10/09/2007 18:02 WIB 

Hidayat: Tidak Zamannya Lagi Perdebatkan Capres Perempuan

Anwar Khumaini - detikcom

 

Jakarta - Ceramah Ketua Umum MPR Dr. H. Muhammad Hidayat Nurwahid, MA., Lc.
dalam Rakornas DPP PDIP mendapat sambutan hangat. Hidayat meminta perdebatan
capres perempuan dan syarat sarjana bagi capres distop.

 

"Saat ini sudah tidak zamannya lagi memperdebatkan presiden perempuan," kata
Hidayat dalam ceramah di hadapan sekitar 16 ribu pengurus PDIP yang memadati
arena Rakornas PDIP di Kompleks PRJ Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin
(10/9/2007).

 

Menurut dia, pasal 6 UUD 1945 tentang syarat-syarat menjadi presiden tidak
menyebutkan syarat harus laki-laki. 

 

"Jadi saat ini tidak relevan lagi untuk diperdebatkan calon perempuan atau
laki-laki," ujar Hidayat yang disambut tepuk tangan peserta rakornas.
Plok...plok..plok!

 

Hidayat menilai Indonesia sebenarnya lebih demokratis ketimbang AS. Sebab,
AS yang merdeka beratus-ratus tahun dan mengklaim sebagai pelopor negara
demokrasi ternyata sampai sekarang presidennya belum pernah perempuan.

 

"Sedangkan Indonesia, pernah dipimpin seorang presiden perempuan," ujar pria
yang juga mantan Presiden PKS ini.

 

Selain capres perempuan, Hidayat juga meminta agar perdebatan syarat sarjana
bagi capres dihentikan. "Ijazah tidak relevan. Kalau sudah diketahui
kualitasnya oleh rakyat jadi tidak perlu lagi mempersoalkan ijazah. Berilah
hak kepada rakyat siapa calon yang mereka inginkan," kata Hidayat yang
lagi-lagi disambut tepuk tangan peserta.

 

Amandemen

 

Dalam kesempatan ini, Hidayat juga menyoroti seputar amandemen UUD 1945.

 

"Saat ini bukan masanya lagi mengamanden pasal 29 tentang kebebasan beragama
tetapi masanya mengamalkan pasal tersebut. Pancasila dan UUD 1945 adalah
sesuatu yang tidak diperdebatkan lagi saat ini tetapi bagaimana Pancasila
dan UUD 1945 dilaksanakan sebaik-baiknya," terang dia. (aan/nrl)

 

Source :
http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/09/tgl/10/tim
e/180233/idnews/828087/idkanal/10

 

Kirim email ke