Quote:
"..

Yang lebih memusingkan, ternyata protes yang diusung serikat pekerja itu
melenceng dari
tuntutan semula: soal kesejahteraan. Mereka malah mendesak pergantian
manajemen.
Melihat preseden buruk kasus PT Telkom dan PT Jamsostek, direksi Mandiri tak
mau
kecolongan. Di kedua BUMN itu, semula juga dilakukan aksi demo, tapi
kemudian tuntutan
agar direktur utama mundur kian kuat. "Ini jelas masalah serius," kata
Mansyur.
..

Persoalannya, gerakan bersih-bersih mengusik mereka yang selama ini duduk
tenang atau "tidur nyenyak". Menurut sumber Tempo di Bank Mandiri, perubahan
budaya kerja ke berbasis kinerja dinilai merugikan karyawan senior yang
terbiasa leha-leha dengan budaya lama. Apalagi kini mereka tiba-tiba harus
dikenai dua pilihan: kerja keras atau turun pangkat. "Terlebih lagi, Agus
juga menindak keras karyawan yang hanky-panky," kata sumber itu.

Dari luar kantor, gebrakan dan sikap keras direksi Mandiri terhadap debitor
kakap juga dinilai membuat banyak pihak gerah. Mereka adalah debitor bandel,
politikus, hingga pejabat. "Mereka ingin Mandiri seperti dulu, lembek dan
mudah disetir," kata Pradjoto, Komisaris Bank Mandiri.
.."
Kalau 'alasan' demo meminta pergantian management Bank Mandiri adalah karena
'mengganggu'
kenyamanan pihak" tertentu, maka demo dan tuntutan tersebut harus
ditentang.. :-(
Apalagi kalau benar Bank Mandiri sekarang sudah membaik dari 'sakit' dan
'disetrap' tempo hari..

CMIIW..

Wassalam,

Irwan.K

=============

TEMPO,
Edisi. 27/XXXIIIIII/27 Agustus - 02 September 2007
        *Ekonomi dan Bisnis*
Bank Mandiri DigoyangSikap keras direksi Bank Mandiri terhadap debitor kakap
berbuntut panjang. Duet Agus Martowardojo-Edwin Gerungan terancam diganti.
Aulia Pohan, besan presiden, bakal masuk?

 AKSI demonstrasi Serikat Pekerja Bank Mandiri tiga pekan lalu sesungguhnya
tidak terlalu mencolok. Selain dilakukan pada hari libur, Sabtu, aksi di
Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, itu cuma diikuti segelintir orang. Dari
total 21 ribu karyawan Bank Mandiri, peserta unjuk rasa hanya sekitar 200
orang.

Namun aksi itu berhasil membetot perhatian manajemen. Sehari sebelum unjuk
rasa, direksi melakukan rapat maraton membahas rencana sebagian karyawan
itu. Bahkan semua anggota direksi terpaksa menginap di kantor pusat Mandiri
di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, guna meredam niat tersebut. Tapi upaya
membujuk gagal dan serikat pekerja tetap berunjuk rasa.

Bagi bank publik tersebut, aksi semacam ini jelas tak bisa dianggap enteng.
Sebab, itu tidak hanya akan mempengaruhi kinerjanya di bursa saham, tapi
juga mengusik para nasabah serta mengganggu suasana kerja bagi ribuan
pekerja lainnya. "Itulah yang kami sesalkan," kata juru bicara Bank Mandiri,
Mansyur Nasution, pekan lalu.

Yang lebih memusingkan, ternyata protes yang diusung serikat pekerja itu
melenceng dari tuntutan semula: soal kesejahteraan. Mereka malah mendesak
pergantian manajemen. Melihat preseden buruk kasus PT Telkom dan PT
Jamsostek, direksi Mandiri tak mau kecolongan. Di kedua BUMN itu, semula
juga dilakukan aksi demo, tapi kemudian tuntutan agar direktur utama mundur
kian kuat. "Ini jelas masalah serius," kata Mansyur.

Terlebih lagi, gerakan unjuk rasa muncul di tengah santernya info
pendongkelan direktur utama dan komisaris utama Bank Mandiri. Dalam dua
bulan terakhir, tersiar kabar duet Agus Martowardojo-Edwin Gerungan akan
digantikan oleh wajah baru. Dari nama yang muncul, Agus akan digeser oleh
Gita Wiryawan, Presiden Direktur JP Morgan Indonesia, atau I Wayan Agus
Martayasa, Wakil Direktur Utama Bank Mandiri. Sedangkan Edwin, sang
komisaris utama, akan digusur oleh Aulia Pohan, mantan deputi gubernur bank
sentral.

