www.bantenlink.com
  edisi : 4 September 2007
   
  Tak Mundur Mengkritik Presiden SBY, Apalagi Sekelas Walikota Cilegon
   
  Cilegon — Jarwo Kwat, Wakil Presiden dalam tayangan Republik Mimpi di sebuah 
stasiun televisi swasta menyesalkan sikap LSM dan OKP pro pemerintah yang 
menyabot Posko Gerakan Pengentasan Kemiskinan dan Pengangguran di Propelat PT 
Krakatau Steel (KS), Kota Cilegon, Senin (3/9).
  Oleh : Yusvin Karuyan
  Penyabotan ini diduga kuat berkaitan dengan “kemarahan” Walikota Cilegon, Aat 
Syafaat terhadap publikasi soal keluarga miskin yang terpaksa mekan jantung 
pisang. Aat yang berasal dari Partai Golkar menuding peristiwa itu sebagai 
penghianatan terhadap bangsa, memecah persatuan dan menghambat pembangunan di 
Kota Cilegon.
  Posko Gerakan Pengentasan Kemiskinai ini sejak Senin pagi “diduduki” opuluhan 
massa dari berbagai OKP dan LSM pro Pemkot Cilegon, antara lain KNPI, Golkar, 
AMPI Cilegon, Gappura dan organisasi pro pemerintah daerah lainnya. Padahal 
hari Senin itu acaranya, Posko akan diresmikan Jarwo Kwat sebagai Wakil 
Presiden Republik Mimpi dan Gus Pur yang mirip mantan Presiden Gus Dur. Acara 
itu akhirnya batal.
  “Sebenarnya masyarakat tidak perlu khawatir dengan kegiatan ini. Untuk 
masalah ini, saya sendiri tidak akan mundur. Wong saya ini biasa mengkritik 
presiden, kenapa ini sekelas wali kota yang dikritik malah memecahkan persatuan 
dan kesatuan,”ujar Jarwo Kwat (JK), saat menggelar Jumpa Pers di kediaman Sekda 
LIRA Banten, Silvi Shovawi Haiz, kemarin.
  Menurut dia, profesinya sebagai “tukang kritik” dalam sebuah tayangan acara 
di stasiun televisi swasta, sering mengkritik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 
(SBY) dan pejabat lain di negeri ini. “Presiden saja yang punya jangkauan luas 
dari Sabang sampai Merauke, sangat berterima kasih dengan kritik saya. Tidak 
seperti yang terjadi sekarang ini, belum juga acaranya dimulai, tapi sudah 
diboikot,” ujarnya.
  Sementara itu, Sekda LIRA Propinsi Banten, Silvi Shovawi Haiz yang merupakan 
pelopor acara Gerakan Pengentasan Kemiskinan dan Pengangguran mengungkapkan 
kekecewaannya terhadap sikap OKP dan LSM pro pemerintah itu.
  Silvi menilai masyarakat Kota Cilegon dan Pemkot Cilegon telah kembali ke 
jaman dahulu.“Ini adalah bentuk pelecehan terhadap kaum perempuan dan merupakan 
gerakan premanisme.Ini namanya sudah mengkebiri hak-hak demokrasi dan aspirasi 
kami sebagai anak bangsa,” kata Silvi.
  Ia menyatakan saat ini pihaknya sedang mengkaji permasalahan atau insiden ini 
dari berbagai aspek untuk segera disikapi secara serius. Silvi yakin gerakan 
dan langkahnya tidak menyalahi aturan. “Wong buka posko untuk menampung masukan 
orang miskin dan pengangguran sesuai amanat UUD 1945 kok dirampas dan dikudeta. 
Berarti mereka telah melawan UUD 1945 dan tujuan nasional bangsa ini,”jelasnya.
  Orang dari LSM dan OKP pro Pemkot Cilegon menentang kegiatan LSM LIRA yang 
akan membuka posko pengaduan serta mendeklarasikan Gerakan Pengentasan 
Kemiskinan dan Pengangguran di Kota Cilegon. Pada kesempatan itu, Sekda LIRA 
Banten, Silvi Shovawi Haiz sempat bercekcok mulut dengan massa OKP dan LSM pro 
Pemkot Cilegon.
  Bahkan, JK dan Gus Pur pun ikut menengahi gerombolan massa yang menolak posko 
pengaduan tersebut berdiri.”Sudah jangan diributkan, kita ini semua 
saudara,”celetuk Gus Pur. (nr)

       
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

Kirim email ke