10 September, 2007 Kompas "mengkampanyekan" susu SGM Oleh: Rahmah Housniati E-mail: [EMAIL PROTECTED] Tanggal : 7 September 2007 Perihal : Meminta klarifikasi dan tanggapan
Kepada Yth Dewan Redaksi Harian KOMPAS Di tempat Dengan hormat, Bersama ini kami ingin menyampaikan keprihatinan dan kegusaran kami atas artikel di harian Anda pada halaman 17 kolom Bisnis & Keuangan pada hari Jumat, 7 September 2007 dengan judul "Sari Husada Luncurkan SGM-Baru." Kami bisa menerima bahwa berita ini akan berpengaruh pada indeks saham Sari Husada di bursa. Tapi kami menyayangkan isi dari berita ini -- mengingat Indonesia baru saja selesai merayakan bulan ASI selama Agustus lalu -- yang sama sekali tidak menyebutkan bahwa Air Susu Ibu (ASI) adalah tetap sumber makanan terbaik untuk bayi dan anak (1). Sedangkan di harian Anda pada paragraf 6 tercantum pernyataan dari Direktur Pemasaran PT Sari Husada Jenny Go, "Terganggunya kesehatan pencernaan membuat bayi rentan terserang infeksi dan peradangan," katanya. Sangat disayangkan pernyataan ini tidak dibarengi dengan pernyataan yang lebih penting dan mendasar bahwa dengan ASI, berbagai risiko gangguan kesehatan pencernaan tersebut justru dapat dihindari, karena ASI memberikan perlindungan yang optimal terhadap sistem pencernaan bayi dan anak karena SUDAH mengandung: secretory immunoglobulin A (SIgA), epidermal growth factor (EGF), lactoferrin, lysozyme serta berbagai enzim pencernaan seperti lipase, protease dan amilase. Tingkat laktosa yang tinggi dalam ASI juga memacu pertumbuhan Lactobacillus bifidus dalam usus bayi dan anak (2). Seperti dikutip pada situs www.lalecheleague. org, "Menyusui telah terbukti memberikan proteksi terhadap beberapa penyakit, seperti radang pernapasan, alergi, virus flu, infeksi bakteri e-coli, diabetes, kanker pada anak, meningitis, radang paru-paru, radang pada saluran kencing, salmonella, Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) juga termasuk proteksi seumur hidup dari penyakit Crohn, beberapa jenis limfoma, diabetes yang bergantung pada insulin, dan pada perempuan, kanker payudara dan rahim. ASI juga mengurangi resiko penyakit jantung dan obesitas pada anak, serta penyakit saluran pencernaan seperti diare, appendicitis, gastroenteritis dan gastroesophageal reflux (GER). Kode Etik Internasional WHO mengenai pemasaran produk-produk pengganti ASI dan Kepmenkes 237/1997 juga memuat larangan iklan dan promosi makanan pengganti ASI untuk bayi kepada publik. Secara tidak langsung Harian KOMPAS juga telah mempromosikan susu formula SGM dengan formula baru yang mengandung FOS dan GOS untuk bayi kepada para pembaca dan khalayak luas. Padahal riset telah membuktikan bahwa sistem imun pada anak tidak akan sempurna sampai pada beberapa tahun dalam kehidupannya. Selama anak tumbuh, mereka akan terlindung oleh ASI. Sistem imun anak yang diberikan ASI juga akan terus berkembang lebih baik dibandingkan anak yang diberikan susu formula (3). Demikian surat ini kami buat untuk kembali mengingatkan pentingnya pemberian ASI pada bayi dan anak-anak Indonesia. Terima kasih atas perhatiannya dan besar harapan kami, media sebesar KOMPAS dapat lebih berimbang dalam menyampaikan sebuah berita dan ulasan di kemudian hari. Karena tidak sedikit pembaca dan masyarakat yang dapat dengan mudah mengambil kesimpulan sementara hanya dari tulisan tersebut. Hormat kami, Mia Sutanto Ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) [EMAIL PROTECTED] www.aimi-asi. org (1) WHO telah mekampanyekan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan dengan makanan pendamping ASI (MPASI) dan tetap memberikan ASI samapai 2 tahun atau lebih. (2) The Breastfeeding Book: Everything You need to Know About Nursing Your Child From Birth Through Weaning, Sears, R.N., Martha dan William Sears, M.D., Parenting Library, 2000. (3) www.lalecheleague. org; "Research shows your child's immune system will not be fully mature for many years. While it is developing, he will be protected by being breastfed. His own immune system also develops more rapidly than does baby who is fed formula. _________________________________ KOMPAS, 7 April 2007 halaman 17 - Bisnis & Keuangan Susu Formula Sari Husada Luncurkan SGM-Baru Jakarta, Kompas - PT Sari Husada selaku market leader susu formula anak meluncurkan susu SGM formula baru. Susu SGM 1, 2, dan 3 formula baru ini dilengkapi kandungan prebiotik, yaitu frukto-oligosakarida (FOS) dan galakto-oligosakarida (GOS), yang dapat menunjang pertumbuhan dan aktivitas bakteri baik. Direktur Pemasaran PT Sari Husada Jenny Go, Kamis (6/9) di Jakarta, mengatakan, prebiotik adalah makanan yang tidak dicerna oleh sistem pencernaan, tetapi bila dikonsumsi mampu meningkatkan pertumbuhan dan aktivitas mikroflora (bakteri) dalam saluran pencernaan secara selektif dan mampu memberi efek positif pada kesehatan. Prebiotik bermanfaat bagi tubuh karena secara selektif merangsang pertumbuhan bakteri non-patogenik yang dikenal sebagai Bifidobacteria dan Lactobacillus di dalam usus. Sementara itu, FOS dan GOS merupakan prebiotik. FOS dan GOS tidak tercerna oleh usus halus dan langsung masuk ke usus besar sehingga menciptakan lingkungan asam yang tidak ideal bagi pertumbuhan bakteri patogen atau bakteri jahat. Tingkat keasaman yang rendah merupakan sinyal bagi sistem kekebalan saluran pencernaan dan pembentukan mukus yang berfungsi sebagai penghalang pada permukaan saluran cerna agar bakteri jahat tidak masuk ke aliran darah. "Terganggunya kesehatan pencernaan membuat bayi rentan terserang infeksi dan peradangan," katanya. Kendati ada tambahan formula dalam susu SGM, PT Sari Husada tidak membebankan biaya inovasi kepada konsumen. Karena itu, harga susu SGM yang mengandung FOS dan GOS tetap. Sampai saat ini, SGM merupakan pemasok pendapatan terbesar dari penjualan susu produksi PT Sari Husada, dengan volume produksi 50.000 ton per tahun. Sekitar 75 persen produksi untuk SGM. Selain mengandung FOS dan GOS, SGM formula baru juga dilengkapi dengan Docosahexaenoic (DHA) dan Linoleic Acid (LA). Keduanya jenis asam lemak tak jenuh ganda rantai panjang sebagai komponen utama pendukung pembentukan membran sel otak. Susu SGM dengan kemasan dan formula baru itu sudah ada di Jawa, Sumatera, dan Bali. Distribusi di Kalimantan, Sulawesi, dan Papua dilakukan setelah Lebaran. (MAS) mediacare http://www.mediacare.biz