Aulia Pohan saat dimintai konfirmasi Tempo tidak membantah kabar itu. Ia
mengaku dua-tiga bulan lalu diajak makan oleh seorang deputi Menteri Negara
BUMN. Dalam pertemuan itu, sang deputi meminta dia "membantu" Bank Mandiri.
"Ya, agar bisa lebih cantik," ujar Aulia menirukan ucapan deputi tersebut.
Ia menyebutkan kinerja Mandiri saat ini memang biasa-biasa saja sehingga
perlu perbaikan.

Menurut besan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini, permintaan seperti itu
sesungguhnya bukan kali ini saja terjadi. Ketika duet Neloe-Binhadi akan
diganti dua tahun lalu, ia juga pernah diminta menjadi komisaris. Tapi saat
itu Aulia menolaknya. "Kalau sekarang diminta lagi, ya, alhamdulillah,"
katanya.

Tapi Gita mengaku tak tahu kabar tersebut. "Itu cuma rumor," katanya. Adapun
Wayan Martayasa tak bersedia mengangkat telepon dan tak menjawab pesan
pendek. Namun Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil saat dimintai konfirmasi
soal penggantian itu, pekan lalu, hanya menjawab singkat, "Tidak ada tuh.
Ada-ada saja." Menurut seorang pejabat di Kementerian BUMN, Sofyan tidak mau
gegabah mengganti manajemen Mandiri karena bank ini menjadi acuan investor
asing.

Mandiri memang bukan bank kelas teri. Mandiri adalah bank terbesar yang
menguasai Rp 265 triliun atau hampir 20 persen dari total aset perbankan.
Mandiri juga menjadi sumber dana para pengutang kakap dan proyek-proyek
raksasa, seperti infrastruktur jalan tol dan pembangkit listrik. Beberapa
tahun belakangan ini, bank itu juga pontang-panting berurusan dengan 30
pengutang besar yang bermasalah.

Melihat peran yang sangat strategis, analis perbankan Mirza Adityaswara
tidak heran jika banyak kalangan berebut menggoyang posisi direktur utama
bank raksasa itu. Persoalannya: apakah mereka siap menanggung risikonya?
"Misalnya risiko lonjakan kredit bermasalah dan anjloknya harga saham akibat
pengganti yang tidak kompeten," kata Mirza.

Kinerja Mandiri saat dipimpin E.C.W. Neloe sesungguhnya bisa menjadi contoh.
Setelah disuntik dana publik Rp 178 triliun akibat krisis ekonomi 1997,
Mandiri lagi-lagi terpuruk karena non-performing loan kotor melonjak jadi Rp
27 triliun atau 26,6 persen pada Desember 2005. Bila memperhitungkan
pencadangan NPL bersihnya juga kelewat tinggi, 16,1 persen.

Akibat dibebani kredit seret raksasa milik debitor kakap, Mandiri tak
berkutik. Bank ini dikategorikan tak sehat oleh Bank Indonesia sehingga
harus dirawat secara intensif. Niat ekspansi kredit dan akuisisi ditunda.
Mimpi menjadi bank terpandang di kawasan regional juga disimpan dulu.
Pokoknya, Mandiri "disetrap", diminta fokus bersih-bersih internal dulu.

Persoalannya, gerakan bersih-bersih mengusik mereka yang selama ini duduk
tenang atau "tidur nyenyak". Menurut sumber Tempo di Bank Mandiri, perubahan
budaya kerja ke berbasis kinerja dinilai merugikan karyawan senior yang
terbiasa leha-leha dengan budaya lama. Apalagi kini mereka tiba-tiba harus
dikenai dua pilihan: kerja keras atau turun pangkat. "Terlebih lagi, Agus
juga menindak keras karyawan yang hanky-panky," kata sumber itu.

Dari luar kantor, gebrakan dan sikap keras direksi Mandiri terhadap debitor
kakap juga dinilai membuat banyak pihak gerah. Mereka adalah debitor bandel,
politikus, hingga pejabat. "Mereka ingin Mandiri seperti dulu, lembek dan
mudah disetir," kata Pradjoto, Komisaris Bank Mandiri.

Pakar hukum perbankan itu bercerita betapa sulitnya perjuangan melawan para
debitor bertabur fulus tersebut. Pada tahun pertama ia menjabat, setiap
minggu selalu membahas perkembangan penanganan debitor kakap, sampai bosan.
Mereka ditelepon dan dipanggil satu per satu. Direksi juga mengumumkan 30
debitor setiap tiga bulan sekali di media massa.

