Sepertinya bait pada syair lagu Indonesia Raya di artikel itu salah ya...
Menurutku yang benar:

Marilah kita berseru, Indonesia bersatu
Hiduplah tanahku, hiduplah negeri
Bangsaku, rakyatku, semuanya

Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya,
Untuk Indonesia Raya
(atau untuk selama-lamanya?)


Bukan seperti ini:
Marilah kita Indonesia berseru Indonesia Bersatu
Hiduplah tanahku, hiduplah negeri
Bangsaku rakyatku semuanya
Bangunlah bangunlah badannya untuk Indonesia Raya.







  ----- Original Message ----- 
  From: [EMAIL PROTECTED] 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, September 11, 2007 12:46 PM
  Subject: Re: [mediacare] Naskah Lisya Anggraini: Lagu Kebangsaan


  Mudah2an penulis artikel ini juga hafal lagu Indonesia Raya, tidak 
  seperti yang dikutip dalam artikel tsb:

  Namun WR Supratman menuliskan bait-bait lagu Indonesia Raya dengan 
  penuh harap, makna dari kalimat pada lagu itu,mampu mengobarkan 
  semangat setiap yang menyanyikan akan hakikat setiap insane yang 
  mengaku sebangsa ini:

  “Marilah kita Indonesia berseru…Indonesia Bersatu
  Hiduplah tanahku, hiduplah negeri
  Bangsaku rakyatku semuanya…
  Bangunlah bangunlah badannya untuk Indonesia Raya.”

  --------------------------------
  Naskah Lisya Anggraini: Lagu Kebangsaan
  Posted by: "abdul kohar ibrahim" [EMAIL PROTECTED] kohar_be
  Date: Mon Sep 10, 2007 12:15 pm ((PDT))

  Lisya Anggraini: Lagu Kebangsaan
  http://16j42.multiply.com/reviews/
  Http://batampos.co.id/


  Lagu Kebangsaan


  Oleh: Lisya Anggraini



  Sekali pun sudah basah kuyup disiram satu ember air oleh kakak 
  senior, seorang mahasiswa tahun pertama itu, tetap tidak bisa memenuhi 
  permintaan seniornya. Ia hanya mampu menyanyikan Indonesia Raya sampai 
  pada pertengahan lagu saja dan stop. Ia tidak benar-benar ingat lagi. 
  Makanya ia tergagap. Meski pun beberapa mata teman-teman menatap 
  mahasiswa asal Tanjung Uma, Batam itu, dengan beragam makna.

  Cerita di atas, bukan fiksi melainkan kejadian, tepatnya lebih dari 
  20 tahun lalu di sebuah kampus Pekanbaru. 

  Kini, kejadian bermakna serupa ternyata juga terulang pada anak-anak 
  sekolah dan Kepulauan Riau. Seorang anggota DPRD Kepri, menceritakan 
  dengan perasaan prihatin, tentang anak-anak sekolah menengah dan 
  sekolah dasar di Natuna dan beberapa daerah Kepulauan Riau juga tak 
  mampu menyanyikan lagu Indonesia Raya, hingga tuntas.

  Mengejutkan lagi, teman saya di masa awal perkuliahan 20 tahun itu, 
  justru mampu menyanyikan “Majulah Singapura” secara tuntas. Meskipun 
  bias saja terulang hal serupa pada anak-anak sekarang ini. Karena 
  Majulah Singapura sering didengar dari televise yang ditonton mereka.

  Prihatin? Ya wajar sekali. Karena lagu Indonesia Raya, yang belakangan 
  ini menjadi perbincangan hangat dengan temuan ahli telematika Roy Suryo 
  dengan versi berbeda, adalah lagu kebangsaan. Yang mestinya tak hanya 
  hafal untuk dinyanyikan tapi diresapi maknanya. Meski pun lagu itu 
  tidak semelankolis Dealova dari Once, atau Kenangan Terindah dari 
  Samson.

  Namun WR Supratman menuliskan bait-bait lagu Indonesia Raya dengan 
  penuh harap, makna dari kalimat pada lagu itu,mampu mengobarkan 
  semangat setiap yang menyanyikan akan hakikat setiap insane yang 
  mengaku sebangsa ini:

  “Marilah kita Indonesia berseru…Indonesia Bersatu
  Hiduplah tanahku, hiduplah negeri
  Bangsaku rakyatku semuanya…
  Bangunlah bangunlah badannya untuk Indonesia Raya.”

  Tentunya ia sama sekali tak berharap hanya sekedar “dinyanyikan” 
  rutinitas formil di setiap upara 17 agustus setiap tahun, atau upacara 
  Senin di Sekolah, atau pada pengangkatan sumpah jabatan, atau pada 
  pembukaan seremonial lainnya.

