MENUJU INDONESIA IMPIAN MENUJU INDONESIA IMPIAN: PENCIPTAAN KOMUNITAS SEJAHTERA DAN MANUSIAWI DENGAN PENDEKATAN APPRECIATIVE INQUIRY (SEBUAH PROPOSAL RISET AKSI) A. Latar Belakang Keragaman Indonesia merupakan suatu keniscayaan. Keragaman budaya, hayati, alam dan sosial-ekonomi. Keragaman ini merupakan salah satu kekuatan bangsa Indonesia. Bayangkan kita berada dalam sebuah komunitas dimana setiap orang dan kelompok menyumbangkan kekuatan masing-masing untuk menciptakan kedamaian kehidupan bersama. Setiap orang dan kelompok bekerja bersama mensinergikan setiap keunikan yang dimiliki. Setiap orang menciptakan keadaan yang sejahtera dan manusiawi dengan kreativitas masing-masing. Sebuah bayangan yang diimpikan oleh bangsa Indonesia, sebuah Indonesia Impian.
Sayangnya, Indonesia yang diimajinasikan oleh para founding father sering tersandung karang terjal. Indonesia sebagai sebuah spirit menggelora diawal kemerdekaan mengalami badai yang berkelanjutan. Sampai akhirnya, bangsa Indonesia berada pada krisis multidimensi yang berkelanjutan. Dua buah isu yang banyak mengemuka adalah tentang pengentasan kemiskinan dan keragaman. Kemiskinan hingga saat ini masih menjadi isu global dan masalah sosial yang paling dominan terutama bagi negara-negara dunia ketiga. Hampir di semua negara berkembang, hanya 10%, 20%, atau paling banyak 30% masyarakat yang dapat menikmati hasil pembangunan. Sisanya, mayoritas masyarakatnya hidup tak berdaya (Strahm, 1999: xi-xii; Muchtar, 2003:2). Sebagai negara dunia ketiga, Indonesia juga mengalami hal yang serupa. Jumlah masyarakat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan pada tahun 2006 ini sebesar 17,75% dari total penduduk Indonesia (BPS, 2006:1). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada tahun 2005 yang mencapai 15,97%, berarti jumah penduduk miskin meningkat sebesar 3,95 juta jiwa (BPS, 2006:2). Hal ini belum termasuk dengan jumlah penduduk yang masuk dalam kategori miskin sementara (transient poor) yang cukup besar. Transient poor merupakan penduduk yang penghasilannya dekat dengan garis kemiskinan. Output secara kuantitatif, pada akhir tahun 1960-an lebih dari 60% penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan, dan pada tahun 1996 menjadi sekitar 12 persen dari total penduduk Indonesia (BPS, 1997; Muchtar, 2003:2). Krisis ekonomi yang melanda Indonesia tahun 1997 mengakibatkan jumlah orang miskin naik drastis menjadi 79,4 juta jiwa, terdiri dari 21,6 juta jiwa penduduk kota dan 56,8 juta jiwa penduduk desa (Sudjadi, 2000). Angka ini kemudian pada tahun 2005 menurun menjadi 35,10 juta jiwa dan kemudian meningkat lagi di tahun 2006 (BPS,2006). Data tersebut di atas menunjukkan bahwa ketahanan masyarakat terhadap kemiskinan cenderung labil, walaupun berbagai kebijakan untuk mengentaskan kemiskinan telah diterapkan. Intervensi dari pihak luar untuk memenuhi kebutuhan atau memecahkan persoalan masyarakat miskin masih menjadi pendekatan dominan dalam pengentasan kemiskinan, baik oleh pemerintah maupun kalangan lembaga swadaya masyarakat (Cussen, 2004). Pendekatan lama tersebut, yang biasa disebut sebagai pendekatan defisit, mengasumsikan komunitas miskin sebagai sebuah persoalan yang harus diselesaikan. Langkah pengembangan komunitas miskin selalu diawali dengan identifikasi persoalan dan kebutuhan, analisis penyebab, analisis solusi dan implementasinya. Dampak negatif pendekatan ini adalah timbulnya rasa sakit, lahirnya sikap defensif, kehilangan visi ke depan, penurunan semangat, dan melahirkan persoalan-persoalan baru (Cooperrider dan Whitney, 