Tulisan ini juga disajikan dalam website
http://perso.club-internet.fr/kontak)
WASIAT SOEDJINAH
Aku pendukung Bung Karno sampai mati
Menyusul tulisan yang berisi rekaman wawancara HD. Haryo Sasongko dengan
Soedjinah (harap baca In memoriam : Soedjinah, pimpinan Gerwani dan
pendukung Bung Karno) maka berikut di bawah ini disajikan tambahannya untuk
melengkapi tulisan tersebut. Tambahan ini, yang berjudul Wasiat Soedjinah
, mengandung pesan atau keinginan Soedjinah untuk mengumpulkan dan
menerbitkan dokumen-dokumen yang ditulisnya di penjara dengan pensil.
Untuk buku yang berisi kumpulan dokumen-dokumen yang ditulisnya dalam
keadaan sulit dan secara sembunyi-sembunyi itu, Soedjinah memilih judul AKU
PENDUKUNG BUNG KARNO SAMPAI MATI. Dokumen-dokumen yang ditulisnya itu telah
diserahkan secara sembunyi-sembunyi kepada seorang wartawan yang berhasil
berhubungan dengan Soedjinah di penjara dengan menyamar sebagai kuli
bangunan.
Dalam rangka usaha untuk bisa merealisasikan wasiat Soedjinah ini HD Haryo
Sasongko menghimbau wartawan yang pernah mengadakan kontak dengan Soedjinah
supaya menghubunginya. Isi wasiat Soedjinah dan himbauan kepada wartawan
tersebut selengkapnya adalah sebagai berikut :
Soedjinah, seorang pejuang wanita yang pantang menyerah untuk tetap
memberikan dukungannya kepada Bung Karno setelah peristiwa Kudeta berdarah
1965 dan Bung Karno jatuh dari kedudukannya sebagai Presiden RI, telah wafat
pada 6 September 2007 di Panti Jompo "Waluyo Sejati", Kramat Jakarta Pusat.
Rekaman suara Soedjinah dalam wawancara dengan saya pada tahun 2000 (baca
kembali Soedjinah in Memoriam oleh Umar Said) telah saya serahkan kepada
Lontar Foundation. Di luar wawancara yang terekam, ada pembicaraan lisan
antara saya dengan Soedjinah. Intinya, dia ingin agar dokumentasi berupa
tulisan-tulisan tangan yang dia selundupkan dari kamar tahanan dan disimpan
oleh seorang wartawan (tidak dapat saya sebut namanya di sini) dapat
dihimpun kembali secara lengkap.
Dia ingin dokumen itu dibukukan dan dia mengusulkan berjudul AKU PENDUKUNG
BUNG KARNO SAMPAI MATI. Dokumen itu ditulis dengan pensil di atas kertas
kecil sambil bersembunyi di WC kamar tahanannya. Kertas kecil-kecil itu
sengaja disobek-sobek, ada yang diremas-remas seperti sampah, agar tidak
mencurigakan di mata petugas penjara, dan wartawan tersebut berhasil menemui
Soedjinah karena menyamar sebagai kuli bangunan yang harus memperbaiki
bangunan di penjara tempat Soedjinah ditahan (ada beberapa naskah yang
terpaksa dia kunyah dan ditelan karena takut kepergok petugas penjara yang
tiba-tiba lewat).
Dari wawancara saya dengan seorang mantan aktivis Wanita Marhaen, dia
menyebutkan kenal baik dengan Soedjinah dan mereka berdua ditambah satu
wanita lagi (dari golongan agama) selalu di dekat Bung Karno dan bertugas
mencicipi makanan apabila Bung Karno akan mengunjungi suatu daerah.
Sampai kini saya tidak berhasil menghubungi wartawan yang dimaksud
Soedjinah. Mohon apabila wartawan yang dimaksud membaca surat ini, kiranya
dapat menghubungi saya melalui email. Atas perhatiannya disampaikan terima
kasih dan saya bersedia untuk menjaga kerahasiaan saudara. Saya merasa
berdosa belum melaksanakan wasiat almarhumah. Selamat jalan Soedjinah,
maafkan saya.
HD. Haryo Sasongko
E-mail : [EMAIL PROTECTED]