  Namun, bagaimana makna lagu itu bisa dipahami, jika bila hafal saja 
  tidak? 

  Sekalipun memang ukuran pemaknaan rasa kebangsaan tak hanya melulu 
  diukur oleh hafal tidaknya lagu kebangsaan. Karena para pejuang yang 
  rela bertempur di masa perang dulu mana tahu lagu kebangsaan, toh, kita 
  belum punya kok! Atau para pejuang “kemerdekaan” masa kini, sebangsa 
  almarhum Thukul apakah mesti dites dulu bisa tidak menyanyikan 
  Indonesia Raya? Semuanya memang relative tak bisa diukur oleh satu sisi 
  saja.

  Namun, setidaknya untuk mengukur wawasan tentang kebangsaan ini, hafal 
  tidak lagu kebanggaan. Meskipun memang selain pengenalan sejarah bangsa 
  kita. Dari wawasan kebangsaan pula akan menyumbangkan dan menstimulasi 
  rasa kebangsaan yang kuat. 

  Lalu, apa yang melatari keadaan sedemikian? Indah tidaknya lagu kah? 
  Namun sejauh mana pengukuran keindahan sebuah lagu selain dari makna 
  yang dikandungnya? Apalagi maknanya justru menjadi pengobar semangat 
  juang bangsa!

  Tentu saja dari berbagai sebab yang melatarinya, informasi yang 
  diterima juga menjadi bagiannya. Dari penyerapan informasi, wawasan 
  akan terbangun. Dalam kaitan ini media tidak bisa menolak ikut memiliki 
  andil. Media penyiaran tepatnya. Mengingat karakter masyarakat kita 
  yang lebih menyukai budaya lisan yakni mendengar dan berbicara 
  kebanding membaca dan menulis ini.

  Selain itu memang media penyiaran sangat mudah dipahami apalagi 
  diengkapi dengan visual. Sehingga penyampaian nilai akan sangat mudah. 
  Terdengar telinga, terpandang mata, terserap di hati dan pikiran. 
  Apalagi disampaikan terus menerus, nilai yang disampaikan akan 
  terbentuk dan tak jarang mengkristal. Karena itu pula media dipahami 
  tidak, saja mampu membentuk opini public juga membentuk pola piker, 
  apalagi wawasan.

  Mari kita melirik bagaimana realitas perkembangan asupan infromasi 
  yang diterima oleh masyarakat kita di Kepulauan ini. Di Natuna, hanya 
  ada satu RRI sebagai media penyiaran public. Sedangkan televise siaran 
  Jakarta baru bisa ditontotn jika memiliki antena parabola, yang 
  harganya lumayan merogoh kocek. Namun, siaran televise Singapura 
  maupun Malaysia, sangat mudah mengisi layar kaca televise cukup dengan 
  antena sederhana saja. 

  Di Lingga? Ah, sama saja. Di Dabo Singkep? Tak jauh beda. Di Karimun? 
  Lumayan lah. Namun televise negeri seberang lebih jelas dan jernih di 
  layar kaca kebanding siaran televise dari dalam negeri Jakarta. Dan 
  belakangan ini sayup-sayup siaran televise local mulai menghiasi layar 
  kaca televise di sana.

  Di Tanjungpinang dan Batam, segala siaran bisa dinikmati. Chanel 
  televise dari Jakarta, juga televisi local. Namun, siaran televise 
  seberang ternyata jauh lebih menggaet pemirsa. Karena sajian yang lebih 
  actual, menarik, dan berisi serta lebih jernih di layar kaca kebanding 
  televise local, maupun televise anak negeri dari Jakarta.

  Dari asupan informasi didominasi oleh ‘negeri seberang’ tentu sajalah 
  kita-kita di kepulauan ini lebih mengenal Singapura dan Indonesia 
  kebanding Indonesia sendiri. Begitu pula lagu kebangsaan yang hanya 
  sesekali di dengar bagi anak sekolah. Apalagi bagi yang bukan anak 
  sekolah? Atau yang bukan bersentuhan dengan acara formal. 
  Sedangkan lagu kebangsaan negeri seberang sering didengar setiap 
  tayangan televise berakhir, atau lewat jingle iklan televise seberang. 

  Pekerjaan besar memang bagi setiap kita. Mari kita cek anak-anak di 
  rumah, apakah menjadi bagian dari yang tak hafal lagu kebangsaan? Atau 
  malah diri sendiri? Iya, mari kita mengacar diri.***



   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition. 
  Version: 7.5.485 / Virus Database: 269.13.14/999 - Release Date: 10/09/2007 
17:43

Kirim email ke