Saya heran loch, puasa khan salahsatunya berarti menahan lapar dan dahaga, yg 
secara teori ekonomi akan menyebabkan permintaan akan sembako akan turun dan 
tentunya sesuai hokum ekonomi, maka kalo permintaan turun penawaran banyak, 
harga akan turun.
   
  Justru di Indonesia terjadi anomali, bulan puasa ternyata menyebabkan 
permintaan akan sembako justru meningkat yg berujung naiknya harga. Lha kalo 
gitu ngapain puasa kalo untuk menahan rasa lapar saja tidak berpengaruh 
signfikan pada factor permintaan barang. Bukankah puasa secara langsung 
mengajarkan masyarakat untuk berhemat, ini malah tambah boros ?
   
  Belum lagi nanti sekitar 1-2 minggu jelang lebaran, banyak sale2 di berbagai 
pusat belanja. Nach, lagi2 sifat konsumtif seolah2 mendapat tempatnya dengan 
iming2 rayakan hari raya dengan yang baru.
   
  Saya juga suka sebal tuch dengan liputan infotainment kita, artis2 yg ngisi 
acara ramadhan dianggap lagi aji mumpung buat ngejar setoran karena daya tawar 
fulusnya naik. Terus ada lagi acara2 gembar-gembor “mualaf”, yg secara tidak 
langsung tidak mendukung suasana toleransi sang mayoritas terhadap kaum 
minoritas. 
   
  Sinetron2 religi, apa bedanya dengan yg udah tayang sekarang, nggak ada yg 
istimewa jadinya. Acara subuhnya malah diajak ketawa-ketiwi oleh para pelawak. 
Nggak mendidik banget.
   

       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

Kirim email ke