Harian Bisnis Indonesia (Rabu, 05/09/2007)
Ketamakan tak berubah, pemanasan global kian parah
Oleh Firdaus Cahyadi
Knowledge Sharing Officer (KSO) OneWorld-Indonesia
Saat artikel ini ditulis akhir Agustus,� Jakarta tengah
diguyur hujan yang sangat lebat. Padahal seharusnya Agustus bukan lagi musim
penghujan. Cuaca sudah tidak lagi bisa diprediksi. Perubahan iklim akibat
pemanasan global rupanya kini bukan lagi sebuah wacana namun benar-benar telah
menghampiri kita semua.
Terjadinya pemanasan global saat ini juga dibenarkan oleh fakta-fakta
ilmiah. Badan Meteorologi Dunia (WMO) melaporkan bahwa suhu bumi pada 2006
meningkat 0,420C di atas rata-rata 1961-1990. Suhu di tahun itu merupakan suhu
terpanas ke-6 dalam sejarah kehidupan di bumi.
British Meteorological Office (BMO) dalam laporannya mencatat bahwa pada
Januari 2007 ini terjadi kenaikan suhu sebesar 0,540C dari suhu rata-rata
1961-1990. Kenaikan suhu pada 2007 ini melampaui kenaikan suhu pada 1998 yang
hanya berkisar 0,520C. Padahal kenaikan 0,020C saja sudah dapat membunuh
beberapa spesies di muka bumi ini.
Laporan kedua lembaga internasional itu diperkuat juga oleh laporan IPCC
(Intergovernmental Panel on Climate Change) 2007. Di tahun ini IPPC
mengeluarkan laporan dari tiga kelompok kerja. Laporan tersebut secara tegas
menyebutkan "tidak ada keraguan akan masalah perubahan iklim; memastikan
bukti-bukti dari perubahan iklim dengan yakin; skala dan percepatan dari
dampaknya terhadap kehidupan manusia dan ekosistem akan sangat tinggi;
menghindari perubahan iklim ekstrem dapat dilakukan dengan bantuan teknologi
dan ekonomi namun waktu untuk bertindak tidak banyak"
Dengan menggunakan model dari IPCC, Indonesia akan mengalami kenaikan dari
temperatur rata-rata dari 0,10 - 0,30C per dekade. Kenaikan suhu ini akan
berdampak pada iklim yang memengaruhi manusia dan lingkungan sekitarnya,
seperti kenaikan permukaan air laut dan kenaikan intensitas dan frekuensi dari
hujan, badai tropis, serta kekeringan.
Indonesia dan negara-negara dunia ketiga lainnya dipastikan akan menjadi
pihak yang sangat rentan terkena dampak dari perubahan iklim itu. Padahal
negara-negara dunia ketiga bukanlah negara penghasil emisi gas rumah kaca
(GRK) penyebab pemanasan global dan perubahan iklim. Emisi GRK terbesar justru
dihasilkan oleh negara-negara kaya seperti Amerika Serikat (AS). Satu orang AS
menghasilkan efek emisi sebanding dengan 17 orang Maladewa, 19 orang India, 30
orang Pakistan, 49 orang Sri Langka, 107 orang Bangladesh, 134 orang Bhutan
dan 269 orang Nepal. Lantas, adilkah bila rakyat di negara-negara berkembang
nanti harus menjadi korban dari perubahan iklim?
Ketidakdilan itu sebenarnya telah diusahakan untuk dikoreksi oleh Protokol
Kyoto dengan mengadopsi prinsip 'common but differentiated responsibilities',
yaitu prinsip tanggung jawab bersama namun dengan beban yang berbeda-beda.
Konsekuensinya, protokol tersebut mewajibakan negara-negara maju yang
tergabung dalam negara Annex-1 untuk untuk mengurangi emisi GRK-nya rata-rata
sebesar 5,2% dari tingkat emisi 1990 selama periode tahun 2008 - 2012.
