nano biak_papua imel: [EMAIL PROTECTED]

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0708/28/utama/3795344.htm

TRANSFORMASI EKONOMI
Semangat "Makkareso" Saudagar Bugis 

NASRULLAH NARA

Terbakarnya Pasar Sentral Hamadi di Kota Jayapura, Papua, pada tahun 2006, tak 
bisa hilang begitu saja dalam ingatan Daeng Said (51). Peristiwa itu meludeskan 
aset senilai Rp 1 miliar, hasil perjuangan 20 tahun di tanah Papua. 

"Kalau bukan karena kesadaran bahwa nasib yang kita lakoni ini ada yang Maha 
Mengatur segalanya, mungkin saya jadi stres dan gila," ungkap pria asal 
Pangkep, Sulawesi Selatan, itu. 

Lahir dan besar di lingkungan suku Bugis, Said memegang teguh prinsip reso-pa 
temmangingi naletei pamamase dewata sewa-E. Artinya, kesuksesan yang diridai 
Tuhan Yang Maha Esa hanya bisa diraih melalui reso (ikhtiar), usaha gigih, dan 
kerja keras. 

Berkat makkareso alias semangat kerja, Said bangkit kembali. Bayangan 
menguapnya aset di empat los yang rata-rata nilainya Rp 250 juta, pelan-pelan 
ia tepis. Dihimpunnya rupiah demi rupiah sehingga los-los penampungan yang 
dipinjamkan Pemerintah Kota Jayapura di kawasan Entrop mulai terisi. Sambil 
menunggu rampungnya pembangunan pasar yang terbakar, ia mengajak Aco (19), 
keponakannya di daerah asal membantu usahanya. 

"Keponakan yang menganggur saya ajak ikut merantau," ujar Said, seraya menunjuk 
seorang remaja yang mulai cekatan melayani pembeli bahan pokok di los miliknya. 

Said adalah satu dari sekitar 200 pedagang Pasar Sentral Hamadi di los 
penampungan sementara di sisi kiri Papua Trade Center (PTC) Entrop. Mayoritas 
pendatang dari Sulsel itu dikenal sebagai pedagang suku Bugis-Makassar dan 
Buton. 

Di Kota Jayapura, terutama di Pasar Entrop, Pasar Abepura, Pasar Sentani, dan 
Pasar Ampera, tiga suku bangsa yang dikenal dengan sebutan BBM 
(Bugis-Buton-Makassar) ini pelaku utama kegiatan perekonomian. Belakangan ini, 
kiprah BBM menonjol di semua kabupaten dan kota lainnya di tanah Papua. Di 
wilayah pedalaman Papua yang sulit dijangkau transportasi darat mudah ditemui 
pedagang Bugis penjual sandang pangan. 

Pendatang lain juga ikut main, semisal dari Jawa, Madura, dan Minangkabau. 

Ketua Kerukunan Sulawesi Selatan wilayah tanah Papua Haji Syamsuddin Tumpa 
menyebut, jumlah warga asal Sulsel di Papua 70.000 orang. Mereka umumnya 
berkiprah di perdagangan barang dan jasa. Ada pula yang bekerja sebagai nelayan 
dan petani. 

"Seiring dengan makin cerahnya sektor perdagangan barang dan jasa, akhirnya 
yang bekerja sebagai nelayan dan petani mulai berusaha sambilan dengan 
berdagang," kata Syamsuddin. Ia merantau ke Jayapura pada tahun 1969. Awalnya 
ia hidup sebagai buruh pelabuhan. Kemudian ia mendirikan ekspedisi muatan kapal 
laut yang mempekerjakan 200 warga Papua. 

Sejarah berdatangannya orang Bugis-Makassar ke tanah Papua diduga sudah 
berlangsung sejak tahun 1700-an, ketika dua kelompok etnis terbesar dari Sulsel 
tersebut melakukan pelayaran Marege, mencari teripang ke Australia Utara. Dalam 
pelayaran itulah mereka mampir dan sebagian terdampar di wilayah Papua. 

