Celebrating Pluralism with Appreciative Inquiry:
Sebuah Upaya Menciptakan Indonesia Impian
Rahman Ardi dan Budi Setiawan
I believe that diversity is a part of the natural
order of things – as natural as the trillion shapes
and shades of the flowers of spring or the leaves of
autumn.
I believe that diversity brings new solutions to an
ever – changing environment, and that sameness
is not only uninteresting but limiting.
To deny diversity is to deny life – with all its richness
and manifold opportunities…. Live and let live.
Understand that those who cause no harm should not be feared,
ridiculed, or harmed – even if they are different.
Look for the best in others.
Be just in my dealings with poor and rich,
weak and strong, and whenever possible to
defend the young, the old, the frail, the defenseless.
Be kind, remembering how fragile the human spirit is.
Live the examined life, subjecting my motives
and actions to the scrutiny of mind and heart
so to rise above prejudice and hatred. Care.
- Gene Griessman -
Pendahuluan
Jauh di balik dendam dan perdamaian, terhantar
ingatan. Seperti sebuah lautan, Indonesia tinggal
memilih cerita dari laut mana yang menyimpan manisnya
masa lalu, dan cerita mana yang ingin dicampakkan.
Ingatan tak pernah utuh. Masa silam tak pernah satu.
Ada kenangan yang memilih damai. Ada waktu lampau yang
mendorong Indonesia berseru: “Kami ingin menuntut
balas.” Ada politik ingatan, ada politik melupakan.
Keduanya menganggap bahwa “sejarah” adalah semacam
fotokopi dari pengalaman yang telah tersimpan.
Bila kita memilih cerita dan berita kelam,
rasanya tercecer dan tak habis koran dan
ungkapan-ungkapan lisan menguraikan. Mitos dan Narasi
sejarah tentang pertentangan ras, agama, suku, dan
golongan terlanjur melekat dalam tinta dan
terinternalisasi dalam kepribadian. Cerita kemenangan
si baik melawan si jahat yang penuh tauladan atau
kisah kepahlawanan tentara Tuhan yang mampu membumi
hanguskan setan dinyanyikan terus menerus sebagai
pengantar tidur bocah lima tahunan menjelang mimpi
lelapnya. Ada cerita rakyat tentang tragedi kurusetra
sebagai ladang pembantaian atas si jahat kurawa,
cerita tentang kutukan malinkundang, si kancil pencuri
ketimun yang terperangkap di ladang, pembantaian 7
jenderal di jaman revolusi 65, hingga pembantaian
pasca 65 atas nama dendam terhadap 1,5 juta rakyat
indonesia tanpa peradilan. Memori tragedi Sampit
dijadikan pajangan di layar kaca atau di panorama
internet lewat penjagalan kepala manusia bak hiasan
kepala sapi. Cerita Ambon berdarah, pembantaian Poso,
perang suku di Papua pun dituturkan dengan dendam
berkepanjangan dan saling meneriakkan nama Kebenaran.
Banjir darah di negeri sendiri membuat
indonesia tak berhenti menangis. Ada apa dengan kita?
Kenapa kita tak terpikir cerita bahagia? Kenapa tak
berani kita berharap? Kenapa kita tenggelam dalam
cerita pahit yang penuh darah dan air mata? Padahal
warna sejarah Indonesia dibangun dengan spirit
keindahan untuk hidup berdampingan. Para founding
fathers kita mendirikan negara bangsa berdasarkan satu
kesadaran akan indahnya hidup bersama dalam
keberagaman. Mereka tertular oleh jiwa dan semangat
pluralisme yang telah menjadi realitas historis yang
tak lagi terbantahkan. Bahkan tercatat dalam berbagai
prasasti prasejarah bahwa sebenarnya indonesia
dibangun atas dasar keberagaman dan toleransi.
Keberagaman dan toleransi yang tak hanya terjadi di
jawa namun juga di berbagai pelosok negeri. Perbedaan
ada bak taman yang terisi dengan bunga berbagai jenis
dan warna.
Permadani pluralisme, kekhasan dan keunikan yang
dimiliki oleh masyarakat itu kemudian kerap runtuh
dengan model pendekatan politik yang cenderung
mengelola keragaman dengan pluralisme artificial.
Pluralisme yang hanya dijadikan slogan semu, namun
guna mencapai ambisi politik serta dominasi kekuasaan,
hak-hak sosio-kultural masyarakat adat kerap
dieksploitasi. Institusi sosial masyarakat adat
dibonsai dan secara berlahan dilucuti substansinya
sebagai kekuatan sosial masyarakat. Manusia kemudian
tak pernah benar benar hadir untuk merasakan keindahan
taman bunga perbedaan, apalagi merayakannya.
Lengkapnya klik di
http://keajaibankecil.wordpress.com/2007/05/24/celebrating-pluralism-with-appreciative-inquiry/
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
Answers