagi. Terbayang dalam benakku, sejak saat itu, aku 
akan kehilangan ayah dan ibu entah untuk berapa lama. Kami akan menjadi "yatim 
piatu".

Hatiku semakin sakit ketika saudara-saudara dari ibu --paman, bibi, dan uak-- 
tidak ada yang mau peduli padaku dan kakakku. Aku bertanya pada diri sendiri, 
apa salah kami sehingga mereka tak mau menolong kami? Mereka 'kan orangtua kami 
juga, pengganti ayah dan ibu, tetapi mengapa mereka bersikap tak acuh 
seakan-akan tak mengenal kami? Apakah mereka merasa jijik?

Aku juga tak mengerti, mengapa ayah dan ibuku dibawa polisi. Lalu mengapa 
orang-orang meruntuhkan rumahku dan merusak semua isinya dengan wajah beringas 
dan tanpa rasa iba sedikit pun? Aku melihat mereka begitu buas. Sambil 
berteriak-teriak seperti orang kemasukan setan sambil memecahkan kaca rumahku, 
melemparinya dengan batu, dan menghancurkannya. Benda mati yang tak berdosa itu 
dalam sekejap berubah menjadi puing-puing yang tak berarti.

"A, rumah kita hancur. Mengapa rumah kita dirusak orang? Nanti kita tidur di 
mana?" tanyaku pada kakakku. Kulihat air matanya berlinang.

Ia menggigit bibirnya, menahan tangis. Tangannya merangkul erat tubuhku. Kami 
saling rangkul sambil menangis.

"Mereka jahat, ya?" kakakku malah balik bertanya.

"Iya," jawabku sambil tersedu. Tenggorokan rasanya sakit sekali. Aku haus. Aku 
ingin minum, tetapi tidak ada air dan tidak ada yang mau memberi air. 
Seandainya ibu tidak dibawa orang, kami pasti akan segera dirangkulnya, 
digendongnya, lalu diberinya segelas susu untuk menenangkan kami. Ah, sayang, 
ibu tidak ada di sisi kami. Mengapa ibu pergi begitu saja meninggalkanku dan 
kakakku? Lalu aku harus tinggal di mana dan bersama siapa? (bersambung)**

Kirim email ke