Kredit bermasalah Mandiri yang mencapai 27 persen—saat ditinggalkan Neloe
pada 2005—sebagian besar atau 70 persen disumbangkan oleh 30 debitor kakap.
Nama besar itu antara lain Grup Raja Garuda Mas (Sukanto Tanoto), Kiani
Kertas (Prabowo Subianto), Djajanti (Burhan Uray), Domba Mas (Susanto Liem),
Argo Pantes (The Nin King), Suba Indah (Benny Tjokroseputro), Great River
(Sunjoto Tanudjaja), Bosowa (Aksa Mahmud), dan A Latief Corp. (Abdul
Latief).

Terhadap mereka yang tidak kooperatif, Mandiri tak segan-segan menjual aset
para debitor atau menempuh jalur hukum. Dalam pandangan Agus, kondisi
sekarang sudah berubah, bukan zamannya lagi beking-bekingan. "Tekanan publik
akan sangat tinggi terhadap mereka yang tidak kooperatif," ujar Agus ketika
mengumumkan daftar 30 debitor bandel. "Pemerintah sebagai pemegang saham
Mandiri juga marah sekali."

Ketegasan itu menuai hasil. Para pengusaha besar malu dipublikasikan sebagai
debitor tak kooperatif. Saking malunya, kabarnya bos Grup Bosowa sempat
berseteru dengan Agus di Istana Merdeka gara-gara pengenaan status tak
kooperatif itu. Namun, saat dimintai konfirmasi soal ini, Agus tak banyak
komentar. "Hubungan kami baik-baik saja," katanya.

Setelah dua tahun berkutat dengan urusan debitor kakap ini, hasilnya ampuh
juga. Mereka akhirnya kooperatif. Raja Garuda Mas bersedia menaikkan cicilan
utang dari US$ 61,2 juta menjadi US$ 120 juta per tahun. Kiani Kertas
membayar utang pokok dan bunga tertunggak US$ 37 juta. Argo Pantes dan Domba
Mas menjual aset-asetnya. "Kami kapok berurusan dengan kejaksaan," kata
seorang debitor bandel Mandiri.

Gara-gara itu, laporan kinerja Bank Mandiri bulan lalu lumayan kinclong.
Rasio NPL neto menurun dari 16,1 persen pada Desember 2005 menjadi 3,9
persen pada Juni lalu. Provisi yang dicadangkan untuk meng-cover NPL
melonjak menjadi 87 persen. Meski tersedot untuk menambah provisi, laba
semester pertama tetap mengalami kenaikan cukup tajam, yakni 123 persen,
menjadi Rp 2,1 triliun, yang sebagian besar disumbangkan oleh pendapatan
dari kredit. Harga saham naik lebih dari dua kali lipat menjadi Rp
3.100-anper saham.

Dengan NPL di bawah aturan BI sebesar 5 persen, Mandiri semakin siap
berekspansi dan mengakuisisi perusahaan jasa keuangan lainnya. Pada akhir
tahun ini, bank ini akan mengambil alih perusahaan multi-finance untuk
memperkuat segmen pasar kredit kendaraan bermotor. Bank ini bertekad menjadi
bank yang dominan di setiap segmen pasar. "Ini langkah awal menjadi bank
terkemuka secara regional," kata Agus.

Kondisi ini jelas berbeda dengan Bank Negara Indonesia. Bank yang juga
menderita beban NPL tinggi itu tidak mau mempublikasikan debitor bandel
seperti yang ditempuh Mandiri. "Setiap bank punya cara berbeda dalam
menangani pengutang tak kooperatif," kata Direktur Utama BNI Sigit Pramono.
Namun cara berbeda juga memberikan hasil tak sama. Buktinya, NPL bank itu
masih di atas 5 persen.

Kini Mandiri terus berbenah. Karyawan tak bisa lagi santai dan orang kuat
tak bisa semaunya memakai brankas Mandiri. Seorang pegawai bank ini
bercerita bahwa sekarang ia tidak bisa lagi memergoki anggota DPR yang
seenaknya meminta kredit ke Mandiri. Dulu dia sering melihat anggota Dewan
datang dengan mobil Jaguar, turun dengan gaya jumawa, kemudian
ongkang-ongkang kaki di ruangan direksi. "Ya, pokoknya dulu bank ini seperti
milik dia, deh."

Meski Mandiri sudah berubah, bukan tidak mungkin upaya mengobok-obok akan
berlanjut. "Sebab, sebagai bank terbesar, Mandiri memang menarik untuk terus
digoyang," kata Mirza Adi tyaswara. Adapun Agus tetap bertekad untuk
bersikap profesional. Tapi, kalaupun langkahnya ini dinilai salah, ia siap
dengan segala risikonya. "Kalau mau diganti, silakan saja. Itu hak pemegang
saham," katanya.

*Heri Susanto, Muchamad Nafi*

Kirim email ke