Dosen Antropologi Universitas Cenderawasih, Akhmad Kadir, dalam bukunya 
berjudul Amber dan Komin, Studi Perubahan Ekonomi di Papua (2005) menulis 
kiprah pedagang Bugis mulai menonjol pada tahun 1963. Kedatangan orang-orang 
Bugis itu membawa perubahan dalam tatanan perekonomian di Papua. 

"Interaksi sosial antara orang Bugis dan orang Papua mengubah gaya hidup dan 
pola konsumsi masyarakat Papua, dari berburu dan meramu menjadi manusia urban 
yang bergantung pada komoditas pasar," katanya. 

Orang-orang pegunungan berjalan ke arah pantai mengikuti aliran sungai untuk 
mendapatkan komoditas pasar, seperti beras, tembakau, garam, gula, dan pakaian. 
Selain itu, kepada orang Tionghoa dan Bugis, orang Papua juga menukar barang 
yang dijual pendatang dengan sagu yang mereka hasilkan. Mereka akhirnya 
menggunakan uang sebagai alat tukar jual beli. 

Lamban 

Jika benar bahwa interaksi sosial-ekonomi antara Bugis-Makassar dan warga asli 
Papua mulai ada pada tahun 1967, berarti hingga saat ini transformasi ekonomi 
sudah berjalan 40 tahun. Meski fakta menunjukkan bahwa warga Papua sekarang 
masih berkutat dengan pola perdagangan tradisional, transformasi itu 
sesungguhnya tetap terjadi, meski lamban. 

Menurut pemantauan, masih sedikit orang asli Papua yang memiliki dan mengelola 
los, kios, toko, apalagi usaha jasa. Perempuan pedagang orang asli Papua, yang 
disebut "mama-mama", pada umumnya duduk lesehan menjual hasil bumi secara 
"tradisional" di trotoar atau di emperan toko di Jayapura. 

Sebetulnya, kesempatan berdagang dalam los atau kios di pasar pernah diberikan 
kepada warga Papua asli. Di Pasar Abepura, Ampera, dan Entrop, misalnya, Pemkot 
Jayapura beberapa tahun lalu—menyusul menguatnya kecemburuan sosial terhadap 
warga pendatang—pernah menyediakan los dan kios bagi warga asli Papua. Namun, 
mereka tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk mengembangkan usaha. Mereka 
lebih memilih jalan pintas cari duit secara cepat dengan menjual los 2 meter x 
2 meter, yang harga normalnya Rp 400.000-Rp 500.000, hanya Rp 300.000. 

"Ah, daripada kitong susah-susah tunggu pembeli di los sepanjang hari, lebih 
baik dijual saja," tutur Natalia Womsiwor (37), yang menjual pinang di emperan 
kios Pasar Entrop. 

Sebagai perantau yang agresif, orang Bugis melihat hal itu sebagai peluang 
emas. Tak heran jika rata-rata pedagang Bugis memiliki 2-4 kios. 

Akar budaya 

Johsz Mansoben, dosen Universitas Cenderawasih yang putra Papua pertama 
bergelar doktor antropologi, mengakui lambannya transformasi ekonomi bagi warga 
asli Papua. "Kentalnya akar budaya subsistem membuat masyarakat Papua sulit 
mengadopsi model ekonomi pasar dengan pembagian kerja sangat jelas dan ketat," 
katanya. 

Ia menguraikan, warga Papua terpengaruh pola hidup berburu, meramu, dan 
berladang pindah. Ini berbeda dengan pola perdagangan ekonomi pasar, dengan 
distribusi kerja dan pembagian peranan yang jelas. Ada yang membuka kebun, 
menanam, merawat tanaman, memanen, dan memasok ke pasar. 

Kirim email ke