Alih-alih memaksa negara maju untuk mengurangi emisi, Protokol Kyoto justru
mendapatkan penolakan keras oleh AS sebagai konsumen terbesar energi fosil di
dunia. Selain itu Protokol Kyoto sendiri sebenarnya juga sudah sejak awal
'dilemahkan' oleh negara-negara maju lainnya sehingga dosa lingkungan dari
negara-negara tersebut dapat ditanggung bersama dengan negara-negara
berkembang. Jadi tak heran bila dalam protokol tersebut muncul mekanisme Clean
Development Mechanism (CDM).
Mekanisme ini merupakan satu-satunya mekanisme yang melibatkan negara
berkembang. Mekanisme ini mengatur bahwa negara maju dapat menurunkan emisi
GRK dengan mengembangkan proyek ramah lingkungan di negara berkembang.
Mekanisme ini sendiri pada dasarnya merupakan perdagangan karbon, yang
bertujuan membantu negara-negara Annex I atau negara maju dalam memenuhi
target penurunan jumlah emisi negaranya.
Toleransi yang berlebihan terhadap ketamakan negara maju dalam mengonsumsi
energi fosil inilah yang menjadi salah satu penyebab kegagalan Protokol Kyoto
dalam menurunkan emisi GRK di atmosfer. Untuk itulah pascaberakhirnya Protocol
Kyoto pada 2012 harus disiapkan aturan baru untuk menggantikanya.
Ambil kepemimpinan
Pertemuan para pihak atau Conference of the Parties/COP 13 di Bali menjadi
sangat penting sebagai pra-kondisi bagi lahirnya kesepakatan baru tersebut.
Pertemuan di Bali tahun ini harus menghasilkan semacam Bali Mandate yang
menjadi pedoman bagi pembahasan kesepakatan baru pada forum COP berikutnya.
Bali Mandate harus memberikan ruang yang cukup bagi negara-negara berkembang
atau non-Anex-1 untuk ikut mengontrol negara-negara maju yang tergabung dalam
Anex-1 dalam memenuhi kewajibannya mengurangi emisi GRK di negaranya.
Sebaliknya, kesepakatan baru pasca Protokol Kyoto tidak boleh kembali
memberikan ruang bagi toleransi terhadap ketamakan negara-negara maju dalam
mengkonsumsi energi fosil.
Untuk itulah Indonesia sebagai tuan rumah dari pertemuan COP 13 diharapkan
mampu mengambil kepemimpinan dari negara-negara berkembang untuk meletakan
dasar-dasar bagi kesepakatan baru pasca-Protokol Kyoto secara lebih adil.
Pertanyaannya kemudian adalah apakah Indonesia punya political will untuk
mengambil peran itu?
Alih-alih mengambil kepemimpinan bagi negara berkembang, Pemerintah
Indonesia melalui Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH) jauh-jauh hari
sudah menyatakan bahwa Indonesia akan lebih fokus pada upaya mendapatkan uang
recehan dalam skema dana adaptasi. Padahal posisi Indonesia sebagai tuan rumah
COP 13 dapat mengambil peran lebih dari sekadar berebut uang recehan seperti
itu.
Masih ada waktu beberapa bulan lagi untuk menyadarkan Pemerintah Indonesia
bahwa negara ini bersama-sama negara dunia ketiga lainnya mampu menyelematkan
bumi ini dari dampak perubahan iklim dengan mencegah berlanjutnya ketamakan
negara-negara maju dalam mengonsumsi energi fosil melalui kepeloporannya dalam
meletakkan dasar-dasar bagi kesepakatan baru pasca-Protokol Kyoto.
Tanpa upaya mengakhiri ketamakan dari negara-negara maju itu mustahil emisi
GRK di atmosfer bumi ini dapat dikurangi.
Oleh Firdaus Cahyadi
Knowledge Sharing Officer (KSO) OneWorld-Indonesia
---------------------------------
Got a little couch potato?
Check out fun summer activities for kids.