http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail&id=9194

Senin, 03 Sept 2007,

Raja Surakarta Bagi-Bagi Gelar 





SOLO - Sejumlah menteri, pimpinan lembaga pemerintah, pengusaha, tokoh politik, 
dan artis kemarin menerima gelar kehormatan dari Keraton Surakarta Hadiningrat. 
Para tokoh itu dinilai berjasa dalam melestarikan kebudayaan Jawa sehingga 
mendapat penghargaan Bintang Sri Kabagyo dari penguasa Keraton Surakarta 
Hadiningrat Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakoe Boewono 
(SISKS PB) XIII Tedjowulan. 

Menurut KRT Bambang Pradatanagoro, Humas PB XIII Tedjowulan, sebetulnya ada 
tiga menteri dari Kabinet Indonesia Bersatu yang menerima gelar kehormatan. 
Mereka adalah Menteri Pariwisata Jero Wacik, Menteri Pekerjaan Umum Djoko 
Kirmanto, serta Menteri Tenaga Kerja Erman Suparno. Begitu pula Ketua Badan 
Pemeriksa Keuangan Anwar Nasution dan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso. Tak 
ketinggalan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshidiqie dan mantan Ketua 
BIN A.M. Hendropriyono. 

Namun, sampai acara penyerahan gelar di Ndalem Wuryoningratan dimulai, beberapa 
calon penerima, termasuk seluruh menteri yang diundang, batal hadir. Presenter 
kondang Ferdi Hasan yang dijadwalkan menerima gelar Kangjeng Raden Tumenggung 
(KRT) juga tidak tampak di acara itu. Demikian juga Hendropriyono dan Fauzi 
Bowo. Keduanya tidak terlihat hingga acara berakhir. 

Meski beberapa nama tokoh tersebut batal hadir, bukan berarti acara tingalan 
jumenengan (peringatan kenaikan takhta, Red ) ketiga PB XIII Tedjowulan itu 
sepi orang penting. Terlihat Gubernur DKI Jaya Sutiyoso, mantan Ketua DPR Akbar 
Tandjung, Ketua Umum Yayasan Putri Indonesia yang juga mantan Menteri 
Pendidikan dan Kebudayaan Prof Dr Wardiman Joyonegoro, dan mantan Ketua BPPN 
Putu Ary Suta. 

Semua pejabat itu datang bersama istri masing-masing. Dari kalangan selebriti, 
hadir dua mantan putri Indonesia. Mereka adalah Agni Prastitha Arkadhewi dan 
Artika Sari Dewi. Keduanya menerima gelar Kangjeng Mas Ayu Tumenggung (KMAT) 
dari Raja Surakarta Hadiningrat yang bermukim di luar tembok keraton itu. 

"Beberapa pejabat, di antaranya Pak Jero Wacik dan Pak Djoko Kirmanto, tidak 
bisa hadir karena ada hal yang tidak bisa ditinggalkan. Kami sudah mendapat 
konfirmasinya. Untuk Mas Ferdi Hasan seharusnya datang. Tapi, nggak tahu, 
sampai jam ini kok belum kelihatan. Sedangkan Pak Anwar Nasution dan Pak Erman 
Suparno memang tidak datang. Keduanya sudah diwisuda di tempat terpisah," ujar 
KRT Bambang Pradatanagoro di sela-sela acara itu. 

Seakan tak mau kalah dengan PB XIII Hangabehi yang menyajikan beksan (tari, 
Red) Bedhaya Ketawang dalam tingalan jumenengan-nya, PB XIII Tedjowulan kemarin 
menghadirkan beksan Bedhaya Tedjoasih. Tedjowulan merupakan seteru Hangabehi 
yang menguasai keraton peninggalan mendiang ayahnya.

Tari itu merupakan tari baru yang koreografinya digarap seniman-seniman ISI 
Solo dan di bawah bimbingan PB XIII Tedjowulan. Berbeda dengan Bedhaya Ketawang 
yang melegenda, Bedhaya Tedjoasih ditarikan 12 perempuan berparas cantik. 

Sementara itu, tingalan jumenengan PB XIII Tedjowulan ditutup dengan acara 
wisuda para abdi dalem. Menurut Bambang, sedikitnya 495 abdi dalem dan 74 
sentana yang mendapat gelar dari PB XIII Tedjowulan. 

"Selain mewisuda, Sinuwun menganugerahkan tanda penghargaan berupa Bintang Sri 
Kabagyo dan Bintang Sri Nugroho (keduanya merupakan tanda kehormatan atas 
pengabdiannya kepada keraton). Yang menerima Bintang Sri Kabagyo adalah Pak 
Akbar Tandjung, Pak Putu Ary Suta, dan Pak Sri Edi Swasono," jelas Bambang. 
(aw/jpnn

Attachment: 1188758778b
Description: Binary data

Kirim email ke