Terima kasih untuk masukan dari Bung Andar Manik alias Si Singa Tua. Untuk itu,
saya sarankan kepada Lae Saut Situmorang untuk meluruskan paparan-paparannya
yang selalu melenceng jauh dari kenyataan. Memang, saat menuliskan sesuatu
berdasarkan rasa iri dengki, dan juga mungkin memendam bara dendam kesumat,
hasilnya bakal tak akurat.
Damai, damai, damai di di bumi....singkirkan bara kebencian di hati kita
semua. Buat apa sih memendam rasa iri? Sifat iri hanya tertanam di jiwa dan
pikiran yang picik...macam si babah pedagang kelontong yang tak suka
tetangganya membuka usaha serupa. Akhirnya ia kalap dan melakukan berbagai cara
untuk memusnahkan hidup dan kehidupan sang tetangga.
Orang yang mengaku seorang penyair tapi selalu menyalahkan karya penyair
lain, tak bakalan namanya menjadi besar. Dalam bisnis masa kini pun ada etika
atau 'code of conduct guideline', kenapa itu tak tertanam di organisasi
penampung para seniman?
Seorang penyair, seorang seniman, dan siapa saja akan lebih dihargai
masyarakat kalau karyanya itu tercipta bermodalkan dari kejujuran hati. Seni
itu indah, seni itu putih bersih...........seputih hati sang penciptanya,
siapapun dia.
Salam,
Radityo Djadjoeri
Andar Manik <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Sajak di Kompas Minggu.
Saut Situmorang, dalam tulisannya di mailing-list ini mengatakan, bahwa di
dalam rubrik puisi Kompas Minggu yang diasuh Hasif Amini, sajak-sajak Nirwan
Dewanto "selalu muncul satu halaman penuh sementara para penyair lain dimuat
beramai-ramai."
Menurut Joko Pinurbo, sajak-sajak dia juga dimuat satu halaman penuh. Saya
juga sudah beberapa kali melihat ada penyair lain yang sajaknya dimuat seperti
sajak Nirwan dan Joko Pinurbo. Antara lain sajak-sajak Acep Zamzam Nur, Afrizal
Malna, Mardiluhung, dan lain-lain.
Artinya, kesimpulan Saut tidak benar, dong.
Selamat membaca,
Andarmanik.
e-mail: [EMAIL PROTECTED]
blog: http://mediacare.blogspot.com
---------------------------------
Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo! Travel.