Mungkin lebih sukar mengemas lebih singat penjelasan pentingnya ideologi yang 
dikatakan sudah passe 
(lewat, tidak relevan) lagi, padahal permasalahannya yang juga dirinci di 
tulisan ini bukannya hanya tetap ada, 
namun bahkan semakin menggebu, seperti kesenjangan, kemiskinan, pengangguran, 
krisis lingkungan etc.
Demikian juga setelah robohnya Tembok Berlin (1989) menanjak upaya ideologis 
(sic!) yang mengatakan sejarah
telah usai (kapitalisme telah menang total) dan tentang irrelevansi batasan 
pemikiran Kiri dan Kanan,
yang menurut saya dijelaskan secara halus oleh Dr. Stiglitz.

Salam, Bismo DG

----- Original Message ----- 
From: B.DORPI P. 
To: !B.DORPI P. 
Sent: Thursday, August 30, 2007 1:58 AM
Subject: Re.: Pentingnya Ideologi 


http://www.kompas.com/

Kamis. 30 Agustus 2007 
Pentingnya Ideologi 


Ivan A Hadar 

Seusai peluncuran buku Making Globalization Work versi bahasa Indonesia, 
terjadi perdebatan antara Joseph E Stiglitz—pengarang dan peraih Nobel Ekonomi 
2001—dan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Boediono terkait dengan ideologi. 

Sejumlah ekonom di Indonesia, kata Boediono, menuding pemerintah menjual diri 
demi berpegang pada ideologi liberalisme yang diusung Konsensus Washington. 
Namun, baginya, menjadi tidak produktif jika mencari jawaban atas persoalan 
riil melalui perdebatan ideologi. 

Menanggapi Boediono, Stiglitz mengatakan, pragmatisme tidak dapat dilepaskan 
dari konteks ideologi yang menyajikan pandangan mendasar tentang bagaimana 
pemerintah seharusnya berperan (Kompas, 19/8). 

Ketimpangan dalam globalisasi, kata Stiglitz, perlu dikelola oleh negara 
berkembang, dengan peran pemerintah lebih efektif dan efisien, tercermin dalam 
dorongan pemerintah mengembangkan industri baru, pertanian, bisnis skala kecil, 
dan memastikan pengelolaan sumber alam berbuah kesejahteraan bagi rakyat. 

Sejarah mencatat, di satu sisi, maraknya perekonomian tidak hanya disebabkan 
liberalisme perdagangan. Krisis ekonomi sebelumnya pun tidak bisa diatasi 
pasar. Pada sisi lain, proteksionisme negara memperparah gejala krisis 
ketimbang memperbaikinya. 

Manfaat (neo)liberal 

Secara umum, konsep (neo)liberal diakui bisa bermanfaat dalam mengurangi 
mentalitas rent seeking birokrat. Namun, pada saat sama, ekonomi pasar murni 
yang meminggirkan peran negara sebagai penyeimbang gagal memenuhi janjinya. 
Kesenjangan antarnegara kaya-miskin dan antara lapis sosial dalam sebuah negara 
kian melebar. Tiga contoh berikut memperjelas hal itu. 

Pertama, asumsi neoliberal bahwa pasar modal tidak hanya membantu penggunaan 
kapital secara optimal, tetapi juga menjamin pertumbuhan dan pengadaan lapangan 
kerja tidak terbukti. Penyebabnya, pasar modal menjadi pasar spekulatif yang 
digelembungkan (spekulativer Marktaufblaehung). Fluktuasi kurs di bursa efek 
tidak menggambarkan kekuatan ekonomi sebenarnya dari berbagai perusahaan 
anggotanya. Tanpa regulasi, pasar modal global bisa memengaruhi kuat-rapuhnya 
stabilitas ekonomi sebuah negara, kawasan, bahkan dunia, seperti diperlihatkan 
"Krisis Asia" yang dampaknya masih terasa bagi Indonesia hingga kini. 

Kedua, penelitian Prittchett (1996) membuktikan, dalam proses globalisasi yang 
terjadi bukan konvergensi, tetapi kesenjangan yang meluas. Pasar bebas, 
liberalisasi perdagangan dunia, serta investasi dan pasar modal tidak berperan 
dalam memperkecil kesenjangan kaya-miskin. Pemenang proses globalisasi adalah 
negara-negara kaya anggota OECD, sementara negara berkembang kian 
terpinggirkan. 

Ketiga, kekuatan pasar tidak mampu mencegah krisis lingkungan global. Meski 
harus diakui, kegagalan yang sama dialami negara, terutama terkait maraknya 
monopoli dan oligopoli. Ternyata, pasar seperti negara, dapat gagal. 

Penyebab kegagalan pasar dan pentingnya intervensi negara terkait beberapa hal, 
yaitu adanya monopoli dan oligopoli, tidak sehatnya persaingan, kesenjangan 
ekonomi di tingkat nasional, dan global, kemiskinan, kerusakan lingkungan, 
serta ketidakmampuan perusahaan swasta untuk mencukupi kebutuhan publik, 
seperti pendidikan dan pelayanan kesehatan. 

Negara yang efisien 

Untuk membendung dampak negatif proses globalisasi neoliberal diperlukan sebuah 
negara yang efisien. Namun, pada saat sama, akibat keterpenggalan antara 
ekonomi global dan politik nasional, sebuah kebijakan proteksionistis oleh 
negara diduga akan mengalami kegagalan. Bagaimana mengatasi dilema itu? 

Solusinya terletak pada kian menyatunya masyarakat global, yang memunculkan 
berbagai lembaga ekonomi dan politik serta terbentuknya global civil society. 
Sebagai instansi politik terpenting, negara dapat berfungsi sebagai mediator 
kepentingan nasional dalam membendung dampak destruktif globalisasi. Pada saat 
sama, negara diharapkan berperan sebagai moderator berbagai proses dalam 
masyarakat sebagai instansi integrasi dan penengah yang mencegah terjadinya 
fragmentasi di masyarakat. 

Sementara itu, kelompok kepentingan lokal dapat memperkuat berbagai faktor 
setempat seperti pendidikan, budaya, infrastruktur, dan mengorganisasi jaringan 
lokal seperti perluasan partisipasi politik, seleksi jenis investasi, dan 
penguatan potensi ekonomi lokal. 

Pada tingkat regional, kerja sama antarnegara dalam pakta ekonomi, seperti 
ASEAN, bila dikelola dengan pas, bisa lebih membuka gerak bagi perdagangan 
sekaligus memperkuat posisi tawar dalam menghadapi persaingan global. 

Terakhir, berfungsinya global governance. Untuk itu, dibutuhkan kerja sama 
antara negara dan masyarakat sipil di tataran lokal, nasional, dan 
internasional. Sasarannya, reorganisasi politik dalam semua tataran aksi 
melawan logika pasar murni. Negara, masyarakat sipil, dan global governance, 
idealnya bersekutu membendung dominasi pasar dan ekonomi serta mengurangi 
dampak buruknya. Kegagalan pasar global, seperti kesenjangan antarnegara dan 
antarkelompok masyarakat, kemiskinan, pengangguran, dan krisis lingkungan hidup 
tidak saja menuntut negara yang efektif dan efisien, terutama dalam 
memperjuangkan kesejahteraan bagi rakyat banyak. Dari semua argumentasi itu, 
terlihat betapa pentingnya ideologi. 

IVAN A HADAR Koordinator Nasional Target MDGs (Bappenas/UNDP); Pendapat Pribadi 

Kirim email ke