Benar, banyak nama-nama pahlawan kemerdekaan yang selama ORBA berkuasa 
menghilang atau sengaja digelapkan, banyak orang juga sudah melupakan, dan 
khususnya yang muda tidak pernah mengetahui adanya kenyataan sejarah yang 
terjadi ketika itu, ... jadi bagi yang mengetahui dan pekerja sejarah perlu 
mengungkap kembali untuk diketahui dan tidak dilupakan begitu saja.

Salam,
ChanCT


----- Original Message ----- 
From: timur7
To: HKSIS
Sent: Wednesday, 29 August, 2007 16:02
Subject: [HKSIS] pahlawan yang terlupakan


  Mungkin di sini tidak ada yang baru, tetapi tetap penting terus mengingat 
pahlawan-pahlawan kemerdekaan/nasional yang ter/dilupakan.

      Rabu, 29 Agustus 2007 SEMARANG

      Patriot-patriot Tionghoa yang Terlupakan
        a.. Oleh Rukardi
      PERAN etnis Tionghoa dalam revolusi Indonesia tak banyak mengemuka. 
Hal itu mencuatkan kesan, warga keturunan itu tak punya keterlibatan apa-apa 
dalam pembentukan negara. Padahal sejarah mencatat, orang-orang Tionghoa dan 
berkulit kuning turut memperjuangkan tegaknya negara nasional Indonesia. 
Mereka antara lain, Lie Eng Hok, Kwee Thiam Tjing, Liem Koen Hian, Tan Eng 
Hoa, Oey Tiang Tjoe, Oey Tjong Hauw, dan Yap Tjwan Bing.

      Lie Eng Hok seorang tokoh dalam Pemberontakan 1926 di Banten. Dalam 
peristiwa itu, massa pribumi bergerak melakukan perusakan jalan, jembatan, 
rel kereta api, instalasi listrik, air minum, rumah-rumah serta kantor milik 
Pemerintah Kolonial Belanda. Pemberontakan dilakukan sebagai bentuk 
perlawanan terhadap pemerintahan yang menindas. Lie sempat diasingkan di 
Boven Digoel selama lima tahun (1927-1932).

      Kwee Thiam Tjing merupakan pemilik nama samaran Tjamboek Berdoeri. Dia 
berjuang bukan dengan senjata, melainkan pena. Tulisan-tulisannya di media 
massa kerap membuat merah telinga Pemerintah Kolonial Belanda. Sementara 
Liem Koen Hian, Tan Eng Hoa, Oey Tiang Tjoe, Oey Tjong Hauw, dan Yap Tjwan 
Bing tercatat sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan 
Indonesia (BPUPKI).

      Di luar itu, masih banyak keturunan Tionghoa dalam deretan nama kusuma 
bangsa. Misalnya, Tony Wen yang terlibat dalam aksi penurunan bendera 
Belanda di Hotel Oranye Surabaya pada 1945.

      Disamarkan

      Peristiwa tahun 1965, secara langsung menutup peran orang-orang 
Tionghoa dalam perjuangan kemerdekaan. Historiografi yang disusun 
pemerintahan Orde Baru secara sistematis menyamarkan jasa mereka terhadap 
bangsa. Indoktrinasi yang kuat tersebut mengakar hingga sekarang. Meski 
Reformasi telah berjalan hampir 10 tahun, sejarah belum sepenuhnya 
dilempangkan.

      Dalam peringatan HUT Ke-62 RI oleh warga Tionghoa Semarang di Kompleks 
PRPP, Tawangmas, Senin (28/8) malam, kabut sejarah itu kembali disibak. 
Ketua panitia Freddy Sinatra menuturkan, hal itu bukan dilambari semangat 
sektarian melainkan semata-mata upaya penyadaran.

      ''Bangsa ini didirikan dengan persatuan berbagai kelompok etnis dan 
suku. Etnis Tionghoa adalah salah satu di antaranya. Maka tak salah kiranya, 
jika kini kami turut merayakan dan mensyukuri kemerdekaan bangsa ini,'' ujar 
Freddy.

      Acara yang dihadiri Wali Kota Sukawi Sutarip dan Sekda Soemarmo HS 
itu, berlangsung meriah. Beragam bentuk kesenian ditampilkan di atas 
panggung, di antaranya musik, nyanyian, paduan suara, dan tari-tarian.

      Beberapa sajian menyiratkan spirit persatuan. Tari ''Gebyar Indonesia 
Bersatu'' misalnya, mendisplai ragam tarian daerah Nusantara dan etnis 
Tionghoa. Para penari berusia belia itu lincah memainkan gerak bersimbol 
kebersamaan. Beberapa orang dari korps veteran juga hadir. Mereka sengaja 
diundang oleh panitia untuk diberi penghargaan. ''Acara ini baru kali 
pertama diselenggarakan. Tahun depan akan kembali kami laksanakan,'' tandas 
Freddy. (56)


--------------------------------------------------------------------------------

Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana

 

<<blackpix.gif>>

Kirim email ke