2001). Komunitas miskin kemudian seringkali bukannya terentaskan, justru menjadi semakin tidak berdaya, ketergantungan dan ketagihan bantuan. Forum Pengembangan Pembaruan (Widiadi, 2005) menilai bahwa dalam tatanan bernegara, desa tidak dilihat sebagai sebuah kekuatan yang unik yang mampu berkembang dan membangun diri sendiri untuk menguatkan negara bangsa. Sekalipun dalam tataran formal para penyusun kebijakan dan perundangan mengatakan ingin mendorong lahirnya kekuatan desa tetapi dalam kenyataannya lebih pada upaya melemahkan kekuatan budaya lokal (Widiadi, 2005). Upaya pengentasan kemiskinan justru semakin memupus atau bahkan menghilangkan keragaman kekuatan unik masyarakat lokal. Kondisi serupa ditemukan pula di Desa Wedoroanom, Driyorejo, Gresik, ketika peneliti melakukan studi awal ke lapangan. Warga Wedoroanom menganggap bahwa nasib mereka hanya dapat diubah jika ada pihak luar yang mampu menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi. Warga mengabaikan dan menyangkal kekuatan yang mereka miliki sebagai sebuah jalan untuk merubah kehidupan mereka. Percakapan didominasi dengan keluhan serta sikap menyalahkan pihak yang dinilai bertanggung jawab atas persoalan yang mereka hadapi. Fokus pada persoalan membuat mereka tidak pernah membayangkan visi masa depan desa mereka. Kisah komunitas petani sukses adalah cerita yang mustahil dan tidak mungkin terjadi di Indonesia. Secara umum, kondisi psikologis warga adalah tidak percaya diri atau menyangkal kekuatan sendiri, pesimis, penuh dengan keluhan, visi masa depan yang lemah dan kehilangan kreativitas. Bayangkan, apa yang kita dapatkan kalau kita mencari persoalan, pastilah persoalan. Semakin dicari maka semakin banyak pula mendapatkan persoalan. Bayangkan pula, apa yang kita dapatkan kalau mencari keberhasilan pastilah keberhasilan. Semakin dicari maka semakin banyak pula mendapatkan keberhasilan. Oleh karena itu, apabila berharap suatu hasil yang berbeda dengan yang didapatkan selama ini maka visi yang mendasari upaya pengentasan kemiskinan harus dipertimbangkan ulang dengan menggunakan cara pandang yang berbeda (reframing). Apakah benar yang sungguh-sungguh kita dan komunitas miskin harapkan adalah terentas dari kemiskinan? Apakah yang dicita-citakan oleh para bapak pendiri bangsa adalah masyarakat yang terentas dari kemiskinan? Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945 telah mengamanatkan sebuah cita-cita yaitu “…..Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa….”. Sudah sepatutnya apabila visi pengentasan kemiskinan diubah menjadi penciptaan kesejahteraan. Visi ini akan mengalihkan fokus program secara menyeluruh. Bukannya, mencari persoalan tetapi mencari kisah sukses yang terjadi dalam suatu komunitas. Bukannya, mencari faktor penyebab persoalan tetapi mencari faktor penyebab keberhasilan. Pengalihan fokus ini merupakan spirit dari sebuah pendekatan baru yang saat ini mulai berkembang luas di berbagai penjuru dunia, yaitu Apresiatif Inquiry. Sebuah pendekatan yang memandang memandang manusia dan komunitas sebagai sebuah kapasitas kekuatan yang tak terbatas. Pendekatan yang berpijak pada asumsi selalu terdapat berbagai cerita sukses, bakat, keahlian dan sumber daya didalam masyarakat yang dapat ditemukan dan dikembangkan oleh masyarakat itu sendiri. Lengkapnya klik disini ttp://keajaibankecil.wordpress.com/ http://groups.yahoo.com/group/Appreciativecommunity/ http://appreciativeorganization.wordpress.com/ www.fpsi.unair.ac.id --------------------------------- Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers
