Salam, Innalillahi wa innailaihi raajiun. Semoga "AR Moese AR Moese" yang baru akan lahir kembali untuk Aceh, dan dunia. Dan moga almarhum mendapat tempat yang layak di sisiNYA. Amin
Tabik, Muhammad Subhan --------------------------- Dari HU Serambi Indonesia, 28/8/2007 In Memoriam AR Moese Komponis Gayo yang Tinggalkan "Kalung Kerbau" [ rubrik: Serambi | topik: Budaya ] Innalillahi wainnailaihi raji`un. Komponis Gayo itu pun berpulang pada pukul 02.02 WIB Sabtu (25/8) dini hari di tanah kelahirannya, Takengon, Aceh Tengah. Dikebumikan Minggu di pemakaman umum Dedalu, Desa Hakim Bale Bujang, di sisi "telaga inspirasi", Danau Laut Tawar. Abu Moese Azhari atau lebih dikenal sebagai AR Moese pergi tanpa sempat lagi menyempurnakan "musik perau" dan "musik jangka", dua instrumen musik yang terbuat dari perahu nelayan dan alat pengiris tembakau yang diciptakannya di paruh 1993. Perangkat "musik perau" dan "jangka" pernah dipentaskan dalam suatu konser musik Gayo di Banda Aceh pada 1993 dan dilanjutkan di Taman Ismail Marzuki serta Taman Impian Jaya Ancol Jakarta. "Musik perau" meraih penghargaan juara II Gatra Kencana TVRI pada 1995. Sesuai namanya, instrumen tersebut diolah dari perahu yang biasa digunakan nelayan Danau Laut Tawar. Oleh Moese, antara kedua sisinya diberi senar yang kemudian melahirkan bunyi yang unik. Tubuh perahu dijadikan perkusi. Moese menyebut temuannya itu belum sempurna. Masih banyak yang harus dibenahi, sehingga benar-benar mengeluarkan bunyi yang sempurna. Begitu juga dengan "musik jangka" sama sekali masih mentah. Bunyi yang lahir dari senar-senar jangka sama sekali belum memuaskan dirinya. Namun, sampai ajal menjemputnya, usaha penyempurnaan tidak pernah dilakukan lagi. Moese sejak dua bulan terakhir terbaring sakit di RSU Datu Beru Takengon sebelum kemudian dipulangkan ke rumahnya yang luas di Tetunyung, Takengon. Jauh sebelum musik perahu ditemukan, Moese bersama seniman Gayo lainnya, Syeh Kilang menciptakan "musik gerantung" yang dibuat dari kalung kerbau gembalaan. Instrumen ini dimainkan dalam pentas Pekan Kebudayaan Aceh (PKA III) pada 1992 dan berbagai pentas musik lainnya. AR Moese juga orang yang berada di balik pencapaian kemajauan seni musik di Gayo, Aceh Tengah. Melalui kemampuannya yang luar biasa, Moese menggubah sastra didong menjadi musik modern dengan tetap mempertahankan kekayaan melodi Gayo. Berkat sentuhan tangan Moese- lah, hingga karya seni didong jenis kesenian tradisional yang menyampaikan puisi-puisi Gayo dengan cara mendendangkannya dalam iringan tepukan tangan dan kanvas ukuran kecil sebagai rythem bisa dimainkan dalam format musik modern. Kemampuan Moese tersebut dimungkinkan karena selain menguasai benar melodi Gayo, ia juga menguasai musik klasik. Pendidikan musik modern ini diperolehnya dari Sekolah Musik di Yogyakarta (1958-1961) dan dari jurusan Seni Musik IKIP Rawamangun Jakarta (1982-1986) serta ditunjang pula pengalaman Moese saat bergabung dengan kelompok orkestra pimpinan Idris Sardi di awal tahun 70-an yang pada zaman itu acap tampil di TVRI mengiringi penyanyi-penyanyi Indonesia. Karya-karya gubahan tersebut, antara lain, Perueren, Jempung (ciptan Ceh Daman), Tampok Pinang (Ceh Sali Gobal), Pegasing (Ceh Lakiki), Takengen (Arika), Jejari (Ceh Sali Gobal), Payung Kertas (Mahlil), Batil, Tingkis, Geremukunah (Ibrahim Kadir) dan lain-lain. Selain melahirkan karya gubahan, Moese juga melahirkan serangkaian karya orisinal yang sampai sekarang masih tetap dihapal dengan baik oleh generasi penerus musik di Gayo, seperti: Tangke Nate, Garipo, Lane, Merbuk (bersama Sebi), Macik, Renem Jejem (khusus lagu ini pernah menjadi lima besar dalam Lomba Paduan Suara Tingkat Nasional, di Jakarta 1995), Kesume Gayo, Semah Sujud, Macik, Reriyep, Tawar Sedenge, dan lain-lain. Karyanya yang lain adalah menciptakan Mars dan Hymne Universitas Gajah Putih (UGP) Takengon dan lagu/mars untuk seluruh fakultas di UGP. Lagu kebangsaan Di Aceh Tengah ada dua lagu wajib yang dinyanyikan dalam peristiwa- peristiwa resmi kenegaraan. Pertama "Indonesia Raya" ciptaan WR Soepratman. Kedua lagu "Tawar Sedenge" ciptaan AR Moese. Boleh jadi, hanya Aceh Tengah-lah yang mempraktikkan kebiasaan menyanyikan dua lagu wajib tersebut. "Tawar Sedenge" (Penawar Dunia) dikukuhkan sebagai lagu wajib daerah berdasarkan Qanun Nomor 09/XI/28/2002. Secara berkelakar, masyarakat menyebutnya sebagai "lagu kebangsaan Gayo." Lagu ini diciptakan tahun 1957, berisi tentang seruan kepada masyarakat Gayo untuk bangkit mengelola kekayaan alam dan potensi intelektualitas daerah itu. Lagu itu diciptakan ketika Moese masih cukup muda, berusia 22 tahun. Ini merupakan karya monumental yang berhasil menggugah kesadaran masyarakat dataran tinggi tersebut. AR Moese lahir di Takengon 1935. Pesiunan pegawai negeri sipil (PNS) dengan jabatan terakhir Kasi Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tengah. Ia sempat mendirikan kursus musik di Aceh Tengah. Aktivitas kursus sempat vakum belasan tahun, namun belakangan dibuka kembali dengan murid yang terbatas. Dedikasi Moese terhadap dunia pendidikan musik tidak pernah diragukan. Hingga ia jatuh sakit, Moese masih menyempatkan diri membimbing siswa-siswa SD di rumahnya. Tiga murid sebuah SD pernah datang ke rumah sakit menjenguk Moese sambil membawa piala hasil kemenangan mereka dalam lomba di Banda Aceh. Moese memang memiliki banyak murid dari generasi ke generasi. Tiga murid SD pembawa piala tadi memanggil Moese dengan sebutan kakek. Sementara generasi di atasnya memanggil sang komponis sebagai "Pakcik".(fikar w.eda)
